ISFI online

Beranda » Opini » Penerapan Hukum Hudud Dalam Kehidupan

Penerapan Hukum Hudud Dalam Kehidupan

oleh : Reno Ismanto*

Permintaan Negeri Kelantan untuk menerapkan hukum hudud bisa disebut isu terpanas menjelang PRU-13 di Malaysia. Banyak ahli politik memandang bahwa pengangkatan isu ini ke publik bertujuan untuk meningkatkan perolehan suara dari pengundi dari orang islam. Terlepas dari berbagai respon yang muncul, kemauan yang kuat serta keberanian Menteri Besar Kelantan untuk mencetuskan ide ini harus di aspirasi dengan baik. Sebagaimana diketahui, Malaysia adalah negara federal, states. Setiap negeri, dengan Menteri Besarnya, diberikan kebebasan dalam menyelenggarakan pemerintahannya. Jadi, sangat disayangkan kalau keinginan yang didukung oleh mayoritas rakyat Negeri Kelantan ini, kamudian disekat dengan isu politik.

Negeri Kelantan berpandangan bahwa sudah saatnya penerapan hudud dilaksanakan dengan diadopsi ke dalam undang-undang. Mahkamah syariah selayaknya tidak hanya mengurus masalah ahwal syahsiyah(keluarga, pernikahan dan atau yang sejenisnya). Pemikiran ini dimunculkan setelah melihat kesiapan masyarakat jika hukum hudud dilaksanakan. Kesiapan ini bisa dilihat dari kesadaran keberislaman masyarakat yang sudah baik, pemerintahan yang kooperativ, serta tingkat kesejahteraan yang cukup merata.

 

Tuntutan Menerapkan Islam secara Komfrehensif

Hudud(bentuk plural dari hadd) adalah hukuman yang sudah ditetapkan, baik itu dalam Alquran atau Sunnah terhadap perilaku-perilaku yang dipandang menyimpang oleh syariat. Contohnya hadd untuk mencuri, zina, menuduh orang berzina, meminum minuman keras, murtad dan memberontak atas pemerintahan muslim. Hukum hudud ini harus dipahami bukan bertujuan untuk menyakiti. Sebaliknya, hukum hudud bertujuan menciptakan suatu masyarakat yang terjamin keamanan jiwanya dan hartanya, serta terhindar dari penyakit-penyakit akhlak yang menular.

Adalah maklum bahwa manusia menginginkan kebaikan bagi dirinya, keluarganya dan terhindar dari kejahatan orang lain, baik itu secara langsung dalam bentuk kriminal, ataupun secara tidak langsung dengan perilaku-perilaku buruk yang bisa menular kepada orang. Perilaku-perilaku buruk, kejahatan dan menyakiti, jika diteliti dengan seksama, hanya muncul dari beberapa orang saja dalam sebuah masyarakat. Untuk menjaga stabilitas sebuah masyarakat, keamanan jiwa dan harta orang banyak, maka diperlukan suatu  aturan yang bisa menghalang sedikit orang ini untuk melakukan tindakannya.

Sudah menjadi hikmah Allah bahwa Islam adalah agama yang berkarakteristik rahmatan lilalamin(bukan hanya muslim, juga bukan hanya manusia) dan bisa diterapkan di semua tempat dan zaman. Seorang yang sudah memilih Islam(jalan hidup) harus menerapkan semua aturan Islam dalam kehidupannya. Aturan-aturan Islam jika dipahami dengan baik, dengan hati yang jernih dari hawa nafsu dan kepentingan pribadi, maka tampak sebagai tata cara hidup yang begitu indah yang tujuannya adalah menciptakan kemaslahatan bagi pemeluknya, baik di dunia maupun di akhirat.

Diantara aturan-aturan yang diajarkan dalam islam adalah hukum hudud. Seorang muslim dalam levelnya yang beragam dalam kehidupan, baik individual ataupun sebagai pemimpin, mempunyai kewajiban atas terjaminnya pelaksanaan syariat Allah yang telah digariskan dalam Al-Quran dan Sunnah. Ini dimulai dengan meyakini bahwa hukum hudud harus dilaksanakan, bisa dilaksanakan dan hukum terbaik untuk tindak-tindak kejahatan yang sudah dikategorikan dalam dua sumber hukum Islam. Maka, menolak, menyatakan hukum hudud tidak bisa dipraktekkan karena bertentangan dengan humanisme atau kemajuan zaman dan kemajemukan masyrakat, bisa berakibat kepada status keislaman seseorang(Q 4:65, 5:49). Karena pernyataan ini mengindikasikan bahwa hukum hudud yang merupakan hukum Allah adalah tidak berguna bagi manusia; karena ia hanya teori jika tidak bisa dipraktekkan. Dan kesia-siaan adalah muhal atas Allah.

 

Pengaruh dan pertimbangan-pertimbangan

Tidak ada yang mampu mendorong suatu kelompok masyarkat (jama’atul muslimin)untuk menerapkan hukum hudud melebihi kepahaman yang murni dan kesadaran keislaman yang tinggi akan keagungan syariat Islam. Kesadaran ini bisa saja muncul setelah melihat banyak aturan Islam yang hanya jadi objek studi tapi nihil praktek; diketepikan dari kehidupan. Padahal dalam kenyataannya hukum islam adalah sederhana dan mudah untuk diterapkan.

Memang pentransformasian hukum hudud tidak boleh gegabah dan tergesa. Hukum  ini harus disosialisasikan dengan baik sehingga ia dikenal dan dipahami dengan benar oleh masyarakat. Keimanan yang kuat terpatri dalam diri pribadi-pribadi masyarakat harus juga diperhatikan, sehingga mereka meninggalkan tindakan-tindakan buruk tidak saja hanya takut dari hukuman, tapi lebih dari itu dari dosa atas perbuatan tersebut. Maka, orang yang keimanannya sudah kuat meninggalkan tindakan buruk tersebut karena dorongan dari dalam, sementara orang yang kepentingan dirinya masih lebih besar dari kepahaman dan kesadarannya terhadap agama, tersekat karena adanya aturan yang sudah diformalkan tersebut.

Keadilan sosial, pemerataan pendapatan, pengentasan kemiskinan dan kebodohan, peningkatan kesadaran umat dalam mengenal Islam dan mengamalkannya, adalah perkara-perkara yang harus diprioritaskan, sebelum hukum hudud diterapkan. Pemaksaan terhadap hukum hudud di tengah masyarakat yang belum siap hanya akan memberikan citra buruk bagi Islam dari orang-orang yang memang tidak memahami Islam secara baik dan mendalam atau malah bisa dimanfaatkan oleh orang yang memusuhi Islam.

Harus dipahami bahwa kejahatan atau perilaku yang bertentangan dengan susila dalam suatu masyarakat tidak akan sepenuhnya bisa dihapus. Hukum yang ada terkadang memang harus ditegakkan kepada mereka yang melanggar, agar yang lain tidak mengikuti perbuatan tersebut. Bagaimanapun dorongan buruk dan baik ada pada setiap individu juga sangat menentukan apa yang dilakukannya, ditambah dengan pengaruh lingkungan pergaulan, informasi-informasi yang diserap oleh pikirannya, belum lagi bisikan-bisikan syetan; yang merupakan tugas utamanya di dunia ini yaitu menyesatkan anak manusia.

Bagi mereka yang terkena hukuman, ia harus dibimbing dan diarahkan agar menyesali perbuatannya dan bertaubat; memohon ampunan atas apa yang telah diperbuatnya. Setelah ia menyesali dan memohon ampun, maka hukuman yang diekskusikan atasnya menjadi penguat atas pembersihan dirinya dari dosa perbuatannya. Dengan itu, ia akan memperoleh ampunan. Perbuatan dosanya telah ‘dibasuh’ di dunia, sehingga kelak dia tidak akan ditanya lagi di akhirat.

Memang, memahami hukum hudud tadi tidak boleh secara sempit. Ia harus dilihat dari spektrum yang luas. Maslahat dan tujuan yang ingin diwujudkan harus lebih ditekankan terlebih dahulu dari pembahasan tentang bagaimana beratnya hukuman. Justru, kalau mereka bisa bijak, untuk tindakan-tindakan kejahatan dan asusila yang berat, hukuman beratlah yang bisa mencegahnya. Jika mau ‘dikompres’, maka penolakan terhadap hukum hudud hanya bermuara kepada dua hal; pemahaman yang lemah akan syariat atau masalah ketidakjujuran.

Tidak dipungkiri bahwa permasalahan hudud ini telah menjadi celah untuk menyerang islam. Hukum hudud sebagai bagian dari ajaran islam dijadikan alat untuk mencitrakan islam agama yang kejam, tidak berprikemanusiaan. Orang-orang yang tidak mengerti akan mudah saja menerima ini, yang pada akhirnya menyebabkan ia mempertanyakan agama yang diyakininya, dan pada akhirnya ia akan menimbulkan keraguan, bahkan kekufuran. Sehingga, banyak pemikir yang mencoba mentafsir ulang ayat-ayat hudud. Misalnya hukum tangan mereka tafsirkan dengan memotong kemampuannya untuk mencuri yaitu dipenjara. Usaha seperti ini tidak bisa dibenarkan. Karena bertentangan dengan praktek-praktek yang sudah jelas di zaman nabi. Tidak ada usaha yang lebih baik untuk menangkal serangan lewat jalan ini(hukum hudud) kecuali dengan memberi pemahaman yang benar, yang objektif dan melihat kepada kepentingan masyarakat secara umum.

 

Kepemimpinan Islam

Sejatinya, para pemimpin yang baik akan menjadikan penegakan hukum Allah dalam setiap sendi kehidupan sebagai cita-citanya tertinggi. Kepemimpinan adalah amanah sekaligus peluang emas untuk memuliakan islam, memberikan pendidikan yang benar tentang islam sehingga tercipta masyarakat yang shaleh secara pribadi dan punya kepedulian sosial yang tinggi secara bermasyarakat, serta mengkokohkan dakwah kepada orang nonmuslim yang belum sampai kepadanya tentang kebenaran islam.

Jika kepemimpinan islam seperti ini, maka cita-cita ini akan lebih mudah terealisasi. Permasalahan selanjutnya hanyalah perencanaan dan melihat sejauh mana kesiapan masyarakat untuk menerima hukum ini jika diformalkan. Diperlukan waktu yang cukup untuk mensosialisasikan, sebelum diterapkan. Pembaharuan ini harus dimulai dari kerangka berpikir masyarakat. Inilah yang harus dirubah lebih dahulu. Maka, sekolah-sekolah, universitas-universitas harus menjadi basis penanaman akan world view islam, yaitu cara pandang yang tidak memisahkan antara urusan duniawi dan ruhani, kedua-duanya harus ada dan ianya saling melengkapi satu sama lain. Institusi-institusi ini harus menjadi lumbung, tempat lahirnya para ilmuwan-ilmuwan soleh, pekerja yang amanat, ahli politik yang memandang jabatan sebagai alat untuk mengabdi, ekonom yang jujur dan tidak tamak, dst.

Pentingnya perbaikan yang dimulai dari level individu ini diterangkan oleh Naquib Al-Attas dalam bukunya Islam and Secularism. Menurut beliau, banyak para pembaharu sekarang yang berlebihan dengan hanya melihat kepada masalah kerusakan kepemimpinan dan melupakan keterkaitan antara umat yang soleh dengan Negara berkeadilan. Padahal, kerusakan kepemimpinan hanyalah penampakan dari pribadi-pribadi yang ‘kacau’ dan tidak mengenal ajaran-ajaran Islam dan carapandangnya terhadap eksistensi alam. Maka untuk menghasilkan perubahan dari ‘yang tampak’, perbaikan harus dimulai dari sumber masalah, yaitu hilangnya kesalihan di tingkat individu. Good government tidak akan pernah ada jika orang-orang yang menjalankannya adalah orang-orang yang bermasalah. Wallahu’alam bishawab.

 

* Mahasiswa Program Master IRKH, IIUM.

 


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: