ISFI online

Beranda » Ringkasan Talk » Peningkatan Pemahaman Agama dan Fenomena Agama Baru

Peningkatan Pemahaman Agama dan Fenomena Agama Baru

Ringkasan atas kajian kitab Ad-Din, yang disampaikan setiap hari selasa oleh Ust. Dr. Anis Malik Thoha

Memahami pengertian “agama” melalui pendekatan konvensional –contohnya ketika orang berbicara tentang agama lalu kemudian terbayang dikepala mereka bahwa agama itu “Islam, Kristen, budha, dll- akan menyebabkan kebekuan cara berpikir (umat Islam khususnya) yang kemudian menghilangkan nalar kritis ketika mereka berhadapan dengan ideologi-ideologi baru yang lebih dahsyat dari agama “yang sudah terkonsep dalam pikiran umat Islam”.

Pemahaman tentang agama haruslah dibuka secara lebar, (oleh karena itu Dr. Darraz dalam kitab ad-din misalnya, setelah menjelaskan sejarah perkembangan agama mulai dari zaman fir’aun sampai Islam, beliau mengupas secara mendalam tentang definisi agama , hal ini juga dilakukan Prof al-Attas. barangkali usaha ini dilakukan agar jangan memahami makna agama secara sempit ).

diantara pemahaman itu meliputi ruang lingkup ketuhanan, ibadah-ritual, ketaatan,penyerahan diri dan ketundukan kepada Yang Memerintah. Dan bahwa dalam agama juga ada pendakwah, kitab suci (teks-teks yang dianggap suci), serta symbol-simbol yang dihormati.

Dengan memahami agama secara luas –tidak konvensional- akan memancing umat islam untuk merenung dan berpikir secara mendalam, mengenai ideologi-ideologi baru yang ditawarkan kepada umat islam.

Kalaulah mau direnungkan, bahwa ideology-ideologi baru seperti secularism, liberalism, pluralism, Feminisme, Humanisme bahkan Nasionalisme sekalipun sebenarnya adalah agama (ada yang menyebut Pseudo Religion, Semi Religion, Quasi Religion).

Jika dalam agama konvensional ada prinsip-prinsip pokok, ritual, pendakwah, teks-teks dan symbol-simbol yang dianggap suci maka itu juga dimiliki juga oleh ideologi baru.

Pengusung Humanisme –misalnya- mereka mempunyai prinsip pokok yaitu “Manusia adalah central segala-galanya”, berdasarkan prinsip ini mereka berusaha untuk menilai sesuatu berdasarkan “apa yang menjadi kesepakatan manusia”, oleh karena itu ketika agama mencoba mengatur atau mengotak-atik manusia (misalnya penerapan hukum berdasarkan perspektif agama) mereka marah, sebaliknya, kalau tuhan yang di otak atik (misalnya merubah hukum tuhan, mengatakan tuhan tidak adil) mereka tidak marah. Ideology yang mereka bawa ini sebenarnya merupakan suatu usaha untuk menggantikan posisi agama, dan akhirnya humanisme itu sendiri adalah agama. dan sebenarnya, mereka juga punya kitab suci yaitu “Universal Declaration of Human Right”.

Liberalisme –misalnya- mereka memiliki prinsip-prinsip pokok yaitu kebebasan, yang jika prinsip-prinsip “kebebasan versi mereka” itu dilanggar maka mereka akan marah –sama seperti humanism-, oleh karena itu mereka selalu curiga jika ada “agama tertentu” yang mencoba mengekang kebebasan. ini secara tak langsung –sebenar nya- usaha mereka mencoba menukar “nilai” yang dibawa agama dengan nilai “kebebasan versi mereka”. Dan nilai yang mereka usung inilah yang dinamakan agama.

Contoh lain, dibawah alam tak sadar, manusia sudah menganggap nasionalisme sebagai sebuah agama. Karena dalam nasionalisme itu sendiri memiliki prinsip-prinsip pokok, ritual, dan symbol-simbol suci. Dalam upacara bendera misalnya, pembacaan teks pancasila itu wajib dan bahkan tata cara membacanya itu diatur sedemikian rupa, bahkan mengalahkan tatacara membaca al-Qur’an, anda harus tegak rapi dan tak boleh tertawa serta harus khusu’ ketika membaca teks pancasila kalau tidak anda akan dihukum guru.

Warga Negara yang baik akan marah jika ada orang lain mencoba menginjak bendera merah putih dihadapannya bahkan rela berperang. Jadi, secara tak langsung bendera dianggap simbol suci. Ritual-ritual serta pensucian symbol yang ada pada rasa nasionalisme ini dapat dikatakan sebagai agama.

Anggapan bahwa nasionalisme –dengan prinsip-prinsip serta ritualnya- adalah sebuah agama merupakan pengembangan teori yang dibawa oleh Robert N Bellah dalam papernya “Civil Religion in Amerika”. Di Amerika Teks Proklamasi kemerdekaan Amerika, pidato-pidato kenegaraan presiden, pidato Abraham Linclon, dan Undang-undang Negara dianggap sebagai kitab suci. Inilah yang kemudian yang RN bellah sebut sebagai agama civil. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa agama civil ini lebih berbahaya dari agama konvensional.

Konklusi, melihat fenomena-fenomena kelahiran agama-agama baru ini, menuntut dan mengajak umat islam untuk senantiasa berhati-hati, jeli dan selalu kritis terhadap ideologi-ideologi baru yang mencoba masuk kedalam diri mereka. Karena ideologi ini bukan hanya untuk mempengaruhi tetapi juga untuk menggantikan dan merebut posisi agama.

 

* ditulis oleh Ali Rakhman (Mahasiswa Program Master IRKH, IIUM)

** sumber gambar


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: