ISFI online

Beranda » Kajian » Ibnu ‘Arabi dan Wahdatul Wujud

Ibnu ‘Arabi dan Wahdatul Wujud

oleh Wafi Muhaimin ( Mahasiswa Program Master IRKH, IIUM)

Jagad raya kaum sufi pernah digemparkan dengan perkataan “Ana al-Haq” oleh tokoh penganut hulul atau tajalli termasyhur, al-Hallaj, yang menyebabkan ia harus tunduk di tiang gantungan. Inipun diikuti oleh Syekh Siti Jenar dengan “Manunggaling kawula gusti”-nya yang telah menggegerkan kerajaan demak sehingga ia harus menyerah untuk di eksekusi. Dan banyak lagi rentetan para tokoh sufi yang mengalami “Sad Ending” dalam mempertahankan idealisme sebuah keyakinan, walau tak separah dua tokoh di atas. Pantheisme itulah ajaran yang mereka fahami. Adalah sang Muhyiddin (yang menghidupkan agama), Ibnu Arabi, mungkin salah satu tokoh yang mujur sehingga ia tidak berakhir tragis walaupun ia dikenal dengan konsep Wahdatul Wujud-nya. Hal ini mungkin karena ia adalah tokoh sufi besar yang pakar merangkai kata-kata dalam bentuk-bentuk simbol sehingga sulit difahami khususnya oleh orang-orang awam. Simbol-simbol itu terlihat sekali hampir dalam semua karya-karyanya, dan inilah kesulitan paling utama dalam membaca karya-karya Ibnu Arabi sehingga tidak kurang dari delapan abad para pembaca banyak yang mengundurkan diri karena tidak mampu memahami arti yang sebenarnya. Oleh karena itu, kita mungkin akan sering mengernyitkan dahi dalam menyusuri ide-ide besarnya, sebuah lompatan pemikiran yang imajinatif dan membingungkan karena didukung oleh terma-terma paradoksikal yang digunakan sehingga banyak tokoh-tokoh setelahnya yang gagal menginterpretasikan doktrin tasawufnya dengan baik. Fatwapun bermunculan, antara yang pro dan yang kontra, bahkan tidak tanggung-tanggung Ibnu Taimiyyah pun turun tangan untuk men-takfir-kan. Pada akhirnya, Ibnu Arabi mendapatkan banyak penghargaan, mulai dari gelar Syaikh al-Akbar, Muhyiddin, sufi liberal yang mengusung pluralisme agama, sampai pada lebel imam kafir dan sesat. Siapakah sebenarnya Ibnu Arabi, dan bagaimana akrobat pemikirannya…?

 1. Sekilas tentang Ibnu ‘Arabi

Ia adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Ali Ibn Arabi , digelari Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi. Lahir di Mursia, Andalusia, Spanyol, hari senin 17 Ramadhan tahun 560 H/28 Juli 1165 M, dan meninggal di Damaskus, Syria, tahun 638 H/1240 M. Ia adalah sufi yang sangat besar pengaruhnya dalam kajian sufisme hingga saat ini. Ia telah menulis 289 buku dan risalah. Bahkan menurut Abdurrahman Jami, ia telah menulis 500 buku dan risalah. Sedangkan menurut al-Sya’rani, karya Ibn Arabi berjumlah 400 buah. Adapun kitab termasyhur yang ia tulis adalah : Ruh al-Quds, Tarjuman al-Asywaq wa Abrazuha, Futuhat al-Makkiyah dan Fushus al-Hikam. Menurut pengakuan Ibn Arabi sendiri, pada sepuluh akhir bulan muharram tahun 627 H., maha karyanya “Fushus al-Hikam” yang mentahbiskan ia sebagai tokoh Wahdatul Wujud terkemuka di jagad sufistik lahir dari pertemuannya dengan nabi Muhammad melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut, Nabi mengatakan “Ini kitab Fushus Al Hikam. Ambil dan sebarkan kepada umat manusia agar mereka mengambil manfaat darinya.” Berdasarkan cerita itu, tampak bahwa Ibnu Arabi meyakini sepenuhnya bahwa apa yang ia tuliskan dalam kitab tersebut merupakan ilham ilahi. Ia hanyalah mesin pencetak bagi kitab Fushus yang diberikan Nabi tanpa mengurangi maupun menambah sedikitpun . Menurut Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, salah seorang ahli Ibn Arabi di Indonesia, kitab Fushus al-Hikam ditulis pada masa kematangan intelektual Ibnu Arabi. Saat itu, ia berumur kira-kira 67 tahun atau 10 tahun sebelum wafatnya, .

2. Apa Wahdatul Wujud itu?

Dalam doktrin tasawwuf, wahdatul wujud adalah sebuah akidah dimana tidak ada yang wujud di dunia ini kecuali Allah. Ahli tasawwuf dalam mendeskripsikan wahdatul wujud terbagi menjadi dua golongan: Golongan pertama, berpandangan bahwa Allah adalah ruh sedangkan alam ini adalah jisim terhadap ruh. Oleh karena itu, Allah adalah segala sesuatu. Golongan kedua, berpandangan bahwa segala yang wujud selain wujud Allah bukanlah bentuk yang nyata dalam keberadaannya (hanya hayalan). Oleh karena itu, segala sesuatu adalah Allah. Inilah contoh ajaran wahdatul wujud yang termaktub dalam sebuah sya’ir: لست أنا ولسته # فمن أنا من هو ـ فيا هو قل أنت أنا # ويا أنا قل أنت هو ـ ما في الوجود غيرنا # أنا وهو وهو وهو .

3. Pendapat yang mengkafirkan Ibnu Arabi

Dibawah ini bukti-bukti kesesatan Ibnu Arabi Menurut ulama yang mengkafirkan: • Membaca kitab Fushus al-hikam-nya, disana akan jelas bahwa tiada kekafiran yang melebihi kekafirannya sepanjang zaman, dimana dia membangun doktrin sufismenya dengan akidah yang kotor yaitu wahdatul wujud, dalam akidah ini setiap yang tampak di langit, di bumi, jin, manusia, malaikat, hewan, dan tumbuh-tumbuhan tiada lain adalah Allah. Setiap yang wujud adalah zat wujud-Nya. Tiada pencipta, tiada yang diciptakan, tiada tuhan tiada hamba, akan tetapi pencipta adalah zat yang di cipta, hamba adalah zat tuhan dan sebaliknya, sesungguhnya raja dan syaitan, surga dan neraka, suci dan najis, dan setiap apa yang bertentangan dan berkebalikan itu tiada lain adalah zat satu yang bersifatan dengan segala sifat-sifat wujud dan itulah zat Allah yang satu yang tiada menyekutuinya. • Ia menganggap dirinya lebih utama dari semua manusia termasuk para nabi dan rasul. Dia beranggapan bahwa dia adalah penutup para wali sebagaimana nabi Muhammad sebagai penutup para nabi, bahwa menurutnya wali lebih utama dari pada nabi karena wali mendapatkan mandat dan ilmu langsung dari Allah sedang nabi masih menggunakan perantara malaikat. Alasannya orang yang mengambil tanpa wasilah lebih baik dari pada mengambil dengan menggunakan wasilah. • Sesungguhnya Allah tidak suci (lepas) dari sesuatu, karena segala sesuatu adalah zatnya, dan barang siapa yang melepaskan dari yang wujud berarti dia bodoh tidak mengenal Allah. • Hamba adalah Tuhan. Dan lain sebagainya. Dan untuk lebih jelasnya, silahkah rujuk langsung kitab Fushus Al-Hikam dan Mashra’ al-Tasaw­wuf.

4. Komentar Ibnu Taimiyyah:

ketika Ibnu Taimiyyah di tanya perihal kitab Fushus al-Hikam-nya Ibnu Arabi, beliau menjawab:” “فإنه كفر باطناً وظاهراً , وباطنه أقبح من ظاهرSelanjutnya, dalam Majmu’ah Fatawi-nya, Ibnu Taimiyyah memasukkan Ibnu Arabi ke dalam golongan Syaitaniyyah yang menentang rasul, memuji orang kafir, dan mencela para nabi seperti nabi Nuh, nabi Musa dan nabi Harun.

5. Komentar para pembela Ibnu Arabi

Seringkali orang menganggap bahwa ajaran tasawwuf itu sesat dikarenakan tidak di ajarkan oleh rasulullah, hal ini mudah sekali untuk disanggah secara logika karena sesuatu yang tidak sampai pada kita belum tentu itu tidak terjadi pada masa rasulullah. Dapat dibayangkan, rasulullah di utus kurang lebih 23 tahun, dan andaikan hadits, baik yang shaheh maupun yang daif dikumpulkan, mungkin hanya dalam waktu satu bulan bisa selesai untuk dibaca. Adapun dalil naqli-nya, ada riwayat dari Abi Hurairah dalam shahehain yang berbunya: أخذت عن رسول الله وعاءين فأما وعاء فبثثته بين الناس وأما الأخر لو بثثته لقطع مني هذا البلعوم Dan masih banyak riwayat-riwayat yang lain. Sebagian ahli ilmu termasuk ahli fikihnya madzhab Syafi’ie, Maliki, dan Hanafi mengatakan bahwa orang-orang sufi itu termasuk para pembesar wali-wali Allah yang bijaksana (termasuk Ibnu Arabi). Dikatakan bahwa orang-orang sufi itu mempunyai istilah-istilah tersendiri di dalam ilmu mereka yang tidak bisa difahami kecuali oleh orang yang masuk di dalam tariqah mereka, mengetahui ilmunya dan juga istilah-istilahnya. Sebagian ahli ilmu mengatakan:” kami meyakini keagungan mereka tapi kami mengharamkan untuk membaca kitab-kitab mereka. Disamping itu, ada banyak ungkapan Ibnu Arabi yang diselewengkan sehingga membahayakannya. Inilah contoh penyelewengan tersebut: العبد رب والرب عبد # ياليت شعري من المكلف ـــ إن قلت عبد فذاك رب # أو قلت رب أنى يكلف Padahal teks yang tertulis dalam beberapa kitabnya (diantaranya: Mawaqi’ an-Nujum, kitab al-Masail, al-Futuhat al-Makkiyah) berbunyi: العبد حق والرب حق # ياليت شعري من المكلف ـــ إن قلت عبد فذاك ميت # أو قلت رب أنى يكلف .

6. Penutup

Dari keterbatasan penulis dalam membaca pemikiran Ibnu Arabi yang kontroversial dan melawan mainstream, setidaknya ada tiga pendapat terhadap Ibnu Arabi yang dapat penulis simpulkan. Satu golongan berpendapat bahwa Ibnu Arabi adalah orang yang infidel (kafir). Sebagian lain menganggapnya sebagai orang yang mencapai makrifat, sementara golongan terakhir bersikap netral atau abstain.

 

* Disampaikan pada diskusi rabuan ISFI.

** Sumber gambar

 


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: