ISFI online

Beranda » Ringkasan Talk » Antara Agama dan Filsafat (2)

Antara Agama dan Filsafat (2)

Lebih lanjut tentang perbedaan agama dan filsafat diterangkan oleh filosuf Ibnu Sina. Ia berpandangan bahwa, walaupun agama dan filsafat mempunyai definisi yang sama terhadap term kebaikan dan kebenaran, akan tetapi perhatian masing-masing terhadap dua term tersebut berbeda.

“Dari ajaran-ajaran Tuhan (agama) disadur prinsip-prinsip praktikal kebijaksanaan serta batasan-batasannya secara sempurna. Adapun terhadap teoritis kebijaksanaan, agama hanya berperan ‘mengingatkan’ dan memberikan ruang luas kepada rasio untuk mencapainya untuk digunakan sebagai hujjah bertindak”. ( Ibnu Sina, Risalah At-Tabiiyat)

Apa yang mampu disimpulkan adalah bahwa perhatian agama terhadap sisi praktikal kebijaksanaan(hikmah) lebih besar dibanding sisi teori. Namun kita juga mengetahui sebagian aliran filsafat ada yang serupa dalam hal ini, sehingga perbedaan ini tidak cukup untuk menjadi pengklasifikasian antara esensi ajakan agama dengan ajaran-ajaran filsafat, secara menyeluruh(muthrodah).

Sementara, ilmuwan-ilmuwan barat berpandangan perbedaan antara agama dan filsafat adalah sebagai berikut:

  1. Filsafat dianut manusia kelas elit, yaitu orang-orang yang mempunyai akal atau kemampuan berpikir cemerlang. Sementara agama dianut oleh kelas rendah(grassroot), masyarakat kebanyakan. Mereka mengatakan bahwa tidak heran jika pertumbuhan agama, kehidupan pembawa agama dan kondisi-kondisi ketika buku-buku agama dituliskan, tidak terlepas dari catatan-catatan suram. Filsafat tidak mengalami ini, malah kebalikannya.
  2. Agama diwarisi oleh manusia dari pendahulunya, sementara filsafat diperoleh dari kegiatan berpikir dan perenungan, yang terkadang bertentangan dengan keyakinan yang diwariskan.
  3. Falsafah selalu berevolusi, sementara agama cenderung kepada stagnan, tidak berkembang. Hal ini wajar karena penganut agama tidak akan mau mengubah keyakinannya setiap hari atau “mempertanyakan” ulang imannya, lebih-lebih penganut agama yang mempunyai kitab suci yang diyakini sebagai wahyu Tuhan.
  4. Agama tidak terlepas dari manifestasi sosial, berupa perayaan-perayaan, sebagai tanda keterikatan penganutnya. Ide-ide agama juga butuh kepada bentuk ritual tertentu, atau lambang-lambang tertentu, sebagai jalan bagi penganut untuk merenew “perjanjian” keberagamaannya, yang selalu berpotensi untuk “terlupa” karena kesibukan kehidupan duniawi. Sementera, filsafat tidak berhajat kepada ritual atau perayaan seperti ini. Karena akidah filsafat selalu hadir dalam diri seorang filosuf di hampir semua waktu dalam hidupnya. Filsafat juga tidak butuh kepada simbol tertentu, karena akal tidak mewajibkan itu, dan kalau ternyata ditemui ada, maka itu adalah sebuah penyimpangan dalam berfikir filsafat.
  5. Agama hidup dan berkembang dengan naungan kekuatan atau kekuasaan, seperti negara/kerajaan. Filsafat hidup dalam alam bebas(tidak terikat).

Kesimpulan seperti ini didapat karena perbandingan antara agama dan filsafat tidak menyentuh seluruh fase-fase yang dilaluinya. Mereka, hanya membandingkan perjalanan agama dan filsafat dalam skala Eropa saja. Sehingga, wajar kalau agama terkesan mempunyai catatan suram, dan sebaliknya filsafat sebagai sebuah terobosan baru yang membawa pencerahan.

Kesimpulan lainnya bahwa agama adalah agama adalah tercipta oleh kesepakatan sebuah kelompok masyarakat(kecil atau besar) terbantahkan jika kita melihat kepada sejarah agama-agama di awal kemunculannya. Kita mendapati agama-agama dibawa dan dikembangkan(sehingga diikuti banyak orang) oleh tokoh-tokohnya dan seringkali dinisbahkan kepada mereka; Musa, Budha, Isa, Mani, Muhammad, Martin luther, dll. Bahkan agama-agama pagan, tidak terlepas dari seorang tokoh yang memperkenalkanya, baru kemudian mendapat banyak penganut.

Ketidaktauan penganut sebuah agama akan pembawa agama tidak bisa jadi bukti bahwa agama ciptaan atau hasil kesepakatan masyarakat, tanpa ada seorangn penggagasnya.

Ketidak jelasan riwayat hidup pembawa agama, kesulitan untuk menentukan tahun kemunculan dan keterputusan atau kerancuan dalam kitab-kitab suci agama, bukanlah suatu kaidah umum yang berlaku pada setiap agama. Sejarah Islam dengan perjalanan emasnya, serta catatan-catatan tentang nabi pembawa dan kitab sucinya, yang membuat kita merasakan seolah Islam adalah sebuah yang agama baru terlahir kemarin, adalah fakta yang menyangkal hal ini.

Jika agama dinyatakan sering mengalami masa-masa stagnan, bahkan bertahun-tahun atau abad-abad, sampai muncul para pembaharu yang berusaha untuk menghidupkannya , maka ini juga berlaku dalam filsafat dan cabang-cabang ilmu lain. Bahkan dalam ilmu matematika dan biologi(nature). Dalam disiplin ilmu-ilmu ini, perubahan, pembaharuan atau penemuan-penemuan baru tidak ubahnya seperti dalam agama; mendapat penentangan keras dan dianggap sebagai ide gila.

Bahwa agama hidup dalam manifestasi sosial berupa ritual atau perayaan, juga tidak berlaku dalam semua agama. Ada agama-agama yang bersifat keindividuan, yang hanya berupa intuisting atau keyakinan dalam diri. Mereka lebih fokus kepada membersihkan hati dan tidak tertarik dengan gaya-gaya agama yang bersifat ritual. Bahkan, kita bisa mengatakan bahwa agama-agama besar yang dianut jutaan orang, seperti Budha, tidak selalu terikat atau mementingkan perayaan. Budha lebih menekankan perenungan, menyendiri dan hidup sederhana. Sebaliknya, kita dapati sebagian filosuf, seperti August Comte, menyiapkan dengan secara lengkap moto-moto dan ritual untuk aliran filsafat yang dibawanya.

Tersisa dua pandangan lagi; pertama, filsafat hidup dalam ruang yang bebas, kedua, agama tidak bisa hidup kalau tidak didukung kekuasaan.

Pandangan ini dari bebarapa sisi benar, tapi tidak mutlak. Jika dikatakan bahwa keberadaan agama selalu bergantung kepada kekuasaan, maka tidaklah benar. Karena, kita mengetahui banyak agama yang muncul dan berkembang dalam suasana penuh kebersahajaan dan toleransai, jauh dari kekuasaan. Budha sebagai contoh paling nyata. Bahkan Kristen dan Islam diawal kemunculanya, paling tidak, menjunjung tinggi kemerdekaan keyakinan dan tidak pernah memaksakan agamanya. Dan pada saat yang sama, kita mengetahui filsafat pernah beberapa masa naik ke kursi kekuasaan, lalu kekuasaan itu menjadi alat mereka untuk membrangus musuh pemikirannya.

Jika yang dimaksudkan bahwa agama bersandar kepada kekuasaan adabi dalam masyarakat, dalam artian bahwa suatu kelompok manusia mengikut kepada seorang tokoh, sehingga walaupun mereka berbeda-beda tetapi disatukan oleh sebuah pemikiran, maka ini benar, untuk batasan tertentu, yaitu agama dalam kelompok masyarakat primitif; kelompok masyarakat yang sangat terbatas interaksinya dengan luar.

Adapun jika yang dimaksudkan bahwa agama berkuasa atas individu penganutnya, maka inilah karakteristik yang dimiliki setiap agama. Ide agama, dengan berbagai manisfestasi dan tingkatannya, menetapkan bahwa apa yang dinyatakan agama kesemuanya bersandarkan kepada kekuatan absulot yang harus diterima dan ditaati dan tidak terbuka lagi ruang untuk dibahas apalagi untuk diragukan. Filsafat tidak berhak untuk mempermasalahkan ini.

Melihat kepada karakterstik pemikiran agama seperti ini menyampaikan kita kepada muara tentang perbedaan antara kekuatan dalam jiwa yang berfungsi untuk (sekedar) mengetahui dan kekuatan jiwa sebagai sebuah iman. Seseorang boleh saja mengetahui arti lapar dan haus tanpa harus merasakannya, memahami makna cinta dan kerinduan padahal ia tidak pernah mengalaminya, mengerti tentang keindahan syair, keutamaan akal, politik, atau itu semua tanpa ada loyalitas kepadanya.

Iman adalah tentang cita rasa, intuisting, yang membawa sebuah pemikiran yang muncul dari rasio kepada jiwa. Iman ini menjadi imun bagi jiwa dan menjadi pembentuk jiwa itu sendiri. Maka, tema tentang iman adalah hakikat terbesar dari existensi. Iman kemudian melahirkan loyalitas.

Dari sini jelaslah perbedaan antara agama dan filsafat. Tujuan filsafat adalah memikirkan, mengetahui. Tujuan agama adalah iman. Filsafat lebih kepada teori, bahkan dalam tema-tema yang praktikal. Sementara agama mengharuskan juga praktik.

Paling jauh, filsafat ingin mengenalkan kita arti kebenaran dan kebaikan, dan di mana ia berada. Filsafat kemudian tidak mempertanyakan bagaimana sikap kita terhadap kebenaran atau kebaikan yang telah diketahui tadi. Sementara agama menunjukkan nilai-nilai, dan mengharuskan penganutnya untuk mengimani, mencintai dan mengamalkan nilai-nilai tersebut.

Agama sebagai pembawa nilai mempunyai karakteristik bahwa ia menghendaki penuntutnya untuk menyebarkan nilai-nilai tersebut kepada orang lain, sehingga agama memiliki banyak pengikut. Lain halnya dengan filsafat, ia bersifat eksklusif. Jika seorang filosuf mengajak orang lain untuk mengikuti pemikirannya maka pemikirannya tidak lagi sebagai filsafat, tetapi menjadi sebuah iman, dan ia secara serta merta telah menukar jubah filosufnya dengan jubah Nabi. Wallahu’alam. [Reno Ismanto]

 

# Sari Kajian Kitab Ad-Din bersama Dr. Anis Malik Thoha

 


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: