ISFI online

Beranda » Ringkasan Talk » Agama dan Akhlak

Agama dan Akhlak

Falsafah hidup barat yang cenderung untuk memisahkan manusia dari agama, menjauhkan manusia dari Tuhan, tergambar dalam teory utilitarianisme-nya Jeremy Bentham dan John Stuarmill. Teori ini menempatkan manusia, baik itu individu atau kelompok, di atas segala-galanya, dan pada saat yang sama mengesampingkan agama ataupun Tuhan.

Segala sesuatu, termasuk ‘kebaikan’ (moral/ethics, dalam Islam: akhlak) diukur dari sisi apakah sesuatu itu membawa manfaat atau tidak bagi manusia. Jika sesuatu tersebut bermanfaat dalam pandangan manusia maka itulah ‘kebaikan’ sekalipun itu bertentangan dengan hukum Tuhan.

William James dalam teory etika pragmatis-nya, mengatakan hal yang sama, bahwa ‘baik dan buruk’ itu tergantung pada ‘kepentingan’ manusia. Kepentingan manusialah yang dijadikan standar akhlak.

Karena kepentingan ‘manusia’ yang dijadikan standar akhlak, maka tidak mengherankan jika hukum-hukum yang bertentangan dengan agama seperti homo, lesbian, sex bebas, diterima ditengah masyarakat Barat, karena semua ini dianggap untuk mengakomodir kepentingan manusia.

Kepentingan manusia yang dimaksudkan Barat sebenarnya adalah kepentingan individu. Asal seseorang baik secara individu maka ia sudah memenuhi standar bermoral dengan baik. Karena kepentingan manusia bermacam, setiap individu mempunyai kepentingannya masing-masing, maka peluang terjadinya bentrokan antara kepentingan sangat besar. Di sinilah standar moral menjadi sulit untuk ditentukan.

Hubungan antara agama dan akhlak?

Ada dua pendekatan yang digunakan Dr. Darraz untuk memahami hubungan antara agama dan akhlak; pertama pendekatan praktis dan kedua pendekatan teoritis.

Secara praktis, hubungan antara agama dan akhlak tidak ada sama sekali. Artinya akhlak bisa berdiri sendiri meskipun tanpa agama, atau dalam bahasa lain, akhlak itu akan tetap ada walaupun tidak ada hukum dari Tuhan yang mengajarkan tentang akhlak itu.

Untuk mendukung teorinya, Darraz kemudian mencontohkan seorang anak yang mampu mengetahui ‘mana yang baik dan mana yang buruk’, ‘mana yang menyenangkan dan mana yang menyakitkan’, oleh karena itu anak-anak cenderung memilih minum susu karena dia tahu itu baik baginya, atau akan menangis ketika kelaparan karena itu buruk baginya.

Melalui contoh ini, Darraz seakan-akan ingin menyampaikan bahwa manusia itu sejak kecil memiliki insting atau naluri mengenal ‘kebaikan/akhlak’ sekalipun agama tidak mengajarkannya.

Adapun secara teoritis, meskipun tampak antara agama dan akhlak tidak ada kaitan apa-apa, –karena agama dipahami sebagai “suatu keimanan terhadap suatu zat yang agung atau hubungan ibadah” yang tidak ada kaitannya dengan aspek akhlak– namun setelah dipahami secara mendalam “agama tidak hanya dimaknai sebagai ibadah tetapi juga ajaran moral/akhlak yang mengatur kehidupan praktis manusia dengan tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungannya” maka disinilah bertemunya agama dan akhlak.

Tentu saja dua pendekatan Darraz ini sepertinya lahir dari pengamatannya yang tidak hanya terhadap agama Islam tetapi juga agama lain.

Berbeda dengan Darraz yang melihat hubungan agama hanya ada pada tataran teoritis, Dr. Anis Malik Thoha justeru melihat adanya hubungan agama dan akhlak pada tataran teoritis dan praktis.

Adalah benar bahwa agama dan akhlak tidak ada hubungannya jika itu dikaitkan dengan “agama lain”, tetapi tidaklah benar bahwa agama dan akhlak tidak ada hubungannya jika itu dikaitkan dengan agama Islam.

Menurut Dr. Anis, agama itu sendiri meliputi akhlak, ini tercermin dalam sebuah hadis “ad-din husnul khuluq” (agama itu adalah akhlak yang baik). Selain itu garapan utama dari diturunkannya agama adalah untuk memperbaiki akhlak.

Dari segi semantikpun, akhlak (اخلاق) , Khalik (خالق) , dan makhluk (مخلوق) , memiliki akar kata yang sama yaitu kha-la-qa (خ-ل-ق).  Ini artinya hubungan antara makhluk dan Khalik (Yang menurunkan agama) terjalin melalui akhlak.

Dr. Anis juga tidak sependapat dengan Darraz yang mengatakan bahwa insting mampu mengenal ‘baik dan buruk’. Karena, menurutnya, banyak hal yang menurut insting baik tetapi sebenarnya buruk atau sebaliknya. Bisa saja orang menganggap khamar itu baik dengan alasan mampu memberikan ketenangan padahal itu buruk menurut agama.

Akhirnya, Dr. Anis ingin menekankan bahwa dari pada memahami ‘hubungan agama dan akhlak’ dari persepsi sejarah (secara praktis) yang berakibat pada pemisahan agama dan akhlak, lebih baik memahami agama dari definisi agama itu sendiri, bahwa agama itu sendiri adalah akhlak.

Disarikan oleh Ali Rakhman dari Kajian Mingguan Kitab Ad-Din bersama Dr. Anis Malik Thoha



Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: