ISFI online

Beranda » Resensi » Sophie’s Verden

Sophie’s Verden

Oleh : A. Wafi Muhaimin

What is the most important in life? If we ask a starving person, he will answer ‘food’. Someone who is cold, will say “warmth”. Even if all need are satisfied man needs something more.  Philosophers say that we have aneed to know  who we are and why we exist. The best approach to philosophy is to ask philosophical question “Who am I?”. where does the world come from?

 

Sofies Verden (bahasa Norwegia) adalah sebuah film yang mengisahkan tentang seorang anak perempuan, Sophie Amundsend, yang baru menginjak umur lima belas tahun. Ia selalu mendapatkan surat misterius yang berisikan pertanyaan-pertanyaan filosofis (Philosophical Questions), pertanyaan yang membuat ibunya sering dibuat kebingungan. Film ini di sadur dari novel karya  Jostein Gaarder dengan judul yang sama. Sebuah novel yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa, yang dalam bahasa inggrisnya menjadi “Shopie’s world”.   Sebagaimana judul novel ini, didalamnya berisikan pelajaran  filsafat yang dikemas dengan bahasa yang begitu sederhana, sehingga para pembaca tidak perlu mengernyitkan dahi, bahkan filsafat-pun menjadi sebuah bacaan yang renyah dan menyenangkan.

Dalam film ini, Shopie selalu disuguhi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna dan tujuan hidup. Sebuah film yang memberikan pelajaran berharga kepada para orang tua untuk se-dini mungkin mengajari anak-anaknya berpikir kritis dan tidak mematikan fitrah kemanusiaannya yang selalu ingin tahu. So, selamat menonton dan membaca novelnya…!

Apakah hal terpenting dalam hidup ini? Jika kita bertanya kepada seorang yang sedang kelaparan, jawabannya adalah makanan. Jika kita bertanya kepada seorang yang sedang kedinginan, jawabannya adalah kehangatan. Bahkan jika kita ajukan pertanyaan yang sama kepada orang yang merasa kesepian dan terasing, barangkali jawabannya adalah ditemani orang lain. Pertanyan-pertanyaan ini mengingatkan saya pada sebuah buku “The Story of Civilization” karya Will Durant, ketika ia bertanya tentang kebahagiaan (Happiness) “dimanakah kebahagiaan itu?”. Ia mencoba mencari jawabannya dengan mengunjungi perpustakaan–perpustakaan dunia. Dengan tekun ia menelaah tulisan para filosof dan orang-orang bijak. Bertahun-tahun ia tidak menemukan di mana kebahagiaan itu, sampai ia menyaksikan peristiwa yang sangat menggetarkan hatinya. Waktu itu ia baru saja kembali dari perjalanan jauh. Di seberang jalan ia melihat seorang perempuan sedang melambaikan tangan sambil medekap bayinya. Seorang laki-laki berteriak, menyeruak di tengah orang banyak, dan melesat menyeberangi jalan. Ia sama sekali tidak menghiraukan lalu lintas yang padat. Ia tidak mendengar  bunyi klakson mobil yang memperingatkannya. Ia lari menuju perempuan itu. Mula-mula ia mengecup isterinya, kemudian memeluk dan mencium bayi merah itu. Pada wajah sepasang suami-isteri itu, will Durant melihat ekspresi indah yang tidak terlukiskan. “sekarang aku menemukan dimana letak kebahagiaan itu!”, ujar Durant. (Rakhmat:117).

Dalam film “The Pursuit of Heppiness”, seorang Christopher P. Gardner melukiskan kebahagiannya dengan meneteskan air mata saat ia diterima bekerja sebagai brokerage firm. Bagaimana ia berusaha terlepas dari himpitan kemiskinannya, tak mampu bayar kontrak rumahnya, pernah tidur bersama anaknya di WC umum, bahkan ia harus rela ditinggalkan sang isteri tercinta. Mendapatkan pekerjaan tetap adalah sebuah impiannya bahkan pada akhirnya ia menjadi millioner.

Ternyata ukuran kebahagiaan pun berbeda tergantung tujuan yang ingin kita capai. Jika kita bertanya pada Will Durant mungkin jawabannya adalah ada pada pertemuan dua hati atau penyatuan cinta, dan jawaban ini mungkin akan berbeda andaikan yang di tanya adalah Christopher P. Gardner. Namun jika kebutuhan-kebutuhan dasar ini telah terpuaskan dan keinginan-keinginan kita telah tercapai masih adakah sesuatu yang dibutuhkan?, Para filosof mengatakan bahwa kita mempunyai kebutuhan untuk mengetahui siapakah kita dan mengapa kita ada disini. Sayangnya, kita jarang mempertanyakan keberadaan kita. Kita seringkali menjalani rutinitas kehidupan tanpa pemaknaan, dan  sungguh tragis bahwa kebanyakan dari kita harus jatuh sakit dulu sebelum kita memahami betapa berharganya hidup ini. Bahkan untuk menghargai betapa senangnya hidup ini kita sering kali terlambat.

Disinilah pentingnya filsafat. Filsafat mengajari kita untuk berfikir, sebagaimana perkataan  Descartes (abad ke 17) “cogito ergo sum” atau “I think, therefore I am”, saya berfikir maka saya ada. Dari berfikir kemudian kita mempunyai rasa keingin-tahuan. Lalu dengan rasa itu,  kita akan di ajak untuk mengajukan beberapa pertanyaan filosofis: bagaimana dunia diciptakan? Adakah kehendak atau makna di balik apa yang terjadi? Adakah kehidupan setelah kematian? Bagaimana kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Dan bagaimana seharusnya kita hidup? Mungkin jawabannya akan berbeda-beda, namun yang terpenting kita sudah memulai untuk bertanya, sebagaimana perkataan Socrates “The Question was more important than the answer”. Namun sebagai catatan akhir, pertanyaan-pertanyaan mendasar filsafat ini akan menggiring kita pada wilayah ketuhanan bahkan mengajak untuk membebaskan dirinya dari agama, seperti halnya yang telah dilakukan oleh para filosof yunani paling awal, yaitu sekitar 600 tahun sebelum masehi, karena agama di anggap bangunan dari sebuah mitos. Dan disinilah umat Islam yang concern dalam kajian filsafat untuk berhati-hati karena tidak sedikit dari mereka yang terjebak.

Ala kulli hal, sudah saatnya kita mempelajari filsafat ini dengan cara “penyulingan” sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Dan pada saatnya nanti kitalah yang akan melanjutkan lelampah al-Kindi, Imam Ghazali, al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina dan lain sebagainya. Selamat berfilsafat ria…!


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: