ISFI online

Beranda » Kajian » Melawan Penyakit Materialisme

Melawan Penyakit Materialisme

Seorang ibu yang tinggal di sebuah kota kecil menceritakan, anak gadisnya yang bersekolah di sebuah sekolah Islam merasa minder ketika berkumpul dengan teman-temannya karena kebanyakan dari mereka memiliki handphone Blackberry. Orang tuanya merasa kasihan padanya hingga membelikannya ketika ada rejeki agar putrinya tidak merasa minder lagi meskipun masih banyak kebutuhan mendesak lainnya yang musti dipenuhi termasuk membayar hutang-hutang.

Ada seorang remaja putri yang juga tinggal di kota kecil merasa ketinggalan jaman karena tidak mempunyai laptop. Akhirnya orang tuanya memaksakan diri membeli laptop dengan cara mencicil, meskipun masih ada kebutuhan primer yang harus lebih diutamakan.

Ada seorang remaja laki-laki desa yang ingin dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya mengalami stres hingga mengalami sakit jiwa karena orang tuanya tidak mengabulkan permintaannya. Ada remaja perempuan desa yang mengancam orang tuanya akan pergi meninggalkan rumahnya jika orang tuanya tidak membelikan handphone.

Ada seorang Muslimah tinggal di pedesaan yang tidak peduli agama yang dianut seorang laki-laki yang dipilihnya menjadi suaminya tidak sama dengan agama yang dianutnya, yang penting baginya ada jaminan kesejahteraan dalam hidupnya karena laki-laki tersebut seorang Pegawai Negeri Sipil.

Fenomena seperti di atas adalah hal yang lumrah dan dianggap wajar terjadi serta mudah ditemui di jaman ini, tidak pandang bulu di kota besar atau kota kecil, di tengah kota, pinggir kota atau di pedesaan.

Dalam kisah-kisah di atas, ada satu hal yang sama yang diinginkan para tokohnya, yaitu harta benda atau materi. Materi adalah kebutuhan manusia sejak manusia pertama yakni Adam as hingga manusia terakhir yang lahir di muka bumi ini. Wajar, tidak salah dan tidak berdosa manusia memenuhi kebutuhan materinya baik yang tergolong kebutuhan primer, sekunder maupun tersier yang halal, didapatkan dengan cara yang halal dan dari harta yang halal, serta dalam batas kewajaran.

Akan menjadi salah jika materi digunakan: sebagai sumber kebahagiaan, percaya diri, kepuasan batin dan kemuliaan diri; untuk menghormati orang lain dan mengharapkan orang lain menghormati dirinya; untuk menilai status sosial dan kesuksesan diri sendiri dan orang lain; dan sebagai faktor pendorong melakukan aktivitas sosial dan keagamaan.

Juga termasuk kategori perbuatan yang tidak tepat jika untuk mendapatkan materi dalam rangka memenuhi kebutuhan materi harus mengorbankan anggota keluarga, apalagi agamanya. Mengorbankan anggota keluarganya baik itu anak, suami/istri, atau lainnya yang menjadi tanggung jawabnya dengan meninggalkan mereka dalam waktu yang sangat lama atau selama-lamanya; menitipkan anak di tempat penitipan anak; menitipkan orang tua di panti jompo; tidak mempedulikan kesehatan mental, kebutuhan jiwa dan kehidupan spiritual mereka; atau menjadikan mereka sebagai korban atau tumbal untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan “orang pintar”. Mengorbankan agamanya dalam arti tidak atau kurang mempedulikan kebutuhan rohaninya; meninggalkan kewajibannya sebagai hamba Allah; mengabaikan ajaran agamanya seperti dengan melakukan korupsi, menyuap dan melakukan perbuatan syirik; serta dalam arti meninggalkan agamanya yakni keluar dari Islam (murtad).

Mengejar materi untuk memenuhi kebutuhan materi dengan mengorbankan agamanya adalah tanda bahwa seseorang lebih mencintai materi dari pada Allah dan Rasul-Nya. Maka, logis jika dia enggan berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (QS. at-Taubah [9]:24)
Artinya: “Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Perlakuan-perlakuan menyimpang terhadap materi seperti tersebut di atas telah berlaku sepanjang sejarah manusia. Di jaman nabi Musa as ada Karun yang kufur nikmat, sombong, membanggakan hartanya, mengklaim harta yang didapatkannya bukanlah dari Allah tapi karena ilmu dan hasil keringatnya, serta enggan berzakat, berinfak dan bersedekah. Sebagai balasannya, Karun diazab Allah dengan cara ditelan hidup-hidup oleh bumi beserta harta bendanya.

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ (QS. al-Qashash [28]:76)

Artinya: “Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.”

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ القُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعاً وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (QS. al-Qashash [28]:78)

Artinya: “Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”

Di jaman ini perilaku-perilaku menyimpang terhadap materi lebih masif, intensif dan lebih kental dilakukan umat manusia termasuk yang beragama Islam. Salah satu penyebabnya adalah menyebarnya ideologi materialisme. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Sedangkan orang yang menganut dan menjalankan paham materialisme dan orang yang mementingkan kebendaan seperti harta, uang, dan lain sebagainya disebut dengan materialis. (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Materialisme adalah kecenderungan untuk melihat dan menjadikan harta duniawi sebagai sumber penting untuk mendapatkan kepuasan dalam hidup. Budaya materialistis adalah budaya yang menjadikan materi sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup, bukan dengan aktifitas religi, interaksi sosial atau kehidupan yang sederhana, tetapi dengan kepemilikan dan interaksi dengan materi.

Di jaman modern ini budaya dan nilai-nilai materialistis telah menyebar luas ke setiap sudut dunia dan tak kenal usia menjangkiti anak-anak hingga orang lanjut usia, dan tak pandang agama apapun agama seseorang, tak terkecuali yang beragama Islam. Pendidikan, media massa, dan alat teknologi informasi dan komunikasi adalah sarana yang efektif digunakan untuk menyebarluaskan ideologi materialisme oleh pengasongnya.

Sebagaimana yang dianut oleh negara-negara di dunia Islam lainnya, sistem pendidikan di Indonesia yang menggunakan dan mengacu kepada sistem pendidikan Barat yang materialistis-sekuler ikut andil dalam mencetak manusia-manusia yang materialis. Orientasi pendidikan sistem Barat hanyalah bertujuan untuk mencetak “robot-robot” yakni tenaga-tenaga terampil yang mengabaikan segi ruhiyah, mengejar kebahagiaan semu (segi materi) dan meninggalkan kebahagiaan hakiki (segi immateri).

Media massa seperti koran, majalah, radio dan televisi juga tidak ketinggalan mencetak manusia-manusia yang materialis dengan cara mempromosikan nilai-nilai materialisme. Di antara semua media massa, televisi merupakan media yang paling efektif mempengaruhi dan merubah nilai hidup, cara pandang, cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup. Melalui iklan, film, sinetron, talk show dan program-program lainnya termasuk berita, televisi secara halus mempromosikan cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup materialistis.

Saat ini sulit menemukan rumah tangga yang tidak mempunyai televisi tapi lebih mudah menemukan rumah tangga yang mempunyai televisi lebih dari satu buah. Bahkan televisi sudah jamak menjadi milik pribadi dan bersifat mobile yang dapat di nikmati di mana saja dan kapan saja. Juga saat ini sulit mendapati orang termasuk yang beragama Islam yang tidak pernah atau jarang menonton televisi, tapi malah lebih mudah mendapati anak-anak hingga orang yang sudah lanjut usia menghabiskan banyak waktu di depan televisi. Demikian demikian, tidaklah mengherankan jika penyakit materialisme telah merebak di mana-mana.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan tiga orang ahli dari tiga universitas yang berbeda di Amerika Serikita yang hasil penelitian mereka dipublikasikan oleh Association for Consumer Research, sebuah lembaga penelitian konsumen di University of Minnesota Duluth, Amerika Serikat, meneliti pengaruh frekuensi menonton program televisi pada pengadopsian nilai-nilai materialistis. Penelitian tersebut membuktikan semakin banyak jam yang dihabiskan seseorang dalam menonton televisi maka yang bersangkutkan semakin materialistis. Hubungan antara menonton televisi dengan materialisme lebih besar bagi mereka yang lebih fokus memperhatikan ketika menonton televisi, dan bagi mereka yang lebih mengembangkan apa yang ditonton dengan berfantasi.

Obat Materialisme
Untuk mengurangi tingkat materialisme pada seseorang, para peneliti tersebut menyarankan untuk mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan di depan televisi. Namun, tren menonton televisi di mana-mana menunjukkan hanya sedikit yang mau atau mampu melakukan hal ini. Sebagai obat alternatif, kata mereka, seseorang dapat memerangi materialisme dengan menyadari apa yang mereka menonton dan efeknya, dan menahan dorongan untuk berfantasi tentang gaya hidup makmur yang digambarkan di televisi. Dengan kata lain, mengingatkan diri kita bahwa dunia pertelevisian terdistorsi. Lanjut mereka, tentu saja, ini mungkin bukan cara yang menyenangkan untuk menonton televisi karena pemirsa cenderung memaksimalkan kenikmatan dengan berfantasi.

Cara untuk mengurangi tingkat materialisme dan memerangi materialisme tersebut di atas ternyata kurang efektif, bahkan sulit untuk dilakukan. Namun lain halnya dengan Islam. Islam telah menyediakan vaksin untuk mencegah dan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit materialisme. Dalam Islam ada satu cara yang sangat efektif dan praktis untuk mencegah dan mengobati materialisme, yaitu dengan cara mengingat mati.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau berkata:
أَكْثِرُوا ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat hal yang akan memutuskan berbagai kenikmatan.” – yaitu maut. (HR. Ashabus Sunan, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’)
Salah satu efek positif dari mengingat mati adalah menyebabkan hati memiliki sikap qana’ah.
Barangsiapa banyak mengingat mati maka dia akan dimuliakan dengan tiga perkara: segera bertaubat, hatinya qana’ah terhadap dunia, dan semangat beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melupakan mati, dia akan dibalas dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, hatinya tidak qana’ah terhadap dunia, dan malas beribadah. Maka ingat-ingatlah kematian, sakaratul maut, dan susah serta sakitnya, wahai orang yang tertipu dengan dunia!” (Abu Ali Ad-Daqqaq rahimahullah)

Menurut bahasa, qana’ah berarti merasa cukup. Sedangkan menurut istilah, qana’ah berati merasa cukup dan menerima atas apa yang telah diberikan Allah swt, sehingga mampu menjauhkan diri dari sikap tamak, dan sikap tidak puas yang berlebihan.

Dari Fadlolah bin Ubaid bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan hidayah Islam dan penghidupannya sederhana serta mau qana’ah (menerima apa adanya)” (HR. Tirmidzi)

“Qana’ah itu mengandung lima perkara: Menerima dengan rela akan apa yang ada. Memohonkan kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha. Menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan. Bertawakal kepada Tuhan. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.” (Hamka)

Mari latih dan biasakan diri dan anggota keluarga kita untuk selalu mengingat mati agar mempunyai gaya dan pola hidup qana’ah dan bukannya kebalikannya yakni gaya dan pola hidup materialistis yang mengajak “meminum air laut”. Semoga diri dan keluarga kita bebas dari penyakit al-Wahn (cinta dunia dan benci/takut mati) yang telah Rasulullah saw sebut 15 abad yang lalu. Semoga diri dan keluarga kita bukan orang-orang yang fasik, yakni yang lebih mencintai harta benda dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya dengan jiwa dan harta benda. Wallahu a’lam.

Abdullah al-Mustofa


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: