ISFI online

Beranda » Ringkasan Talk » Ringkasan Kajian As-Siyasah As-Syar’iyah

Ringkasan Kajian As-Siyasah As-Syar’iyah

Disampaikan pada kelas The Worldview of Islam Series oleh Dr. Khalif Muammar pada tanggal 29 Oktober 2011.

Perbedaan cara pandang antara barat dan islam memang tidak bisa dihindarkan, ini mencakup segala lini kehidupan, wilayah perpolitikanpun tidak terlepas dari jurang perbedaan yang menganga. Jika perpolitikan barat lebih merujuk kepada perpolitikan yang berorientasi pada dunia dan menyatakan diri lepas dari agama (agama hanya hidup dalam lingkungan personal, individual, dan tidak boleh dibawa keruang publik apalagi sampai mengurus masyarakat) maka perpolitikan Islam adalah perpolitikan yang berorientasi pada ketuhanan atau siyasah syar’iyyah, dalam islam agama mengatur segala aspek kehidupan manusia, oleh karena itu merupakan suatu pemikiran yang dangkal jika membatasi agama hanya pada ruang individual dan ini tentu menjauhkan semangat ke universalan islam (?).

Keikut campuran agama untuk mengambil peranan dalam menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan -termasuk dalam wilayah politik- bukanlah suatu kesombongan (seperti yang disangka banyak orang) tetapi merupakan suatu bukti bahwa agama yang dibawa rasulullah adalah agama yang sempurna, mampu merespon perubahan dan menunjukkan kedinamis-annya untuk diterapkan dalam realita kehidupan masyarakat (inilah realita yang pernah dipraktekkan Rasulullah).

Sebaliknya agama yang mencoba menjauhkan diri dari persoalan hidup umat manusia membuktikan bahwa agama tersebut adalah agama yang beku dan cacat.

Walaupun sistem perpolitikan tidak diterangkan secara jelas dalam al-Qur’an namun wajah perjalanan rasulullah dalam mengatur Negara dan bermasyarakat serta praktek kepemimpinan sahabat setelahnya -seperti penekanan pada keadilan, syura, perlidungan dan menghindari kezaliman, penyalahgunaan wewenang dalam kekuasaan- sudah cukup untuk menunjukkan sebuah model kepemimpinan dalam islam.

Adapun kenyataan pahit dari perebutan kekuasaan pada masa kekhalifan, itu tidak terlepas dari sikap ekstrim dan kekeliruan memahami kekuasaan, -Syiah misalnya- yang menjadikan perpolitikan sebagai rukun agama, khalifah ditunjuk berdasarkan nash, jika nash tidak mengisyaratkan “siapa yang menjadi khalifah” maka dia ditolak.

Sedangkan Khawarij terlalu ekstrim-idealis, sehingga menganggap seorang pemimpin harus ma’sum, bebas dari dosa. Oleh karena itu pembunuhan terhadap Ali dan Muawiyah tidak terlepas dari anggapan bahwa mereka adalah orang yang berdosa karena bertahkim.

Sikap berpolitik yang indah terlihat diawal pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, dimana beliau lebih mengutamakan Umar dan sahabat yang lainnya untuk menjadi khalifah bahkan Abu Bakar memuji para sahabatnya bahwa mereka lebih pantas dari dirinya, demikian juga sebaliknya Umar mengutamakan Abu Bakar dengan mengatakan Umar lebih pantas. Sikap yang memegang prinsip tanggung jawab, keikhlasan, ketawadhu’an serta tidak tamak terhadap kekuasaan ini tersirat dalam ucapan Abu Bakar ketika beliau diangkat menjadi khalifah dengan mengatakan: “saya terpilih bukan karena saya adalah yang terbaik diantara kalian”.

Sayyidina Umarpun tidak kalah menampilkan cara berpolitik ataupun berkuasa yang benar, -contohnya- beliau pernah berdebat selama tiga hari tiga malam bersama sahabat untuk menyelesaikan persoalan suatu persoalan, padahal Umar berkesempatan untuk mengambil keputusan meskipun tanpa berdebat karena beliau adalah pemegang kekuasaan, namun apa yang dilakukan oleh Umar adalah untuk memperlihatkan bahwa kekuasaan itu dibangun atas kebersamaan dan memegang prinsip musyawarah. Dan seakan-akan ingin mengajarkan bahwa hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin adalah erat, saling memerlukan.

Praktek rasa keperdulian terhadap yang dipimpin -rakyat- , dan penunaian hak-hak rakyat secara adil dan sikap amanah ditampilkan oleh Umar ibnu Abdul Aziz yang mencoba menginvestigasi, melihat langsung keadaan masyarakatnya dilapangan. Sikap ini juga sekaligus mengajarkan suatu model kepemimpin dalam Islam, yaitu pemimpin yang berkhidmat/melayani bukan untuk dilayani.

Jika disimak secara seksama, gaya kepemimpinan dan model perpolitikan yang mereka tampilkan tidak terlepas dari kepribadian mereka sebagai “seorang pemimpin yang berbasiskan ilmu dan adanya sebuah kesadaran penyatuan dua unsur yaitu orientasi keduniaan dan orientasi akhirat”. Oleh karena itu -menurut Ibnu Khaldun- syarat-syarat kepemimpinan salah satunya adalah berilmu. Imam al-Ghazali sampai-sampai mengarang kitab nasihatul muluk, ini barangkali untuk mengingatkan bahwa seorang penguasa harus dibentengi nasehat ataupun ilmu.

Bahkan Harun al-Rasyid pernah meminta Abu Yusuf untuk menulis nasehat untuknya, yang dikenal dengan kitab al-Kharaj.

Dialam melayupun perpolitikan atau kepemimpinan yang berdasarkan ilmu pernah ditekan oleh Raja Ali Haji, ini dapat dilihat dari pesan beliau kepada Yang Dipertuan Muda IX Raja Abdullah, saudara sepupunya “Jangan engkau semua tiada mendengar nasehat ulama dan syuhada’ …” . Bahkan beliau menekankan agar para Raja bersahabat dengan Ilmuan.

Adapun model perpolitikan yang menampilkan perebutan kekuasaan, ketamakan, kezaliman, permusuhan, kekerasan, ketidakadilan, mengambil hak rakyat, dan kepemimpin yang tidak berdasarkan ilmu atau jahil sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kepemimpinan dan perpolitikan Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam.

 

* ditulis oleh Ali Rakhman (Mahasiswa Program Master IRKH, IIUM)

** sumber gambar


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: