ISFI online

Beranda » Ringkasan Talk » Menjadi Muslim Kritis

Menjadi Muslim Kritis

“The imitation, individually and socially, of modern Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence or rather the revival of Islamic civilization.” [Muhammad Asad]

Kecenderungan masyarakat untuk menelan mentah-mentah teori-teori impor dari barat tanpa memilih, meneliti, dan mengkritisi merupakan ancaman bagi eksistensi agama. Ideologi-ideologi baru yang bertolak belakang, dan sememangnya tidak mungkin dipertemukan, kemudian coba untuk dipaksakan kedalam Islam. Akibatnya timbullah kerancuan dalam beragama. Jadi, tidaklah mengherankan jika ditemukan mereka yang mengaku beragama Islam tetapi tidak beretika dengan etika yang diajarkan oleh Islam. pemecahan masalah tidak lagi ditimbang dengan neraca agama tetapi ditimbang dengan ideologi-ideologi yang sebenarnya menggantikan posisi agama.

Ideologi demokrasi, marxisme, nasionalisme, rasionalisme, sekularisme, liberalisme, humanisme, universalisme, dan lainnya, [yang didewa-dewakan pengagumnya, khususnya umat Islam], oleh para ahli/pakar dibidang ideologi-ideologi ini dianggap sebagai ‘agama’.

Dalam dukungannya terhadap demokrasi, John Dewey, filosof asal Amerika, dengan lantangnya menyeru kepada warga Amerika untuk bersama-sama menuju demokrasi, bahkan dalam teorinya dia mengemukakan bahwa ‘Demokrasi sama kedudukannya dengan Tuhan’Democracy and the one, ultimate, ethical ideal of humanity are to my mind synonymous [1]  .  Jadi, Jika dalam sebuah agama ada tuhan maka tuhan itu adalah demokrasi, karena demokrasilah yang akan mengatur tata nilai kehidupan masyarakat Amerika.

Roderick Ninian Smart, Profesor perbandingan agama di University of California at Santa Barbara, U.S., mengatakan: “An ideology such as Marxism as well as nationalism and rationalism could be considered religious, because they resemble religious traditions in how they function….”[2], sebuah ideologi seperti Marxisme, nasionalisme dan rasionalisme dapat dianggap sebagai agama, karena menyerupai tradisi yang ada dalam agama.

Lebih Jauh, nasionalisme misalnya, Robert N. Bellah dalam ‘Civil Religion’ berpendapat bahwa, ritual-ritual kenegaraan, simbol-simbol publik, dianggap sebagai agama:

The public religious dimension is expressed in a set of beliefs, symbols, and rituals that I am calling American civil religion. The inauguration of a president is an important ceremonial event in this religion. [3]

Yang sangat mengherankan adalah, jika para pakar barat mengaku bahwa ideologi-ideologi diatas adalah ‘agama’ lalu mengapa kemudian umat Islam dengan mudahnya menerima ideologi-ideologi ini, pada saat yang sama, mereka merendahkan, memojokkan, menolak nilai-nilai Islam. Ini sama artinya, berakidah Islam tetapi beramal dengan agama lain [agama isme-isme].

Tidak berhenti disitu, mereka menyanjung pengusung ideologi-idologi ini, pada saat yang sama, mereka menghepas wibawa dan otoritas para ulama.

Dr. Anis menekankan, barat punya alasan tersendiri untuk menerapkan ideologi mereka, karena mereka memiliki latar belakang sejarah yang kelam, sebagai contoh, dalam sejarah mereka, perempuan dianggap rendah, lalu lahirlah feminisme sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan. Ini berbeda dengan Islam yang tidak memiliki sejarah hitam sehingga harus menerapkan feminisme dalam Islam.  Dalam sejarah Islam perempuan memiliki kedudukan yang tinggi.

Adapun upaya-upaya untuk mengislamisasikan ideologi-ideologi ini dengan cara memberi label Islam, contoh liberalisme Islam, demokrasi Islam, adalah sesuatu yang tidak mungkin karena berangkat dari worldview yang berbeda. Istilah liberalisme tidak dikenal dalam tradisi Islam demikian juga demokrasi. Kalaupun bisa hanya sebatas pembetulan konsep, misalnya, konsep demokrasi dalam pandangan Islam, konsep  liberal dalam pandangan Islam dan sebagainya.

Dr. Anis sangat menyayangkan mereka yang mendefinisikan istilah-istilah yang datang dari barat tanpa mengembalikannya kedefinisi asalnya seperti yang dikehendaki oleh barat itu sendiri. sebagai contoh pluralisme, ada yang beranggapan bahwa pluralisme adalah toleransi beragama. Ini, sebenarnya, adalah anggapan subjektif yang ditolak oleh pakar pluralisme Diana L. Eck, direktur The Pluralism Project di Universiti Harvard dalam penjelasannya ‘what is pluralism’?[4] yang kemudian dianalisis oleh Dr. Anis sehingga sampai pada kesimpulan bahwa Pluralisme adalah Relativisme (semua agama adalah sama, valid dan autentik). Jadi, sebuah kekeliruan besar, ketika memahami istilah barat dengan pemahaman sendiri. [5]

Dr. Anis juga menyesalkan mereka yang menutup diri dan negative thinking terhadap karya-karya para ulama, bahkan mengganggap karya ulama tidak ilmiah, [walaupun mereka sendiri tidak tahu standar ilmiah itu seperti apa], sehingga lebih suka dan terbuka untuk membaca karya-karya barat. Ini tidak berarti beliau mencegah untuk membaca karya-karya barat bahkan beliau menganjurkan untuk memperkaya bacaan, karena bagaimanapun juga barat memiliki sisi positif, namun yang beliau tekankan adalah bagaimana seorang muslim mampu menggunakan pisau analisis, daya pikir kritis ketika berhadapan dengan teks-teks yang mengandung pesan ideologi barat, sehingga tidak mengekor dan menelan begitu saja walaupun itu racun.

 

Sari kajian mingguan kitab Ad-Din bersama Dr. Anis Malik Thaha, oleh Ali Rakhman.

 

[1] http://en.wikipedia.org/wiki/John_Dewey#On_democracy

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Ninian_Smart

[3] http://www.robertbellah.com/articles_5.htm

[4] http://pluralism.org/pages/pluralism/what_is_pluralism

[5] http://irep.iium.edu.my/3202/1/Ciri.pdf


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: