ISFI online

Beranda » Ringkasan Talk » Seperangkat Nilai Sebagai Agama

Seperangkat Nilai Sebagai Agama

Disadari atau tidak, manusia dalam kehidupannya, tidak terlepas dari seperangkat nilai yang menjadi pijakan dalam setiap tindakannya. Jika mengikut kepada pendapat Salomon Reinach yang menyatakan bahwa inti agama adalah puncak perhatian(ultimate concern), sekumpulan aturan-aturan yang membatasi kebebasan perilaku seseorang, maka paham-paham atau ideologi yang membawa nilai-nilai tertentu, bisa dimasukkan dalam list agama-agama.

Dengan adanya kelonggaran dalam mendifinisikan agama, sebagaimana dicontohkan oleh Reinach, maka akan ada kehatian-hatian dan kritis terhadap paham-paham yang sekarang banyak digaungkan dengan klaim ia membawa nilai-nilai yang universal. Selama ini definisi agama yang banyak diterima adalah agama dalam pengertian agama konvensional. Yaitu agama yang membawa tata cara peribadatan kepada Tuhan, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan mempunyai sebuah kitab suci.

Melihat agama secara sempit bisa berimplikasi kepada ketidakpekaan terhadap paham-paham baru yang selamanya tidak bisa berjalan seiring dengan agama. Karena paham-paham tersebut tidak mempunyai ritual ibadat tertentu dan kitab suci, maka banyak yang memandangnya sebagai bukan agama. Padahal, paham-paham baru ini tidak kalah dahsyatnya dengan agama-agama baru, dan bisa menyingkarkan agama(perannya) yang sudah ada dalam tatanan masyarakat.

Dari penilaian yang sempit tentang arti agama, maka memang tidak akan ditemukan hubungan antara akhlak dan agama. Agama dan akhlak adalah dua hal yang berdiri sendiri di wilayahnya masing. Karena, faktanya nilai-nilai moral yang dipraktekan tidak terlahir dari rahim agama(konvesional), tetapi dari paham-paham lain telah yang menjalani proses penyulingan dan diadopsi sebagai nilai-nilai(yang diklaim) universal. Kesimpulan inilah yang didapat, bahwa tidak ada hubungan antara moral/etika dengan agama dan moral bisa tegak dengan atau tanpa agama, jika berpijak dengan praktek keagamaan di Barat. Yang perlu dicermati adalah nilai-nilai moral yang dipakai di Barat adalah berasaskan kepentingan(asas manfaat). Karenanya nilai-nilai moral mereka selalu berubah, mereka tidak punya nilai-nilai moral yang baku.

Ideologi-ideologi baru yang membawa seperangkat nilai untuk manusia, oleh orang Barat sendiri diakui sebagai agama atau semi agama. Auguste Comte misalnya menyebut humanisme sabagai religion of humanity. Atau konsep Demokrasi, oleh Jhon Dewey, yang mengembangkan filsafat William James, disebut sebagai common faith. Ia menyeru kepada rakyat Amerika untuk menerima dan berwala’ kepada ideologi common faith ini. Ia berkata, kalau kita harus menetapkan Tuhan untuk konsep demokrasi, maka nilai-nilai di dalam demokrasi itulah yang kita jadikan Tuhan.

Kenyataanya, paham-paham modern yang sekarang banyak ditawarkan atau lebih tepatnya dipaksakan dipakai di Negara-negara muslim, mengandungi semua unsur atau anatomi agama konvensional. Mulai dari konsep ketuhanan, ritual peribadatan, nabi-nabi, hingga kitab suci.

Barat punya alasan sendiri ketika menciptakan ideologi-ideologi baru dan tidak mau memasukkan nilai-nilai yang dibawa agama ke ruang publik. Pertama, mereka punya pengalaman yang sangat kelam dalam kehidupan beragama, jadi ada ketakutakan itu akan berlaku kembali. Kedua, faktanya bahwa ajaran-ajaran agama mereka tidak bisa diterapkan di alam nyata.

 

Respon Islam

Permasalahan ini dikaji dengan mempertanyakan apakah Islam tidak cukup untuk mengaspirasi nilai-nilai yang ingin diakomodir dengan konsep-konsep modern tersebut. Selanjutnya, apakah konsep-konsep ini bisa diharmonisasikan dengan ajaran Islam?

Untuk pertanyaan pertama, jawabannya bukan terkait dengan penolakan secara menyeluruh nilai-nilai dari luar Islam. Islam menerima nilai-nilai dari luar selama tidak bertabrakan secara prinsip. Masalahnya, ada perbedaan pandangan nilai-nilai yang sangat jauh, antara Barat dan Islam. Contohnya, konsep kebebasan dan kemerdekaan. Barat punya pandangan tersendiri tentang kebebasan dan Islam punya pandangan tersendiri tentang kebebasan. Kebebasan menurut Barat, kebebasan tanpa batas, asal membawa manfaat kepada individu dan tidak menyakiti orang lain. Sementara dalam Islam, kebebasan terikat dengan rambu-rambu agama. Jadi nilai yang ingin diaspirasikan berbeda, walaupun ada kesamaan penamaan.

Untuk pertanyaan kedua, jawabanya tidak bisa. Ini karena secara konsep sudah sangat bertentangan. Paham-paham yang dikembangkan barat dan dipaksakan untuk diterima, semuanya berpusat kepada manusia sebagai penentu. Baik, buruk, boleh, terlarang, berguna, membahayakan; semuanya dipusatkan kepada penilaian manusia. Konsep seperti ini sama artinya dengan menyingkirkan Tuhan sebagai pengatur, dan mengangkat manusia kepada posisi Tuhan(pengatur) dan ini tidak bisa dipertemukan dari sisi manapun dengan Islam.

Penilaian langsung kepada sumber-sumber ideologi-ideologi akan melahirkan suatu keterarahan dalam bersikap. Ini dikarenakan, dengan melihat langsung kepada worldview atau carapandang di balik paham tersebut, seseorang tidak akan disibukkan dengan bagian yang parsial, yang memukau, bahkan menghanyutkan karena indahnya istilah-istilah yang digunakan untuk menerangkan paham-paham tersebut. Inilah yang banyak menimpa intelektual muslim.

Dampak yang paling kronis bisa terlihat dari pernyataan yang menyamakan Islam dengan Kristen, bahwa ia tidak aplikativ untuk zaman yang semakin maju sekarang. Sikap menyamakan ini tidak berlandasan. Barat menolak agama(Kristen) berdasarkan pengalaman buruk. Dalam Islam, yang terjadi adalah sebaliknya. Ketika Islam diterapkan dengan properly, yang terwujud adalah kegemilangan, keadilan, kemajuan ilmu pengetahuan, budaya, dan keterjaminan sampainya hak kepada yang berhak, dan kesejahteraan. Wallahu’alam. [Reno Ismanto]

 

Sari Kajian Kitab Ad-Din bersama Dr. Anis Malik Thoha

 


1 Komentar

  1. […] dimuat di ISFI Online […]

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: