ISFI online

Beranda » Reportase » Maluku dan Fenomena Keberagamaan

Maluku dan Fenomena Keberagamaan

Maluku, daerah yang biasa dijuluki dengan daerah seribu pulau ini merupakan salah satu provinsi tertua di Indonesia yang terletak antara pulau Sulawesi dan Papua, sekitar 90 persen lautan sedangkan sisanya adalah daratan.

Karena sebagian besar daerah Maluku adalah lautan sehingga untuk menjangkau daerah satu kedaerah yang lain  memerlukan waktu yang lama. Hal ini diakui oleh Suhfi Majid (anggota DPRD Maluku) yang menjadi pembicara “Maluku dan Fenomena keber-agamaan yang di adakan ISFI di kampus IIUM. Bahkan menurut beliau, untuk terjun langsung kedaerah kepulauan semisal Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, Aru dan Maluku Barat Daya, harus menghabiskan waktu dua hingga empat  malam diatas kapal.

Dalam paparannya, Suhfi Majid mengungkap, Maluku memiliki sejarah yang cukup panjang. Dalam perspektif sejarah, ada hubungan yang tidak terpisah antara Maluku dan Maluku Utara yang telah menjadi propinsi sendiri. “Beberapa sejarawan menyebut  Maluku berasal dari kata Moloku (Ternate : Persatuan), dalam persfektif lainnya, disebut Maluku berasal dari kata Al Mulk (kerajaan).  Pendekatan bahwa Maluku dari kata Moloku untuk menyebut kepulauan yang dikuasai oleh Moloko Kie Raha (Persatuan Empat Gunung), yaitu nama konfederasi empat kerajaan : Ternate, Tidore, Moti dan Makian,” kata Suhfi.

Bahkan urainya, sejak 1817 pemerintah Belanda setelah mengambil alih dari Inggeris, menggabungkan ketiga pemerintahan pada masa VOC itu  menjadi Gouvernment der Molukken yang meliputi Kresidenan Manado, Kresidenan Ternate, Kresidenan Ambon, dan Kresidenan Banda. “Jadi Maluku pada waktu itu lebih luas, termasuk sulawesi Utara,” tegasnya lagi.

Nama Maluku kata Suhfi secara tegas dimulai ketika Kresidenan Manado pada tahun 1907 dipisahkan dari Gouvernment der Molukken dan dimasukan dalam Gouvernment Celebes. “Mulai dari saat itulah Maluku menjadi nama dari kepulauan antara Sulawesi dan Papua tersebut dan terbagi atas Maluku Utara, Maluku Tengah dan Maluku Tenggara,” sebut Suhfi.

Lewat paparannya, Suhfi menandaskan jika masuknya Islam ke Maluku berpengaruh atas transformasi masyarakat dan budaya lokal. “Pendekatannya dalam bentuk invention maupun  dengan penerimaan kebudayaan dari luar. Dan proses ini yang mengakibatkan terjadi karena adanya interaksi antara budaya lokal dengan budaya Islam,” jelas Suhfi

Komunitas  Muslim  Dan Kearifan Lokal Masyarakat Maluku

Islam di wilayah Kepulauan Maluku berkembang pada abad 14 Masehi, yang dibarengi berdirinya kerajaan-kerajaan besar terutama di wilayah Maluku Utara yakni yang disebut dengan Moluko Kie Raha.

Di Maluku Tengah, tegas Majid, Islam mulai diterima di Hitu dan Banda.  “Hitu terletak di kawasan  Leihitu, pulau Ambon terkenal sebagai pelabuhan perdagangan rempah terutama cengkih dari huamula (seram barat) dan pala dari Banda”.

Beberapa daerah, rekonstruksi pembentukan komunitas Muslim agak sulit didefenisikan karena terbatasnya referensi sejarah yang menjelaskan fakta perkembangan tersebut. “Termasuk banda adalah salah satu diantaranya.” Urai Majid.

Dalam persfektif hubungan antar masyarakat, ada kearifan lokal yang cukup menguat yakni “Pela”.  “Hubungan ini menjelaskan tentang konekting antara satu negeri dengan negeri lainnya, terutama di negeri yang berbasis negeri adat,” papar Suhfi.

Ada “Pela Gandong” yakni : hubungan pela yang terlahir karena dua anggota masyarakat negeri atau lebih merasa berasal dari satu keturunan yang sama (seibu sebapak). Hubungan berbasis negeri terjadi antara Negeri Salam (Muslim) dengan Sarani (Kristen).

Untuk mempertahankan situasi komunikasi di antara mereka, maka anggota masyarakat dari negeri-negeri Pela memiliki satu tradisi pertemuan rutin yang disebut “Panas Pela.

Konflik Sosial Dan Posisi Keberagamaan Masyarakat Maluku

Membedah situasi keberagamaan di Maluku kata Suhfi Majid, menjadi menarik karena akulturasi budaya dan sistem sebaran Islam yang terjadi, merambah desa-desa negeri yang berada di pesisiran. Selain masyarakat negeri (disebut dengan masyarakat adat), muslim maluku diisi oleh suku pendatang yang telah menjadi bagian muslim Maluku, namun tetap menjaga ciri identitasnya, bahasa asalnya maupun budayanya.
Menurut data BPS (Maluku Dalam Angka, 2011) yang dinukil oleh Suhfi, total jumlah penduduk Maluku sebanyak : 153.506 jiwa
Secara kultural, muslim Maluku lebih dekat  dengan tradisi Nahdatul Ulama dalam praktek ibadah. Namun, tradisi NU maupun Muhammadiyah dalam aspek lainnya tidak menjadi ikatan dalam interaksi sosial masyarakat. Basis sosial kultural yang terbangun lebih didasari pada kearifan lokal (local wisdom), dan tiap-tiap negeri/desa memilikinya sendiri.

Suhfi Majid menyebut, NU dan Muhammadiyah di kalangan masyarakat muslim lebih diposisikan sebagai organisasi massa (sebagaimana organisasi lainnya). Selain juga dipengaruhi oleh basis ketokohan yang tidak menonjol dari kalangan NU dan Muhamadiyah di Maluku. Itulah sebabnya, tradisi keislaman masyarakat Maluku cukup kuat dipengaruhi kearifan lokal.

Konflik Maluku mulai terjadi pada tanggal 19 Januari 1999 berjalan dalam beberapa tahun, merupakan peristiwa sosial yang disosiatif dengan tingkat kekerasan yang sangat tinggi dan memakan korban yang sangat banyak.

Peristiwa ini menjadi titik balik dari tradisi budaya lokal (local  wisdom) yang selama ini dianut oleh masyarakat Maluku. Menjelaskan tentang rapuhnya struktur sosial dan nilai keberagamaan yang terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat Maluku.

Konflik sosial dengan berbagai peristiwa yang melatarinya, menumbuhkan keruwetan presepsi, menampilkan sudut pandang yang beragam dari berbagai kalangan. Namun yang tidak bisa dibantah bahwa, kekuatan idiologi sebagai penggerak melebarnya ekskalasi adalah satu diantara variabel yang mempercepat dan memperbesar sebaran dan wilayah konflik tersebut.

Menatap Masa Depan Islam Di Maluku

Apa yang paling penting dilakukan saat ini? Pertanyaan ini penting untuk disuarakan untuk menyatukan fokus yang ingin dicapai, visi yang ingin ditegaskan, manakala kesadaran untuk menegaskan masa depan Islam di Maluku disuarakan.

Beberapa hal yang menjadi penting untuk membangun kekuatan keberagamaan umat Islam di Maluku :
a.    Penguatan kelembagaan-kelembagaan Islam, untuk menjalankan misi penetrator nilai dan syiar Islam di masyarakat, karena terjadinya degradasi nilai keberislaman dengan keawaman dalam pemahaman.
b.    Rekonsiliasi tokoh, menyatukan presepsi bersama terhadap perjuangan penguatan basis positioning dalam berbagai level.
c.    Kaderisasi dan penguatan kapasitas SDM, terutama membangun kekuatan intelektual (dan harus diakui kita minim dalam kwantity maupun kapasitas)
d.    Penegasan positioning politik dalam sistem pemerintahan, sehingga terjadi penetrasi nilai dalam kebijakan-kebijakan terutama berkaitan dengan isyu-isyu keummatan.


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: