ISFI online

Beranda » Opini » Bahasa Agama dan Penafsiran Kalam Ilahi

Bahasa Agama dan Penafsiran Kalam Ilahi

Oleh : Wahyu Ichsan*

Membaca berarti menafsirkan. Lebih jauh lagi, membaca atau menafsirkan berarti “menulis ulang” dalam bahasa mental dan bahasa pikir sang pembaca namun tidak dituliskan. Ketika sebuah teks hadir didepan kita, maka sebuah teks akan berbunyi dan berkomunikasi ketika kita membacanya dan ketika kita membuat makna berdasarkan tanda baca yang ada. Menurut Qomaruddin Hidayat, dalam buku Memahami Bahasa Agama mengatakan bahwa teks itu berada dalam tiga variabel yaitu dalam teks, dalam otak pengarang, dan dalam benak pembacanya. Ketiganya ini memiliki titik pusarannya tersendiri walaupun saling mendukung dan sebaliknya, yaitu membelokkan dalam memahami teks. Bahkan menurutnya, lebih ekstrim lagi terdapat sebuah pendapat yang menyatakan bahwa “Pikiran yang di ucapkan adalah suatu kebohongan”. Maksudnya pikiran yang diucapkan kata-kata selalu melibatkan pilihan kata yang dianggap tepat, artinya disana selalu terdapat kebenaran yang tersisa. “Memilih” mengandung arti menyisihkan, sehingga dari sekian banyak perasaan, pengalaman, dan gagasan yang ada dalam jiwa seseorang tidak akan terungkapkan semuanya. Dengan demikian apa yang tersisa dalam hati dan pikiran seseorang bisa jadi banyak yang tidak terungkap dari pada yang dikemukakan. Sebab bahasa, redaksi atau kata yang diungkap baginya belum mewakili dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan olehnya.

Demikian pula yang menjadi persoalan dalam teks-teks agama bagi sebagian orang, banyak orang-orang yang beragama salah dalam memahami bahasa teks agama. Kesalahpahaman bisa muncul dari pihak pembicara (penulis, pengarang), bisa juga dari pihak pendengar, atau juga bisa dari medium atau alat komunikasi yang digunakannya yang memang tidak cukup untuk menampung sebuah gagasan. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan perbedaan antara bahasa iklan, bahasa politik, bahasa ilmu pengetahuan, bahasa obrolan yang penuh persahabatan dan bahasa lainnya. Mengapa berbeda, karena konteksnya berbeda. Oleh sebab itu Hidayat menyebutkan sungguh bodoh dan tidak komunikatif orang yang memahami sebuah wacana hanya dari segi literalnya. Dalam bahasa agama akan sangat rentan terjadinya kesalahan dalam memahami teks, sebab bahasa agama sering menggunakan bahasa simbolik dan metaforik.

Masih menurut Hidayat, ia menjelaskan bahwa bahasa Metafisik ialah bahasa atau ungkapan yang menjelaskan objek yang bersifat metafisikal, terutama tentang Tuhan. Sebahagian berpendapat bahwa apapun yang diungkapkan oleh kitap suci tentang Tuhan hanya mampu dipahami oleh manusia sebagai ungkapan yang analogis dengan alam pikiran dan dunia empiris manusia. Karena berbagai pernyataan tentang Tuhan tidak bisa diverivikasi dan difalsivikasi secara obyektif dan empiris, maka dalam memahami kitab suci seseorang cenderung menggunakan standarganda.

Julian Baggini sependapat dengan Komaruddin, ia menyatakan bahwa walau bagaimanapun, akan sangat sulit untuk menemukan satu pemahaman bahasa agama yang memuaskan. Bahkan menurutnya, orang beriman yang paling agamis sekalipun tidak ingin mengatakan bahwa bahasa yang mereka gunakan benar-benar metaforis dan figuratif. Memahami Jesus putra Tuhan misalnya, mungkin kita harus memahami “putra” berbeda dari biasa. Tetapi orang kristen, tentu saja tidak bermaksud Jesus sungguh-sungguh putra Tuhan dan frase “Putra Tuhan” hanyalah metafor. Jika hal ini dilema yang dihadapi para kaum beragama, jika bahasa agama ditafsirkan sebagai bahasa biasa, banyak masyarakat beragama kelihatan absurd.

Ian T. Ramsey mengatakan bahwa salah satu fungsi bahasa, terlebih lagi bahasa agama adalah sebagai media untuk menyatakan kehadiran sebuah realita atau persona. Ketika dua orang misalnya, bertemu masing-masing memperkenalkan nama diri, maka ekspresi penyebutan nama bagaikan mencairkan sebuah es. Sebuah percakapan dan pertemuan akan merubah suasana dari sekadar himpunan benda-benda mati menjadi suasana yang hidup yang terdiri dari persona yang berpripadi. Dan semua ini tak akan terjadi tanpa peran bahasa yang menjembatani serta membukakan jalan bagi sebuah komunikasi bagi antara sesama manusia, antara manusia dan alam, dan antara manusia dengan Tuhan.

Qomaruddi Hidayat dalam bukunya “Memahami bahasa agama”, membagi pengertian bahasa agama kepada dua orientasi, yaitu theo-oriented dan antropo-oriented. Yang pertama apa yang disebut bahasa agama ialah kalam ilahi yang kemudian terabadikan kedalam kitap suci. Disini Tuhan pada kalamnya lebih ditekankan, sehingga pengertian bahasa agama yang paling mendasar adalah bahasa kitap suci. Adapun yang kedua, bahasa agama adalah ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelompok sosial. Jadi bahasa agama dalam pengertian kedua dalah wacana keagamaan yang dilakukan umat beragama maupun sarjana ahli agama, meskipun tidak selalu menunjukkan dan menggunakan ungkapan-ungkapan kitab suci.

Selanjutnya, dengan sangat rinci beliau menjelaskan perbedaan antara bahasa agama dengan bahasa iptek. Namun penulis akan meringkas penjelasannya menjadi satu paragraf saja. Menurutnya bahasa agama cenderung “return” yaitu menegok dan kembali kebelakang kepada Tuhan, sementara bahasa iptek cenderung “research,” yaitu melangkah ke depan dan menatap alam sebagai yang berada di depan dan selalu mengajak untuk memahami. Oleh karena itu ketika iptek dilihat dan diyakini sebagai “ideologi” -karena sebahagian masyarakat merasa cukup menyelesaikan problema kehidupan melalui jasa iptek –maka pada saat itu iptek dipandang telah berdiri sejajar sebagai rival agama.

 

Penafsiran Wahyu Ilahi

Manusia yang berperadaban sebahagian besar merupakan dunia makna-makna tentang kaidah moral dan pengetahuan mengenai obyek yang bersifat empiris maupun metafisis. Dunia makna ini kemudian diawetkan dalam wadah berupa tradisi yang dikomunikasikan secara turun temurun melalui sarana bahasa lisan dan tulisan. Bahkan Tuhanpun berkomunikasi pada manusia memerlurkan media bahasa, misalnya al-Quran yang berbahasa arab. Persoalan yang muncul antara lain ialah apa jaminannya bahwa sebuah komunikasi terhindar dari salah paham? Bagaimana sebuah generasi yang hidup di zaman dan tempat berbeda bisa menangkap gagasan yang benar dari generasi terdahulu yang perjumpaannya hanya terwakili oleh sebuah teks atau karya tulis? Lebih jauh lagi, benarkah pemahaman seorang muslim tentang isi al-Quran sudah persis sebagaimana yang dikehendaki oleh pengarang (Tuhan)? Bisakah kita menangkap gagasan Rasulullah Muhammad melalui sepotong-sepotong kalimat yang terhimpun dalam kitab hadits? Persoalan-persoalan inilah yang disebut Komaruddin Hidayat dalam bukunya sebagai persoalan Hermenutik.

Adnin Armas dalam artikelnya berjudul Tafsir al-Quran atau “Hermeneutika al-Quran” yang terbit di majalah Islamia dengan cukup tegas dan jelas menjawab pertanyaan ini, ia mengatakan bahwa tafsir serta ilmu-ilmu untuk menafsirkan al-Quran telah menjadi sebuah disiplin ilmu yang sangat matang. Ia adalah bagian yang tidak akan tepisahkan dalam Islam. Ia telah dikembangkan sejak wahyu belum diturunkan dengan sempurna. Selain itu, para mufassir terkemuka bersepakat dalam berbagai perkara. Masalah penyaliban nabi Isa a.s. misalnya, tidak ada seorang mufassirpun dari dulu hingga sekarang yang berpendapat bahwa nabi Isa a.s. mati ditiang salib. Begitu pula para mufassir yang berwibawa bersepakat dalam berbagai perkara seperti, tidak boleh wanita muslimah berkawin dengan orang kafir, Allah itu satu, malaikat, surga, neraka dan kiamat itu semuanya ada dan pasti. Jadi pernyataan tafsir itu relatif adalah kekeliruan sekalipun terdapat beratus-ratus buku tafsir yang membahas masalah tersebut.

Berbeda dengan tafsir yang telah mapan di dalam Islam, hermeneutika muncul dalam konteks peradaban Barat, yang didominasi oleh konsep ilmu yang skeptik. Karena itu konsep yang ditawarkan oleh hermeneutika akan terus menerus mengalami perubahan perbedaan dan bahkan pertentangan. Konsep Hermeneutika Friedrich D. E Schleirmacher misalnya, diubah dan dikriktik oleh para hermeneut yang lain seperti Wilhem Dilthey, Gadamer, Habermas, Hirsch, Emilio Betti dan lain-lain. Teori mereka dibangun atas spekulasi akal. Karena itu konsep dan teori mereka tidak akan jelas sebagaimana penggunaan akal di dalam tafsir yang selalu terkait dengan al-Quran dan hadits-hadits dari Rasulullah saw. Karena itu, fenomena berbagai kesepakatan di antara berbagai mufassir tentang berbagai perkara masih ada didalam tafsir. Hal seperti ini tidak terjadi didalam sejarah hermeneutika, yang selalu mencari-cari kebenaran dengan tidak pernah berhenti mencari. Hasilnya, kebenaran tidak akan pernah dijumpai karena proses mencari- yang tanpa henti. Dasar pemikiran hermeneutika dijiwai oleh pemikiran skpetik.

Sejalan dengan pemikiran Adnin Armas pada paragraf diatas, Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud menjelaskan bahwa Tafsir adalah satu-satunya ilmu yang berhubungan langsung dengan nabi, sebab Nabi telah diperintahkan oleh Allah swt untuk menyampaikan risalah kenabian, seperti yang terdapat dari ayat ini: “agar kamu (Muhammad) dapat menjelaskan kepada manusia apa-apa yang dirurunkan kepada mereka. Karena al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab dengan mengikuti cara-cara retorika orang-orang arab, maka orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi memahami makna ayat serta memahami situasi ketika diturunkannya. (sha’n dan asbab al-nuzul).

Kemudian mengenai kebenaran ayat-ayat al-Quran tentang metafisika, hukum-hukum sosial dan sains tidaklah terbatas pada kondisi sosial historis ketika diturunkanya, Prof. al-Attas bahkan dengan tegas menyatakan menolak mentah-mentah jika kondisi sosio-historis dijadikan asas untuk merelatifkan ajaran hukum dan etika. Sebab jika demikian, Nabi semestinya tidak akan menyusun Kitab Suci al-Quran seperti yang kita dapati sekarang ini yang mengikuti urutan sejarah. Dalam tafsir, lanjut al-Attas, tidak ada ruang bagi terkaan atau dugaan yang gegabah, atau ruang bagi interpretasi-interpretasi yang berdasarkan pada penafsiran atau pemahaman yang subyektif atau yang berdasarkan hanya pada ide relativisme historis, seakan-seakan perubahan semantik telah terjadi dalam struktur konseptual kata-kata dan istilah-istilah yang membentuk kosa kata kitab suci ini.

Dari gambaran singkat diatas, sangatlah jelas bahwa ‘ulum at-Tafsir atau ilmu penafsiran al-Quran sangat berbeda dari hermeneutik atau ilmu penafsiran ilmu-ilmu Yunani, Kristen atau tradisi agama lain. Dasar yang sangat fundamental dari perbedaan-perbedaan itu terletak pada konsepsi tentang sifat dan otoritas teks serta keotentikan dalam kepermanenan bahasa dan pengertian kitab suci itu. Ummat Islam secara universal mengakui al-Quran sebagai kata-kata Tuhan yang di wahyukan secara verbatim kepada Nabi, dan banyak yang menghafal dan menulis ayat-ayatnya ketika Nabi hidup. Adanya berbagai variasi bacaan al-Quran telah diketahui dan diakui oleh orang-orang terdahulu yang berwenang sebagai tidak penting: semua itu berada hanya dalam kata-kata yang mengandung pengertian yang sama. Wallahu ‘alam.

 

*Alumni Mahasiswa Akidah & Filsafat UIN Jakarta

 


1 Komentar

  1. Johng726 mengatakan:

    what are some really good and popular websites for blogging? ?? . fdkdeafekfdd

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: