ISFI online

Beranda » Ringkasan Talk » Haruskah Ikut Barat?

Haruskah Ikut Barat?

Tidak diragukan lagi bahwa “isme-isme” yang berkembang saat ini (misal, Pluralisme, liberalisme, humanisme, dan lainnya) merupakan agama-agama baru (new religion atau quosi religion, pseudo religion, semi religion) karena telah membawa sistem atau seperangkat nilai yang dijadikan pedoman dalam hidup sekaligus menggantikan “sistem atau seperangkat nilai agama”.

Sebagai contoh, kebebasan, keadilan, kesetaraan tidak lagi ditimbang berdasarkan pada nilai agama (Islamic worldview/pandangan alam Islam) tetapi cenderung untuk mengeluarkannya dari nilai agama dan menggiringnya kepada nilai barat (Western worldview/pandangan alam barat),

sehingga tidak mengherankan jika seseorang berbicara mengenai kebebasan, misalnya, maka yang mereka pahami adalah demokrasi, ketika berbicara kerukunan beragama maka yang mereka sangka adalah pluralisme, atau ketika bicara masalah kebebasan perempuan maka yang mereka kemukakan adalah feminisme.

Tentu saja nilai-nilai yang datang dari barat ini, -apakah karena kurangnya kehati-hatian umat islam atau karena ikut-ikutan-, berbenturan dengan nilai Islam.

Seseorang tidak perlu mencari definisi keadilan dengan menggunakan kacamata barat, karena Islam, melalui al-Qur’an, banyak berbicara mengenai keadilan. Bahkan diutusnya para Nabi sejak awal hingga akhir adalah untuk menciptakan keadilan.

Seseorang tidak perlu berkoar-koar meneriakkan pluralisme dengan alasan menciptakan kerukunan dan toleransi beragama,  karena Islam sendiri sudah mengatur cara bagaimana umat muslim menciptakan kerukunan dan bertoleransi dengan non-muslim, melalui pengalaman yang ditampilkan oleh nabi Muhammad Saw.

Feminisme yang kononnya dijadikan sebagai bendera bagi para pejuang kebebasan dan kesetaraan perempuan tidaklah relevan untuk dipaksakan kepada umat Islam, karena Islam sendiri sejak awal sudah menghargai perempuan, bahkan satu-satunya agama yang menempatkan perempuan pada derajat yang tinggi, tentu saja sesuai dengan kodrat dan tabiatnya.

Demikian juga dengan demokrasi yang selama ini lantang diteriakkan barat, sebenarnya, tidaklah pantas untuk diikuti, karena pada kenyataannya demokrasi tidak memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk mengekspresikan “jati diri”.

Jika demokrasi dimaknai sebagai “kebebasan berekspresi” , disaat yang sama, demokrasi mencegah masyarakat untuk bebas mengekspresikan agama keruang publik.  Artinya, sejauh mana demokrasi memberi ruang kepada masyarakat untuk melakukan kebebasan masih dipertanyakan.

Bahkan, Amerika yang kononnya dianggap sebagai negara yang paling demokrasi sekalipun, pada kenyataanya hari ini, adalah negara yang jauh dari demokrasi dan kebebasan, seperti yang dikritik oleh Jonathan Turley dalam tulisannya yang dimuat dalam Washingtonpost : “10 reasons the U.S. is no longer the land of the free” [1]. Ini artinya, demokrasi tidak pantas untuk berkibar dipentas bumi.

Karena melihat jurang perbedaan yang menganga, antara nilai yang dibawa Islam dan nilai yang dibawa oleh barat, maka disinilah perlunya umat Islam untuk menunjukkan jati dirinya, bahwa Islam memiliki “konsep atau pedoman hidup sendiri” berdasarkan pandangan alam Islam (Islamic worldview), dan pada saat yang sama, menolak konsep serta pedoman yang dibawa oleh barat (Western Worldview)  yang coba dipaksakan ke umat Islam.

 

*diresensi oleh Ali Rakhman dari Kajian Mingguan Kitab Ad-Din bersama Dr. Anis Malik Thoha

 

[1] http://www.washingtonpost.com/opinions/is-the-united-states-still-the-land-of-the-free/2012/01/04/gIQAvcD1wP_story.html


1 Komentar

  1. Mochammad mengatakan:

    Bagus banget uraiannya.
    Barangkali umat Islam sendiri tidak pernah mengkaji ketika mengaji al-Quran. Jadinya? Seperti yang dipaparkan dalam tulisan di atas.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: