Beranda » Kajian » Tentang Islamisasi, Deislamisasi, dan Penulisan Sejarah Nusantara

Tentang Islamisasi, Deislamisasi, dan Penulisan Sejarah Nusantara

Oleh : Alwi Alatas

Proses masuknya Islam ke Nusantara telah lama menjadi perbincangan di kalangan sejarawan dan akademisi. Berbagai teori tentang hal ini, mulai dari asal datangnya Islam ke Nusantara, waktu kedatangannya, orang-orang yang membawanya, serta beberapa isu mendasar lainnya telah dirangkum dan dikritisi dengan sangat baik oleh Dr. Syamsuddin Arif (2012) di dalam artikelnya di Jurnal ISLAMIA, “Islam di Nusantara: Historiografi dan Metodologi.” Azyumardi Azra (1994) juga membuat rangkuman teori semacam ini dalam pendahuluan bukunya Jaringan Ulama. Dalam hal ini, Syamsuddin Arif mengunjungi kembali berbagai pendapat yang ada itu pada sumber-sumbernya dan menganalisa serta mengkritisinya dengan sudat pandang yang lebih tegas, di antaranya dengan memanfaatkan kajian S.M. Naquib al-Attas di dalam karya terbarunya, Historical fact and Fiction.

Kajian tentang masalah ini memerlukan diskusi yang panjang dan mendalam yang tidak dalam kapasitas saya untuk menuangkannya di dalam artikel yang singkat ini. Melalui artikel ini, kami hanya ingin mendiskusikan beberapa hal seperti yang tersebut di dalam judul artikel ini.

Di antara hal yang penting diperhatikan berkenaan dengan berbagai pendapat tentang proses masuknya Islam ke Nusantara adalah bahwa masuknya Islam ke wilayah ini tidak dibentuk oleh sebuah faktor tunggal, tetapi banyak faktor yang saling mempengaruhi. Ketika dikatakan bahwa Islam datang dari India, Benggala, Persia, Cina, ataupun dari Arab, para akademisi tidak bermaksud mengatakan bahwa salah satu tempat itu sebagai satu-satunya tempat asal Islam masuk ke Indonesia. Namun, ia lebih dimaksudkan sebagai asal ‘yang pertama’ atau ‘yang paling dominan’. Syamsuddin Arif (2012: 21), misalnya, mengutip Naquib Al-Attas yang ketika memberikan pendapatnya bahwa Islam berasal dari Arab mengatakan, “I am not denying that there had been Indian and Persian influence involved in the Process of Islamization in the Archipelago ….”

Berbagai tempat tersebut pada dasarnya ikut memberikan kontribusi dalam proses Islamisasi Nusantara yang kadar dan bekasnya berbeda-beda pada kurun waktu serta lokalitas yang ada di Nusantara. Adanya pengaruh dari tempat-tempat ini disebabkan semua wilayah ini terbentang pada suatu jalur pelayaran dan perdagangan yang sangat penting, yaitu Samudera Hindia, atau yang disebut oleh para pelaut Arab jaman dahulu sebagai al-Bahr al-Hindi. Samudera Hindia yang dimaksudkan di sini bukan hanya merupakan sebuah jalur pelayaran tetapi juga sebuah kategori geografis dan peradaban, sebuah sistem atau ‘inter-regional arena’ yang terentang antara Laut Arab (Arabian Sea) dan Laut Cina Selatan (South China Sea), atau mencakup beberapa regional yang sekarang dikenal sebagai Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara (Sugata Bose, 2002: 368-369).

Samudera Hindia sebagai jalur pelayaran dan perdagangan sudah ada sejak sebelum munculnya Islam (Nafis Ahmad, 1982: 5), mencapai puncaknya bersama dengan tumbuhnya peradaban Islam, dan masih menjadi jalur yang penting hingga awal abad ke-20, ketika kekuatan kolonial Barat telah cukup lama masuk ke Samudera Hindia dan mendeformasi kategori atau sistem ini. Sebenarnya, Islam-lah yang telah membentuk, memberi warna dominan, dan mengikat Samudera Hindia, beserta kota-kota yang tersebar di antaranya, menjadi suatu kategori dan sistem yang tersendiri serta memberikan ruh kepadanya.

Walaupun batas-batas waktu dan wilayahnya sulit untuk ditetapkan secara pasti, dan karakteristiknya mengalami proses yang berbeda dan dinamis pada periodisasi dan regional yang berbeda, Samudera Hindia sebagai sebuah kategori atau sistem setidaknya terentang pada satu milenium, sejak abad ke-8 hingga ke-18, dan pada puncaknya, di abad ke-15, terbentang mulai dari pantai Mozambik di Afrika Timur hingga ke Maluku di Nusantara bagian Timur. “Pada saat yang sama,” tulis Sugata Bose, “para dai sufi yang menyebar dari kota-kota pelabuhan ke daerah pertanian di pedalaman menciptakan sebuah dunia dengan suasana dan kepekaan kultural-religius yang sama.” Semua itu disatukan dan diikat oleh pelayaran dan pola-pola migrasi, kesamaan pelabuhan, kapal-kapal, dan angin musim, persebaran produk dan aktivitas ekonomi, serta yang tidak kalah pentingnya persebaran Islam di kawasan ini serta ibadah haji yang ikut menjadi denyut nadinya (Bose, 2002: 371 & 375).

Nusantara berada di jalur ini dan semua tempat yang disebut sebagai asal Islam Nusantara, yaitu, Arab, Persia, India, dan Cina, juga terletak di jalur ini. Kota-kota pantai di Nusantara dengan sendirinya menjadi tempat-tempat persinggahan yang penting bagi para pelaut, pedagang, dan juga kemudian para da’i Islam. Walaupun tempat-tempat tersebut di atas ikut memberikan pengaruh bagi masuknya Islam ke Nusantara, tetapi upaya para akademisi untuk menemukan tempat asal yang paling dominan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Karena hal ini akan memberi implikasi pada karakteristik Islam di Nusantara.

Teori yang mengatakan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Arab perlu mendapat perhatian utama karena beberapa alasan. Pertama, Jazirah Arab dan Nusantara berada pada sistem dan kesatuan geografis yang sama sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yaitu Samudera Hindia. Keduanya tidak terletak pada sistem terpisah yang perlu dihubungkan atau diperantarakan oleh titik geografis lainnya. Kedua, Jazirah Arab merupakan sumber bagi tersebarnya Islam ke semua tempat yang berada di jalur itu. Muslim dari India, Persia, dan Cina, yang tiba di Nusantara adalah mereka yang Islamnya bersumber di Jazirah Arab dan yang interaksinya dengan Muslim dari Jazirah terus berjalan dan berkembang. Ketiga, jarak yang jauh antara Jazirah Arab dan Nusantara kurang memungkinkan terjadinya pelayaran yang langsung di antara keduanya, tetapi juga tidak membuat hubungan keduanya terputus. Kapal-kapal Arab tidak berhenti di Persia, India, atau Teluk Benggala semata, melainkan menjadikan tempat-tempat ini sebagai persinggahan dan bahkan sebagai tempat menetap, sehingga sebagian orang yang datang ke Nusantara dari Persia, India, atau Bengal pada dasarnya orang Arab juga atau keturunan campuran Arab dari penduduk lokal di tempat-tempat tadi. Sekali lagi, ini tidak untuk menegasikan kehadiran dan peranan orang-orang India, Persia, atau Cina dalam proses Islam di Nusantara. Alasan-alasan ini membuat Jazirah Arab tidak mungkin diabaikan sebagai sumber utama Islam di Nusantara.

Telah adanya jalur ini sejak sebelum kemunculan Islam juga membuat pendapat yang mengatakan bahwa Islam telah mulai masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 masehi atau abad pertama hijriah lebih bisa diterima, walaupun intensitas pelayaran dari Jazirah ke Nusantara masih beberapa abad lagi lamanya sebelum mencapai puncak keramaiannya. Selain itu, ada beberapa sumber sejarah yang menguatkan pendapat bahwa orang-orang dari Jazirah memang telah tiba di tempat ini pada kurun pertama hijriah. Namun tentu saja Islamisasi Nusantara merupakan sebuah proses yang panjang sehingga ia akhirnya menjadi sistem hidup dan cara pandang masyarakat Nusantara. Ia merupakan proses yang berlangsung lama, tetapi pada saat yang sama juga memberi pengaruh yang kuat dan bertahan lama. Proses ini terbentuk dan menguat bersama dengan tumbuh dan berkembangnya Islam di Samudera Hindia.

Kategori atau sistem ini, bersama dengan proses yang ada di dalamnya, mulai terganggu dan kehilangan harmoninya dengan masuknya kekuatan kolonial ke Nusantara dan tempat-tempat lainnya di Samudera Hindia. Pada abad ke-16 dan 17, orang-orang Eropa yang datang ke wilayah ini masih melebur ke dalam sistem yang ada di Samudera Hindia. Tetapi pada abad berikutnya ketika kekuatan kolonial semakin kuat mencengkeram sebagian besar wilayah ini, Samudera Hindia sebagai satu kesatuan sistem mengalami kekacauan (disruption), menjadi pecah (ruptured), runtuh (crumbling), dan musnah (destroyed) (Bose, 2002: 375-376), atau mungkin bisa disebut juga sebagai mengalami deformasi setelah era formasi yang panjang. Bagaimanapun, peranan pentingnya sebagai jalur pelayaran serta beberapa karakteristik dari sistem ini masih bertahan hingga ke masa-masa yang berikutnya.

Untuk mengokohkan kedudukannya, kekuasaan kolonial kemudian secara aktif berusaha melakukan proses de-Islamisasi, proses yang tidak melulu identik dengan Kristenisasi, tetapi juga dengan mendekatkan para penganutnya pada kebudayaan pra-Islam. Ini seperti yang disebutkan Adian Husaini dalam artikelnya “Mencari Pahlawan Wanita” (insistnet.com) tentang perkataan seorang orientalis: “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut.”

Selain mengusung peradaban sebelum Islam dan mengecilkan peranan Islam, proses de-Islamisasi ini juga dilakukan melalui pendidikan sekuler dan kebaratan yang menjauhkan kelas birokrat dan terdidik dari nilai-nilai Islam. Proses ini berlangsung sejak abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20 ketika kebijakan kolonial Belanda diarahkan pada ‘… development of the land and the people of this region towards self government under Dutch guidance and on Western lines’ (Willem Otterspeer, 1989: 204).

Kebijakan pendidikan sekuler Belanda telah menciptakan jurang pemisah antara kelompok priyayi yang mengisi jabatan publik dan kelompok santri yang menjadi penggerak fungsi-fungsi keagamaan. Para ulama cenderung mencurigai kaum priyayi karena pendidikan Barat yang mereka terima serta kedekatan mereka dengan birokrasi kolonial. Sementara itu, kaum priyayi sendiri semakin terasing dari Islam, walaupun mereka menganggap dirinya Muslim, karena semakin terjauhkannya mereka dari lembaga-lembaga pendidikan Islam. Mark Woodward (2011: 53) menyebutkan bahwa dalam wawancaranya dengan beberapa kalangan tua priyayi di tahun 1970-an mereka menjelaskan betapa “sebagai pemuda mereka telah secara aktif dipatahkan semangatnya, kalau tidak dilarang, untuk menghadiri kegiatan-kegiatan masjid.” Hal ini membuat Woodward menyimpulkan: “In its final generation, the Dutch colonial policy had begun to create the Indonesia it desired: one in which Islam was either isolated or domesticated.”

Proses de-Islamisasi ini, atau proses isolasi dan domestifikasi Islam, seperti yang digambarkan Woodward, masih terus berlangsung hingga sekarang. Kendati demikian, Islam bukan sesuatu yang mudah dihilangkan atau dikucilkan dari Nusantara. Dan tidak tertutup kemungkinan ia akan kembali menjadi bagian penting dari sejarah Nusantara di masa mendatang. Tapi ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh kaum Muslimin untuk menuju kesana. Pertama, mereka perlu menjadi bagian penting dari sejarah. Kedua, mereka perlu menjadi bagian penting dari penulisan sejarah. Yang pertama dilakukan dengan cara mengisi peran-peran penting peradaban di tengah-tengah masyarakat Nusantara. Yang kedua dilakukan dengan ikut andil dalam penelitian sejarah, atau setidaknya menjadi saksi atas sejarah jamannya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Kuala Lumpur,
Ahad, 19 Dzulhijjah 1433H/ 4 November 2012 

* Tulisan ini merupakan versi perbaikan dari artikel yang dipresentasikan pada Seminar dan Bedah Jurnal Islamia Vol. 7, yang diselenggarakan oleh Islamic Studies Forum for Indonesia (ISFI), Sabtu, 3 November 2012, IIUM, Gombak, Selangor, Malaysia

________________________
Daftar Pustaka

Ahmad, Nafis. Muslim Contribution to Geography. New Delhi: Adam Publishers. 1982.

Arif, Syamsuddin. “Islam di Nusantara: Historiografi dan Metodologi” Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, Vol. VII No. 2. April 2012. 

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia. Bandung: Mizan. 1994.

Bose, Sugata. “Space and Time on the Indian Ocean Rim: Theory and History,” Leila Tarazi Fawaz and C.A. Bayly (eds.). Modernity and Culture From the Mediterranean to the Indian Ocean. hlm. 365-388. New York: Columbia University Press. 2002. 

Husaini, Adian. “MencariPahlawanWanita,” http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=435%3Amencari-pahlawan-wanita&catid=27%3Amengenal-ahmadiyah&Itemid=28

Otterspeer, Willem (ed.). Leiden Oriental Connection, 1850-1940. Leiden: E.J. Brill. 1989.

Woodward, Mark. Java, Indonesia and Islam. Dordrecht: Springer. 2011.

About these ads

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d bloggers like this: