ISFI online

Beranda » Kajian » Sains di Dunia Islam

Sains di Dunia Islam

Oleh: M. Abdullah

Pembukaan

Dalam English Oxford Dictionary, sains ditakrifkan Sebagai: “suatu cabang ilmu yang mengkaji sekumpulan pernyataan yang terbukti atau dengan fakta-fakta yang ditinjau, dan disusun secara bersistem dan dihimpun dalam bentuk hukum-hukum umum, dan ia

termasuklah kaedah-kaedah yang boleh dipercayai untuk menghasilkan kebenaran baru di dalam lapangannya sendiri”.

Ringkasnya : Sains adalah sesuatu yang boleh dibuktikan kebenarannya melalui ujian empirikal.

Keinginan mengetahui secara ilmiah dan penelitian yang baik adalah merupakan sifat-sifat utama peradaban Islam. Sebab itu, Islam bukan saja menghasilkan ahli-ahli sains yang terkemuka tetapi membentuk juga satu bentuk sains tersendiri -satu bentuk sains yang menyatukan sains yang objektif di dalam pandangan hidup Islam. Sains tentang hadits (Ilmu al-Hadits) yang mana membentuk asas-asas akhlak dan kanun perundangan Islam juga menyediakan satu kaedah kajian yang canggih. Untuk penulisan tafsir juga telah dikembangkan kaedah kajian yang canggih dan juga tradisi keilmiahan. Keduanya Qur’an dan Hadith merupakan asas terhadap semua kegiatan dalam sejarah Islam. Kaedah-kaedah yang dikembangkan untuk kupasan Hadits dan teknik pengembangan tafsir kedua-duanya mempengaruhi sains.

Bahkan sains pun berperan penting dalam agama Islam dalam rangka:

– Membantu manusia mengenali Allah sebagai pencipta

– Membantu manusia memahami persoalan Tauhid.

– Menegakkan hakikat kebenaran

– Membawa manusia bersifat tafakkur

– Membantu manusia memenuhi keperluan material

– Membantu dalam pelaksanaan syariat

– Menghubungkan nilai etika dengan sains, sains dengan agama dan sains dengan Al Quran  dan As Sunnah

– Memenuhi keperluan manusia kepada konsep keindahan.

– Memudahkan kehidupan manusia.

Anggapan umum yang berkembang tentang Sains dan teknologi di dunia Barat (Eropa dan Amerika) bahwa kemajuan sains adalah karena paham Sekularisme. Paham ini bermula dari akibat konflik pihak ‘gereja’ dan saintis. Tidak sedikit dari para saintis yang mendapatkan ‘dampak’ buruk konflik ini, seperti kasus Giordano Bruno, Galileo Galilei, dan Baruch Spinoza.

Poin masalah adalah bila hal itu dianggap ‘sama’ dengan yang terjadi di Islam; bahwa kemunduran sains di dunia Islam disebabkan oleh ortodoksi dan sebaliknya kemajuan sains hanya terwujud bila umat Islam menganut dan menerapkan sekularisme.

Sejarah Perkembangan Ilmu dan Pendidikan dalam Islam:

  • Masa Pembangunan(100-299H)
  • Masa Keemasan (300H -500H)
  • Masa Stagnan (565-1000H)
    • Masa Kebangkitan (1100-1400H/ 12-15H/ 1700-2000A.D.)

Periode Khilafah Umawiyyah (41-132H/ 661-750M)

  • Perkembangan awal: Tafsir al- Qur’an, documentasi Hadith and Sirah Nabi s.a.w.
  • Dampak: The spirit of Scientific Research
  • Cabang ilmu yang lain: Filsafat, Mantiq (Logic), Kimia dan Medis.

 Khilafah Abbasiah (132-232-447H/750-1055M)

  • Penerjemahan pertama: dikerjakan oleh Abdullah ibn al-Muqaffa’ (m. 142H/ 759M), beliau menterjemahkan dari bahasa Persi kedalam bahasa Arab dan bukunya dikenal dengan Kalilah wa Dimnah
  • Khalifah Abu Ja’far al-Mansur (136-158H/754-775M, khalifah kedua) sang khalifah sangat tertarik dalam hal medis, astronomi, falak dan engineering.
  • Th. 156H/ 773M, penerjemahan: buku-buku dari India dalam bidang mathematics, cosmology. Al-Khawarizmi sebagai translator.
  • Khalifah Harun al-Rashid (170-193H/ 786-809M), banyak mengimpor buku dari Eropa, Ankara, Rome.
  • Khalifah al-Ma’mun (198-218H/ 813-833M), Puncak aktifitas penterjemahan.

Masa Keemasan(300H -500H)

Perubahan Paradigma: dari penerjemahan menjadi pemikiran produktif (critical, creative, innovative, dll)

  • Arab menjadi bahasa International mulai tahun 250 H
  • Baghdad menjadi pusat keilmuan dunia
  • Madrasah Nizamiah didirikan (merupakan universitas pertama di dunia)

Masa Stagnan (565-1000 H)

Gejala-gejala:

  • Pembelajaran-pembelajaran di sekolah-sekolah hanya seputar penjelasan dan rangkuman, khususnya abad 8-10 H.
  • Hanya focus pada kurikulum atau materi-materi yang sudah ada.
  • Adanya pendekatan madzhab-madzhab dalam system pendidikan.

Masa Kebangkitan (Pembangunan Kembali (1100-1400H)

Keterpanggilan menuju perubahan dalam Pendidikan.

  • Rifa’ah Tahtawi (1801-1873), beliau mereformasi system pendidikan di Mesir; Al Azhar. Bukunya yang paling penting: Manahij al-Albab dan al-Murshid al-Amin.
  • Muhammad Abduh (1849-1905 M), beliau mengkritisi system kurikulum Al-Azhar. Pada tahun 1895-1896 merupakan perubahan kurikulum Al-Azhar yang pertama.
  • Abu al-A’la al-Mawdudi (manhaj jadid li al-tarbiah wa al-ta’lim)
    • Mendefinisikan ulang makna dari al-sam’, al-basar, al-fu’ad
    • Melawan taqlid

Kemajuan Sains dalam Sejarah Islam

Awal perkembangan sains dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari sejarah ekspansi dakwah  “futuh al-buldan” Islam itu sendiri. Seyyed Hossein Nasr: ‘kemunculan sains di dunia Islam dan Eropa Barat’ memang ada masa pemindahan, namun ada juga masa pengunyahan, pencernaan dan penyerapan, yang juga berarti penolakan. Tidak pernah ada sains yang diserap ke dalam sebuah peradaban tanpa penolakan sedikitpun.

Kaum muslim pun terdorong untuk mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukkannya; seperti penerjemahan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani (Greek) dan Suryani (Syriac) ke dalam Bahasa Arab. Misalnya, Ibn al-Muqaffa’ (w.ca. 759M) dan Yahya ibn Khalid ibn Barmak (ca. 803M). menjelang akhir abad ke-9 M, hampir seluruh korpus saintifik Yunani telah berhasil diterjemahkan, meliputi berbagai bidang ilmu pengetahuan, dari kedokteran, matematika, astronomi, fisika, hingga filsafat, astrologi dan alchemy.

Menurut pakar sejarah sains dari universitas Harvard, Profesor Abdel Hamid Sabra, gerakan penerjemahan tersebut di atas mewakili fase pertama dari tiga tahap Islamisasi sains: fase peralihan atau akuisisi, fase penerimaan atau adopsi, fase assimilasi dan naturalisasi. Fase kematangan ini berlangsung kurang lebih 500 tahun lamanya, diantara beberapa ‘dampak’ kemajuannya:

  • Al-Battani (w. 929 M) mengoreksi dan memperbaiki system astronomi Ptolemy, karyanya pun dipakai sebagai salah satu bahan rujukan oleh Kepler dan Copernicus.
  • Dalam bidang Fisika Ibn Bajjah (w. 1138) mengantisipasi Galileo dengan kritiknya terhadap teori Aristoteles dll.

Factor-faktor yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan sains di dunia Islam pada saat itu antara lain sebagai berikut. Pertama, kemurnian dan keteguhan dalam mengimani, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam. Kedua, adanya motivasi agama. Iqra’, a-fala yarawna, a-fala yanzhuruna, siru fi l-ardi dll. Ketiga, adalah factor social politik. Factor lainnya adalah factor ekonomi, sehingga dulu mereka bisa membangun istana-istana megah, perpustakaan-perpustakaan besar ataupun sejumlah rumah sakit. Factor lainnya lagi adalah dukungan politis dari penguasa.

Ada beberapa fakta milik Islam yang sengaja ‘disembunyikan’ dalam sejarah-sejarah umum diantaranya:

Konsep karantina kedokteran, ilmu geografi, jam mekanik, fakultas kedokteran, pesawat terbang, teori aljabar dan logaritma dalam matematika, ilmu astronomi (falak), lensa kaca, etnografi, kerosin (minyak bumi), kertas, kaca&cermin, optic, candu untuk anesthesia, pelaksana eksperimen besar pertama di dunia (Al-Biruni), artileri, meriam, anesthesia dengan perantara narkotika yang direndam pada spon, mesiu dan mikroskop, mesin cetak, dll.

Penemuan-penemuan tersebut diatas umumnya dituliskan pertama kali ditemukan sekitar abad renaissance (14-17 H), tapi faktanya hasil-hasil karya ilmiah tersebut sudah ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim beberapa abad sebelumnya, tapi ‘mereka’ menyembunyikan fakta ini dan mengklaim ilmuwan-ilmuwan yang berjasa dalam karya-karya ilmiah tersebut adalah ilmuwan Eropa-Amerika.

Kemunduran sains di Dunia Islam

Secara umum, factor-faktornya ada dua, internal dan eksternal:

David C. Lindberg menyebut (1) oposisi kaum konservatif, (2) krisis ekonomi dan politik, serta (3) keterasingan dan keterpinggiran sebagai tiga factor utama yang bertanggung jawab atas kemunduran sains di dunia Islam. Makin hari penentangan dan kecaman terhadap sains dan saintis semakin gencar.

Walaupun banyak perdebatan dalam hal ini, tapi hal yang memang terjadi adalah bahwa jika para saintis dan folosof dahulu itu dikecam dan dikucilkan, hal itu disebabkan oleh sikap dan perilaku mereka sendiri. Pada puncak kemajuan dan kemakmurannya, banyak sekali diantara mereka yang secara diam-diam telah murtad dan kufur terhadap ajaran Islam. Terdapat tren free thinking, eksentrik, liberal dan secular. Para saintis yang menamakan dirinya ikwan as-Safa’ yang mengingkari kenabian Muhammad SAW. Ada juga yang terang-terangan mengonsumsi khamar seperti Umar al-Khayyam dan Ibn Sina atas berbagai macam alasan. Kehidupan hedonis saat itu sudah mulai dipraktikkan oleh kalangan istana dan kaum elit yang terdiri dari para politisi, cendekiawan, saintis, dan budayawan semacam Ibn al-Muqaffa’, Abu Hayyan at-Tawhidi, al-Jahiz atau Abu Nuwas—kehidupan malam dengan pesta arak dan erotisisme.

Krisis ekonomi dan instabilitas politik sangat  berpengaruh terhadap perkembangan sains, perang saudara, disintegrasi, krisis militer dan hancurnya ekonomi termasuk yang ‘berkontribusi’ atas kemunduran sains Islam masa itu. Semua ini diperparah lagi dengan serangan tentara salib (1099), pembantaian riconquista di Spanyol (1065-1248M) yang memakan ratusan ribu korban, dan invasi pasukan mongol yang berhasil menduduki Baghdad pada 1258M.

Adapun factor internal seperti kelemahan metodologi, kurangnya matematisasi, langkanya imajinasi teoretis, dan jarangnya eksperimentasi. Sedangkan Toby E. Huff. Menganggap iklim social-kultural-politik saat itu yang dianggapnya gagal menumbuhkan semangat universalisme dan otonomi kelembagaan di satu sisi, dan membiarkan partikularisme dan elitism berkembang biak. Ada juga klaim yang menghubungkan kemunduran sains dengan sufisme. Pada perkembangannya, gerakan sufisme kemudian mengkristal menjadi tarekat-tarekat yang banyak pengikutnya dari masyarakat awam yang lebih tertarik dengan hal-hal mistik supernatural (keramat, kesaktian, keajaiban) ketimbang aspek ubudiyyah dan akhlaqnya. Itu semua menyuburkan berbagai bentuk bid’ah, takhayyul dan khurafat, akibatnya yang berkembang bukan sains, tetapi magic (sihir serta perdukunan), mujarrobat dll.

Penutup

Dengan mempelajari sejarah kemajuan dan kemunduran sains dalam Islam ini, hal penting yang dapat kita ambil hikmahnya adalah kita harus bisa bijak terhadap sains, adil, bisa menghargai sesuatu, dan meletakkannya pada tempatnya. Tidak selalu dikuasai oleh ‘gengsi’ ataupun taassubiyah dalam hal ilmu.

Muslim dapat meraih kembali kejayaannya jika mereka mau belajar dari sejarah agar tidak terjatuh ke jurang kegelapan berkali-kali.

 

Referensi:

  1. Dr. Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran. (Jakarta: Gema Insani Press, 2008)
  2. Sardar Ziauddin, Sains, Teknologi dan Pembangunan di Dunia Islam. (Kuala Lumpur: Syarikat Dian Sdn Bhd, 1981)
  3. Perkuliahan “Curriculum of Islamic Education”, Lecturer: Dr. Zahiri Awang Mad.
  4. http://www.indoforum.org/showthread.php?p=1611675 Fakta-fakta milik Islam yang disembunyikan
  5. lib.kedah.uitm.edu.my/psblibrary/notes/…/1.pdf. Sains dan Tekhnologi Islam

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: