ISFI online

Beranda » Kajian » Islam di Nusantara: Perspektif Orientalis dan Revisionis

Islam di Nusantara: Perspektif Orientalis dan Revisionis

The past is everywhere a battleground of rival attachments; competing groups struggle to validate present goals by appealing to continuity with, or inheritance from, ancestral or other precursors.” – David Lowenthal.

Dalam literatur kesarjanaan antarabangsa, bila, darimana, dan bagaimanakah masuknya Islam di kepulauan Indonesia-Melayu serta sejauh manakah pengaruhnya adalah persoalan-persoalan yang menyulut kontroversi di kalangan Orientalis maupun ilmuwan-ilmuwan Muslim. Makalah ini akan memetakan ranah historiografi Islam di Nusantara sekaligus meninjau ulang pelbagai pandangan dan hujah-hujah yang telah dilontarkan berkaitan masa dan tempat asal kedatangan, pola-pola konversi dan sebabsebabnya, serta kadar pengaruh ajaran Islam terhadap penduduk Nusantara, terutama dari sisi metodologi dan epistemologinya.

1. Penanggalan: Sejak Bila?

Kita mulai dengan pertanyaan: Bilakah Islam sampai ke Nusantara? Secara garis besar, jawaban para ahli untuk soalan ini terbagi dua. Pendapat pertama mengatakan bahwa Islam tiba di Nusantara pada abad ke-13 Masehi, yakni setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah akibat serbuan tentara Mongol pada tahun 1258 M: “Toen de Mongolenvorst Hoelagoe in 1258 na Chr. Bagdad verwoestte, …was de Islam langzaam aan begonnen, in de eilanden van den Oost-Indischen Archipel door te dringen,” demikian menurut Christiaan Snouck Hurgronje (w.1936), pakar ketimuran (Orientalis) sekaligus penasehat kolonial Belanda. Pendapat klasik ini didasarkan pada batu nisan kubur Sultan Malik as-Shalih tahun 696 Hijriah atau1297 Masehi. Dirujuk pula catatan perjalanan Marco Polo yang sempat singgah di Sumatra pada tahun dan memberitakan ramainya rakyat kerajaan Perlak telah memeluk Islam.

Pendapat kedua -yang boleh kita namakan pandangan “revisionis”-menyatakan Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 yakni sejak zaman Khulafa’ Rasyidin pada kurun pertama Hijriah. Pendapat yang diyakini oleh mayoritas sarjana Muslim ini didukung oleh data-data sejarah yang cukup banyak. Pertama, dari berita Cina zaman Dinasti T’ang yang menyebut orang-orang Ta-Shih (yakni Arab) yang mengurungkan niatnya menyerang kerajaan Ho Ling yang diperintah Ratu Sima (674 Masehi), maka beberapa ahli menyimpulkan bahwa orang-orang Islam dari tanah Arab sudah berada di Nusantara –diperkirakan Sumatra- pada abad pertama Hijriah (abad ke-7 Masehi).

Salah satu bukti kukuh untuk pendapat ini diungkapkan oleh Ibrahim Buchari, merujuk angka tahun yang terdapat pada batu nisan seorang ulama bernama Syaikh Mukaiddin di Baros, Tapanuli, Sumatera Utara, dimana tertulis tahun 48 Hijriah yakni 670 Masehi. Sumber data lainnya kita peroleh dari Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad ibn Talib ad-Dimasyqi (w. 1327 M) alias Syaykh ar-Rabwah, penulis kitab Nukhbat ad-Dahr fi ‘Aja’ib al-Barr wa ’l-Bahr, yang menyatakan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara, atau tepatnya Campa (Kamboja dan Vietnam sekarang) pada tahun 30 Hijriyah atau 651 Masehi.

2. Penelusuran: Dari mana?

Demikian pula mengenai asal kedatangannya, pun ada beberapa pendapat. Pendapat pertama mengatakan Islam dibawa masuk ke Nusantara oleh saudagar-saudagar dari Gujarat, sebuah propinsi di bagian selatan India. Seperti dikatakan Snouck Hurgronje, orang-orang Islam yang menyebarkan agamanya di Indonesia tidak datang langsung dari negeri Arab. Mereka adalah orang-orang Islam dari anak benua India: “la religion du prophète arabe a été introduite dans l’Archipel par l’intermédiaire de l’Inde”.

Ditunjuknya unsur-unsur keislaman di Indonesia yang sama dengan di India. Cerita-cerita rakyat dalam bahasa-bahasa daerah Nusantara mengenai nabi dan para pengikut pertamanya, menurutnya, tidak hanya jauh dari nilai sejarah, tetapi juga jauh dari nilai-nilai Arab, yang cerita asalnya terdapat di India. Dikatakannya pula bahwa kebiasaan Muslim di Indonesia menunjukkan beberapa kesamaan dengan kebiasan penganut Syi‘ah di pantai Malabar dan Koromandel, padahal orang Indonesia adalah Ahlus Sunnah yang dalam urusan fikih mengikut mazhab Syafi‘i. Pendapat ini sebenarnya dikemukakan pertama kalinya oleh D.J. Pijnappel, profesor bahasa Melayu pertama di universitas Leiden.

Berdasarkan kisah perjalanan seorang pelaut dengan nama Sulayman bertahun 851 M serta catatan pelayaran Marco Polo dan Ibnu Battutah yang transit di Sumatra pada paruh pertama abad ke-14 (1325-1353), maka disimpulkan bahwa kedatangan Islam mestilah melalui jalur perdagangan dari Teluk Persia ke pantai barat India, lalu dari Gujarat dan Malabar masuk ke Nusantara.

Dukungan bagi pendapat ini diberikan oleh Orientalis lain bernama J.Y. Moquette. Menurutnya, batu-batu nisan di Samudera Pasai yang terbuat dari pualam itu besar kemungkinannya berasal dari satu pabrik di Cambay-Gujarat. Meskipun lemah dan bermasalah, pendapat ini diterima luas oleh para penulis sejarah Indonesia, dari mulai R.A. Kern dan Stapel, H. J. Van den Bergh, H. Kroeskamp, Prijohutomo, dan I.P. Simandjoentak sampai dengan Rosihan Anwar.

Kelemahan pendapat tersebut ditunjukkan antara lain oleh G.E. Morrison. Ada beberapa kejanggalan faktual terkait. Tidak mungkin Islam di Nusantara berasal dari propinsi Gujarat, sebab Marco Polo menceritakan Cambay pada tahun 1293 sebagai kota Hindu, sementara Gujarat baru jatuh ke tangan orang Islam pada tahun 1297. Akan tetapi Morrison menyatakan bahwa orang Islam sudah berabad-abad lamanya berada di selatan India, meski tanpa kekuasaan politik, yakni mereka yang tinggal di Sailan (Ceylon atau Sri Lanka), Malabar dan Koromandel sebelum ekspansi Kesultanan Delhi pada awal abad ke-14. Sebagian mereka mengaku keturunan Muslim Arab asal Irak yang mengungsi ke India demi menghindari kekejaman al-Hajjaj menjelang akhir abad ke-7 Hijriah. Tambahan pula mazhab Syafi‘i tidak dominan di Gujarat dan ceritacerita rakyat Aceh lebih banyak diwarnai oleh unsur-unsur Tamil ketimbang Hindi.

Maka lebih tepat untuk mengatakan, tulisnya, bahwa: “the provenance of Malaysian Islam is in fact Southern India.” Kesimpulan Morrison ini mengantarkan kita ke pendapat berikutnya. Pendapat kedua yang dipegang oleh S. Qadarullah Fatimi, menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara dari Benggala. Pendapatnya ini berasaskan laporan Tomé Pires (1512-1515), berita-berita Cina, serta unsur tasawuf yang terdapat di Indonesia dan Malaysia. Menurut Fatimi, pendiri kerajaan Islam pertama di Aceh, yaitu Merah Silau, berasal dari Benggala.

Kesimpulan ini diambilnya dari cerita Tomé Pires bahwa raja-raja di Sumatra pada waktu itu sudah beragama Islam. Kerajaan Samudra Pasai sendiri dulunya diperintah oleh penyembah berhala dan baru masuk Islam sekitar 160 tahun silam (berarti sekitar tahun 1352 Masehi), selepas kedatangan para pedagang Muslim (the merchant Moors) yang memang telah lama menguasai kawasan pesisir laut.

Merekalah yang kemudian mengangkat seorang Muslim asal Benggala sebagai raja di Pasai. Petunjuk lainnya adalah kebiasaan orang Nusantara memakai kain “sarung” yang dikatakan sama dengan kebiasaan orang Benggala. Bertolak dari sumber-sumber itu Fatimi lalu menyimpulkan bahwa “Bengal is the main provenance of Sumatran Islam, though it does not at all exclude the possibility of strong influences from other parts of the Islamic world.”

Pendapat ketiga meyakini tersebarnya Islam di negeri-negeri “Bawah Angin” – sebutan untuk kepulauan Melayu-Indonesia-adalah berkat usaha mubalig-mubalig dari jazirah Arab. Meski tidak dapat diketahui secara pasti kapan pertama kali orang Islam dari Arabia datang berdakwah ke Nusantara, namun informasi tentang hubungan yang telah berabad-abad lamanya terjalin antara Nusantara dengan Timur Tengah sejak zaman pra-Islam menjadikan asumsi kedatangan Islam langsung dari Arabia sesuatu yang bukan mustahil.

Sumber-sumber kerajaan Cina dari Dinasti T’ang (618-907 M) mencatat kunjungan diplomatik pertama dari negeri Arab yang mereka sebut Ta Shih pada tahun 31 Hijriah/651 Masehi, yaitu pada zaman Khalifah ketiga ‘Uthman ibn ‘Affan (w. 35 H/656 M). Perutusan kedua yang dicatat sebagai Tan-mi-mo-ni –istilah Cina untuk Amirul Mu’minin- tiba di istana T’ang sekitar empat tahun sesudahnya.

Karena itu bisa dipastikan daerah-daerah pantai menjadi tempat persinggahan mereka sejak kurun pertama Hijriah dan seterusnya. Hubungan diplomatik antara Khalifah Rasulullah dengan Kaisar Cina dari dinasti T’ang tersebut terus berlanjut sampai ke zaman Bani Umayyah (660-749 M) hingga munculnya kerajaan Sriwijaya di Sumatera, menambah kerapnya perairan Nusantara dilalui oleh kapal-kapal dari Arabia dalam pelayarannya via India ke Cina.

Pendapat ini dipegang juga oleh Sir John Crawfurd yang menulis pada tahun 1820 bahwa penduduk kepulauan India (yakni Nusantara) pertama kalinya menerima ajaran Nabi Muhammad dari negeri Arab yang beraliran (Syafi‘i), satu dari empat mazhab besar yang paling berpengaruh di Arabia, terutama di kawasan pesisir, tempat bertolaknya para penyebar Islam menuju kepulauan India. Kesimpulan yang sama dinyatakan oleh Thomas Arnold dalam bukunya: The Preaching of Islam.

Namun, istilah ‘Negeri di bawah Angin’ merupakan terjemah dari lafal “Zirbad” dalam bahasa Persia. Istilah navigasi yang dipakai oleh para pelaut dari Teluk Persia ini meliputi Benggala, Sumatra, Malaka, dan pulau-pulau Nusantara yang letaknya di sebelah timur India, manakala ‘Negeri atas Angin’ adalah daerah-daerah yang terletak di sebelah barat India. Dan ini membawa kita kepada pendapat keempat bahwasanya Islam di Nusantara ini dibawa oleh pendatang dari Persia.

Memang terdapat data-data sejarah yang kuat mengenai pelayaran orang-orang Persia ke India dan via Nusantara ke Cina bahkan sejak zaman pra-Islam. Pemberita Cina, Yuan-Tchao, dalam Tchengyuan-sin-ting-che-kiao-mou-lou yang ditulisnya pada awal abad ke-9 mencatat bahwa pada tahun 99 H/717 M ada sekitar 35 kapal dari Persia tiba di Palembang. Data linguistik juga memperkuat dugaan penyebaran Islam oleh pendatang dari Persia. Ada banyak sekali kata-kata dalam bahasa Melayu yang berasal dari bahasa Parsi. Sekadar menyebut beberapa contoh: ‘bandar’, ‘syah’, ‘tahta’, ‘pasar’, ‘penjara’, ‘gandum’, ‘kurma’, ‘anggur’, ‘piala’, dan masih banyak lagi.

Pendapat kelima berasumsi, karena Islam yang diamalkan di Nusantara bercorak mazhab Syafi‘i, maka ada kemungkinan asalnya dari negeri Mesir, mengingat di sana mazhab Syafi‘i banyak pengikutnya. Pendapat yang dilontarkan oleh S. Keyzer, seorang profesor hukum ketimuran dari Belanda, ini pun segera ditolak. Seperti kata G.W.J. Drewes, tampaknya Keyzer tidak tahu bahwa hampir semua orang Arab yang menetap di Indonesia berasal dari Hadramaut (bagian selatan Yaman), dimana mazhab Syafi‘i merupakan mazhab yang umum. Andaikata dia mengetahui itu, tentulah daerah itu yang ditunjuknya sebagai asal datangnya Islam ke Nusantara. Namun begitu, tetap keliru, karena imigrasi orang-orang Arab dari Hadramaut ke Nusantara –kata Drewes-baru terjadi jauh setelah Islam masuk ke Indonesia.

Pendapat keenam menyatakan bahwa penyebar Islam di kepulauan ini adalah Muslim dari Cina. Memang betul, riwayat Cina zaman Dinasti T’ang menyebutkan bahwa pada waktu itu telah ada komunitas Muslim baik di Kanfu (Kanton) maupun di Sumatra. Ini sesuai dengan penuturan I-Tsing, seorang agamawan dan pengembara terkenal Cina yang pada tahun 51 H/ 671 M, dengan menumpang sebuah kapal milik orang Islam dari Kanton, singgah di pelabuhan muara sungai Bhoga atau Sribhoga alias Sribuza, yakni sungai Musi di Palembang yang saat itu merupakan pusat kerajaan Sriwijaya.

Termasuk yang memegang pendapat ini ialah Slamet Muljana, ahli sejarah dan filologi dari Universitas Indonesia. Menurutnya, Islam di Nusantara tidak hanya berasal dari wilayah India dan Timur Tengah (Arab dan Persia), akan tetapi juga dari negeri Cina, yaitu tepatnya propinsi Yunan. Bermula dari hubungan dagang antara Muslim Yunan dengan penduduk Nusantara. Pada kesempatan itu terjadilah asimilasi budaya lokal dan agama Islam yang salah satunya berasal dari daratan Cina. Kemudian antara tahun 1405-1433 kerajaan Cina dari Dinasti Ming mengirim armada lautnya di bawah komando Cheng Ho atau Zhèng Hé alias Ma Sanbao (H. Mahmud Syamsuddin,w.1433) dengan maksud mengamankan jalur lalu-lintas laut dari Cina ke India, Arabia dan Afrika disamping tentu saja menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan setempat.

Muljana merangkai hikayatnya dari sumber-sumber sejarah tak resmi seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis pada zaman kerajaan Mataram abad ke-17 dan agak dipertanyakan historisitas maupun otentisitasnya. Karena dalam kedua buku tersebut, sejarah dijalin dengan dongeng sehingga sulit membedakan mana yang benar-benar fakta dan mana yang hanya fiksi. Lebih-lebih, kedua cerita itu tidak ditopang oleh bukti-bukti yang kongkrit seperti prasasti dan sebagainya.

Muljana juga merujuk sejumlah arsip ringkasan Preambule Prasaran, berita Tionghoa dari klenteng Talang, sumber berita Portugis, dan sebuah catatan dari Klenteng Sam Po Kong di Semarang. Berdasarkan rujukan-rujukan inilah Muljana lalu mengisahkan bahwa Raden Rahmat alias Sunan Ampel adalah pendatang asal Yunan yang bernama asli Bong Swi Hoo, putra Makhdum Ibrahim dan cucu Bong Tak Keng, penguasa tertinggi Campa. Tiba di Jawa pada tahun 1445, dua tahun kemudian Raden Rahmat mengawini putri Majapahit bernama Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu alias Tumenggung Wilawaktikta, mantan panglima Cina di Manila yang ditempatkan di Tuban sejak tahun 1423. Dari perkawinan itu lahirlah Bong Ang alias Sunan Bonang.

Dalam buku Muljana ini disitir pula bahwa Raden Patah pendiri Kesultanan Islam Demak yang bergelar Panembahan Jimbun seperti tertulis dalam Serat Kanda dan Babad Tanah Djawi adalah Jin Bun dalam legenda masyarakat Cina Nusantara. Konon, Raden Alit alias Prabu Brawijaya VII (Raja Majapahit) menikahi putri Cina Muslim dan mempunyai anak yang tidak dibesarkan di lingkungan keraton, tetapi dibesarkan oleh komunitas Cina Muslim di Palembang. Maka, menurutnya, kerajaan Islam Demak sebenarnya dibangun oleh komunitas Cina Muslim asli dan keturunan yang menetap di Semarang. Raden Patah yang menjadi Sultan Demak pertama (1475-1518) dengan gelar Senapati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang SayidinPanata Agama berguru kepada Sunan Ampel sebelum membina masyarakat Muslim di Demak.

Muljana menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tidak lain adalah Gan Si Cang, tokoh Muslim keturunan Cina yang memimpin pembangunan Masjid Demak dengan tukang-tukang kayu dari Semarang. Sedangkan Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati adalah Toh Ah Bo, putra dari Tung Ka Lo alias Sultan Trenggono. Tak hanya keempat sunan itu keturunan Cina.

Dikatakan pula bahwa Sunan Giri, yang juga murid Sunan Ampel, pun keturunan Cina. Ini dikaitkan dengan ayah Sunan Giri yang bernama Sayid Ishaq, yang tak lain adalah paman dari Sunan Ampel alias Bong Swi Hoo sendiri. Sementara itu, Sunan Kudus atau Jafar Sidik juga disinyalir keturunan Cina bernama Ja Tik Su. Jadi, dari Sembilan Wali yang terkenal itu setidaknya ada enam diantaranya keturunan Cina.

Namun pendapat Muljana ini disangkal oleh Ahmad Mansur Suryanegara, ahli sejarah dari Universitas Padjadjaran Bandung. Menurutnya, kesimpulan Muljana agak sukar untuk diterima. Hanya karena dokumen dari kuil itu menyebut nama-nama wali penyebar Islam dalam logat Cina tidak berarti mereka itu keturunan Cina. Sebab orang Cina memang mengubah banyak nama orang dan nama tempat sesuai dengan ucapan mereka.

“Mengapa tidak seluruh nama pelaku sejarah dan nama tempat yang dicinakan dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong ditafsirkan menjadi semuanya? Dengan pengertian menjadi tidak ada seorang pun Pribumi”, tulis Mansur. Dalam tradisi Jawa pun terjadi penjawaan nama seperti kasus J.P. Coen yang dijawakan menjadi “Mur Jangkung” (cf.Mulla Sadra menjadi “Mulo Sodro”), namun tidak berarti dia itu orang Jawa. “Apakah kita akan berkesimpulan bahwa pendiri Nahdlatoel Oelama, Hasjim Asj‘ari, itu orang Arab hanya karena namanya dari bahasa Arab?”

3. Pengislaman: Oleh siapa?

Ada tiga pendapat berkenaan siapakah sebenarnya mereka yang datang menyebarkan Islam di Nusantara. Pendapat pertama yang paling popular dan diajarkan di sekolahsekolah mengatakan bahwa Islam dibawa masuk ke Nusantara oleh para saudagar atau pedagang Muslim. Pendapat yang belakangan dianut oleh kebanyakan Orientalis dan sejarawan lokal ini biasanya didasarkan pada laporan pengembara Italia, Marco Polo, yang dalam pelayaran baliknya dari Cina pada tahun 1292 singgah di pulau Jawa Kecil yakni Sumatra, dimana katanya terdapat delapan kerajaan, salah satunya adalah Ferlec (Peureulak atau Perlak).

“Kerajaan ini, perlu anda ketahui, begitu seringnya dikunjungi oleh para pedagang Muslim sehingga penduduk pribumi pun berhasil mereka islamkan (This kingdom is much frequented by the Saracen merchants that they have converted the natives to the Religion of Muhammad)”.

Meski tidak sepenuhnya ditolak, pendapat ini menyisakan beberapa persoalan. Apakah mereka pedagang biasa atau pedagang sambilan? Kalau mereka murni sebagai pedagang, apakah mungkin mereka juga mempunyai misi lain disamping berniaga dan mencari keuntungan, mengingat resiko yang cukup besar dalam melayari lautan? Dan, yang paling penting untuk dipertanyakan, apakah mereka mempunyai kapasitas untuk mengajarkan dan menerangkan ajaran Islam secara bijak dan meyakinkan?

Pertanyaan pertanyaan semacam inilah yang kemudian menimbulkan keraguan terhadap pendapat tersebut. Marco Polo tentu menulis berdasarkan apa yang dilihatnya sekilas di bandar pelabuhan tempat singgahnya kapal-kapal dagang. Dapat dipastikan bahwa bersama para pedagang tersebut ada nakhoda dan anak-anak kapal yang terdiri dari juru mudi sampai juru masak–semuanya bisa disebut sebagai pelaut (sailors) saja- tentunya selain penumpang biasa yang bukan mustahil ada diantaranya tabib atau dokter medis, ahli agama atau ulama, maupun ilmuwan dan sarjana semacam Ibn Battutah. Apalagi kalau mayoritas awak kapal dan penumpangnya beragama Islam, jelas mesti ada sekurangya satu dua orang yang bisa memimpin shalat berjama‘ah, berceramah dan sebagainya di atas kapal sepanjang pelayaran – tugas yang lazimnya tidak mampu dikerjakan oleh pelaut atau pedagang biasa.

Maka pendapat kedua mengatakan lebih besar kemungkinannya para penyebar Islam di Nusantara itu adalah para ulama yang datang bersama kapal-kapal pedagang dari Arabia. Lebih tepatnya, seperti diungkapkan oleh Anthony H. Johns, agama Islam dibawa ke Asia Tenggara oleh ulama sufi (ahli tasawuf dan tarekat): “To say that Islam came with trade is to beg the queston. It is not usual to think of sailors or merchants as bearers of a religion. If, however, we think of certain traders belonging to Sufi trade guilds, accompanied by their Shaikhs, there seems a more plausible basis for the spread of Islam”.

Menurutnya, adalah syekh-syekh sufi tersebut yang menyiarkan Islam dengan berkelana ke seluruh dunia yang dikenal waktu itu. Mereka memilih hidup sebagai faqir akan tetapi terkait dengan serikat-serikat dagang atau tukang, sesuai dengan tarekat masing-masing (n.b. di sini Johns mengelirukan nisbat genealogis dengan nisbat profesi: al-Haddad –tukang besi- dengan al-Saqqaf atau as-Seggaf –tukang atap- dan sebagainya). Disamping mengajarkan pokok-pokok agama dan tasawuf kepada penduduk setempat, mereka juga mempunyai ilmu-ilmu dan kekuatan supernatural (karamat). Sebagian mereka lantas mengawini putri-putri bangsawan Nusantara sehingga pengaruh Islam semakin kuat di kalangan penguasa dan pembesar-pembesar negara.

Walaupun, masuk di akal kita, pendapat Johns ini tidak menegaskan apakah mereka itu datang sejak kurun pertama Hijriah ataukah beberapa abad kemudian. Sebab, seperti dinyatakan Fatimi, gerakan misionaris sufi baru mula semarak pada paruh kedua abad ke-13 atau sekitar 1250an.

Pendapat ketiga, yang tidak kalah menariknya, telah dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam buku terbarunya yang berjudul Historical Fact and Fiction.30 Menurutnya, pembawa Islam ke Nusantara ialah Syaikh Isma‘il yang atas perintah Gubernur (Syarif) Mekkah pada sekitar abad ke-9 Masehi berlayar menuju ke Sumatra.

Dalam perjalanan itu Syaikh Ismail singgah di Mengiri, sebuah kota di batas barat laut Benggala, dimana beliau bertemu Sultan Muhammad yang kemudian ikut bersama putranya pergi berlayar ke Sumatra untuk menyebarkan Islam dengan menyamar sebagai faqir (hlm.15). Sultan Muhammad inilah yang dipercaya mendirikan kerajaan Islam pertama di Nusantara, yaitu kerajaan Semutra -dari kata ‘semut raya’- Pasai (hlm. 8-12). Jadi, bukan Merah Silau raja pertamanya , yang sering diceritakan bertukar nama jadi al-Malik as-Saleh (hlm. 17), karena sudah ada yang memerintah Semutra-Pasai sebelumnya, yaitu Sultan al-Malik al-Kamil, mangkat pada hari Ahad, 7 Jumadal Ula 607 Hijriah atau 1210 Masehi, sebagaimana tertulis pada batu nisannya (hlm.16).

Yang paling ditekankan oleh al-Attas adalah fakta bahwa para penyiar Islam di Nusantara termasuk di kepulauan Filipina ialah keturunan Sayyidina Husayn bin Abi Thalib r.a. melalui garis Imam Muhammad (w. 1156) bin ‘Isa al-Muhajir (w. 961) yang terkenal dengan julukan Sahib Marbat di Zofar, Oman, tetapi kelahiran Tarim, Hadramaut, Yaman. Namun al-Attas mengakui bahwa ini berlaku antara abad ke-12 hingga ke16 Masehi (hlm. 79), bukan sejak kurun pertama Hijriah. Meskipun tidak dijelaskannya tetapi bisa diperkirakan bahwa mereka yang datang dengan misi khusus menyiarkan Islam termasuk golongan ulama.

4. Pendorong: Untuk apa?

Apakah yang menyebabkan orang-orang Islam itu datang ke Nusantara, mengarungi lautan siang dan malam berhari-hari hingga berbulan-bulan walau dengan resiko mati dalam pelayaran? Lalu, setibanya di Nusantara, berusaha mengubah keyakinan orang supaya mau menerima Islam sebagai agama mereka.

Adalah Van Leur yang pertama kali berpendapat bahwa penyebaran Islam di Nusantara dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan politik para pelakunya. Sejalan dengan kelemahan yang dialami kerajaankerajaan Hindu-Buddha di Sumatera dan Jawa khususnya, para pedagang Muslim beserta mubalig-mubalignya lebih berkesempatan untuk mendapatkan keuntungan dagang dan keuntungan politik. Mereka menjadi pendukung daerah-daerah yang memberontak atau baru muncul.

Van Leur berpendapat bahwa dengan adanya konflik antara keluarga bangsawan dengan penguasa Majapahit serta ambisi sebagian mereka untuk berkuasa sendiri atas negara atau wilayah mereka, maka islamisasi menjadi alat politik yang ampuh untuk merebut pengaruh dan menghimpun kekuatan. Terjadilah hubungan saling menguntungkan antara para pedagang Muslim dan para penguasa lokal. Pihak yang satu memberikan bantuan dan dukungan materil, sementara pihak yang satunya lagi memberikan kebebasan dan perlindungan kepada yang lain:

“The Islamization of Indonesia was a development determined step for step by political situations and political motives. At the end of the thirteenth century rulers of some newly-arisen coastal states in northern Sumatra (and later Malacca) adopted Islam … and used it as a political instrument against Indian trade, against Siam and China, against Hindu regime on Java. Like the dynasty of Malacca, but for Javanese political motives, the aristocratic communities striving upwards accepted Islam  out of opposition to the Hindu central authority.”

Namun, benarkah demikian? That’s the problem!

 

* Dr. Syamsuddin Arif : Dosen  General Studies, Kuliyyah Islamic Revealed Knowledge and Human Science, IIUM dan Penasehat ISFI

** disampaikan dalam acara bedah buku Historical Fact and Fiction, kerjasama ISFI dan PPSS, pada 13 November 2011, di International Islamic University Malaysia


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: