ISFI online

Beranda » Hikmah » Kuda Lelaki

Kuda Lelaki

“Kuda itu, bagi seorang lelaki, bisa menjadi sitrun (penyembunyi), bisa juga ajrun (pahala), dan bisa juga wizrun (dosa). “ demikian jawab Nabi kepada seorang yang bertanya tentang kuda yang ditambat di muka pintu rumah.

Jawaban Nabi yang ringkas dan sarat makna ini memang menarik. Dalam kalimat yang begitu sederhana ini paling tidak ada empat hal yang bisa kita kaji, yaitu kuda, lelaki, penutup, pahala dan dosa. Di sini saya akan coba membahasnya walaupun mungkin tidak secara begitu mendalam dan sistematis layaknya sebuah esai.

Pertanyaan menariknya, kenapa yang ditanyakan kuda? Apa hubungannya dengan lelaki? Apakah dia istimewa dibandingkan hewan peliharaan lainya? jawabannya adalah ‘ia’. Kuda memang beda dan istemewa jika dibandingkan hewan peliharaan lainnya, seperti onta, lembu, domba, apalagi keledai. Kuda, dalam budaya arab, bahkan dalam budaya masyarakat dahulu secara umum adalah hewan kebanggaan, simbol keperkasaan, pakaian seorang kesatria dan merupakan sebuah indikator status sosial seseorang. Dihubungkan dengan lelaki karena lelakilah yang biasa menunggang kuda. Dan antara kepemilkian kuda, kemampuan menunggang dan nama baik sebuah keluarga/suku, ada hubungan yang erat. Nilai yang tidak dimiliki jika disandangkan kepada perempuan.

Ketika ditanya tentang kuda ternyata Nabi tidak menjawab bahwa kuda itu adalah lambang keperkasaan dan status sosial seseorang. Nabi paham bahwa pandangan orang-orang saat itu adalah apabila seseorang memiliki kuda maka dia termasuk orang yang berada. Atau setidaknya ada jiwa kesatria bagi pemiliknya, karena memang tidak sembarang orang bisa memiliki kuda. Tapi lihatlah jawaban super bijak dari Nabi di atas tadi.

Kapan ia menjadi sitr(penutup/penyembunyi)?  Jika ia menambatkannya dengan niat agar tidak disangka sebagai orang miskin, jawab Nabi. Dengan menambatkan kuda di muka pintunya, otomatis orang akan menyangkanya sebagai orang yang “punya”. Nabi memuji dan mengagumi orang seperti ini. Bahkan di dalam Alquran disebutkan bahwa ada sebagian sahabat yang disangka sebagai orang yang kaya lantran sifat iffah (menyembunyikan kesusahan) yang menghiasi pribadi mereka. Walaupun mereka kurang mampu, tapi itu tidak ditunjukkanya dengan penampilan keseharian mereka, apatah lagi sampai mengemis, meminta-minta kepada orang lain. Di pagi hari mereka keluar dari rumah dengan muka berseri-seri, walaupun tidak punya apa-apa, dan kembali ke rumah mereka dengan hasil. Mereka bekerja.

Kuda menjadi ajr, idza robatoha fi sabilillah ay a’addaha liljihad. Kuda yang ditambat sebagai persiapan perang dalam membela dan menyebarkan Islam, itulah kuda yang menjadi sumber pahala bagi empunya. Lebih dahsyat dari itu, dijelaskan bahwa setiap satu rumput yang dimakan kuda itu akan menambah deposito pahala bagi pemiliknya yang telah menjadikan kudanya bagian dari kontribusinya untuk Islam. Itu baru rumput yand dimakan oleh kuda. Bernilai pahala. Padahal ia belum melakukan apa-apa dengan kudanya. Bagaimana setiap langkah yang diayunkan oleh kuda itu? Bagaimana kalau dengan perantara kuda itu kemenangan diperoleh? Bayangkan betapa banyak pahala Allah. Bayangkan betapa Allah sayang dengan kita.

Terakhir, ternyata kuda juga bisa menjadi sebab bertambahnya dosa seseorang. Yaitu kuda yang ditambatkan karena ingin berbangga-bangga, riya dan menyebabkan permusuhan bagi orang muslim lain. Artinya, dengan ia menambatkan kudanya, ia ingin menghasud muslim lain, seolah-olah ingin berkata hanya dia saja yang mampu. Inilah yang dimaksud dengan menyebabkan permusuhan. Kalau dengan orang luar Islam? Jawabnya boleh saja. Seseorang harus menampakkan bahwa dengan Islam dia bisa sejahtera, perkasa dan berwibawa.

***

Kuda sebagai kendaraan, lambang keperkasaan dan simbol status sosial, demikianlah yang diakui dan seakan menjadi kesepakatan masyarakat dahulu. Bahkan hingga zaman sekarang. Tidak banyak orang yang memiliki kuda, pun mengendarainya.

Di zaman sekarang, kuda sudah berubah bentuknya menjadi kendaraan-kendaraan bermesin. Apakah itu motor, mobil, rumah, laptop, mobile phone atau properti lainnya yang berpeluang memilki tiga sisi tadi. Yaitu: 1- Untuk menyembunyikan kemiskinan, sehingga tidak memancing iba orang lain dan bisa bekerja dengan leluasa. 2- Sebagai sumber pahala, jika digunakan untuk ketaatan, mencari rezki yang halal atau diinfakkan untuk program-program yang bertujuan bagi pengembangan Islam. 3- Dosa, jika untuk riya’, berbangga-bangga, mencari muka, meningkatkan status sosial, dan maksud-maksud yang hanya bersifat kepentingan pribadi dan menciptakan sekat-sekat dalam masyarakat.

Maka, cermatlah dengan kendaraan/alat anda. Jangan sampai ia menjadi sumber dosa bagi anda sendiri. Wallahu ‘alam

 

* ditulis oleh Reno Ismanto (Mahasiswa Program Master IRKH, IIUM)

** sumber gambar


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: