ISFI online

Beranda » Ringkasan Talk » Kecenderungan Beragama Dalam Sejarah Manusia (1)

Kecenderungan Beragama Dalam Sejarah Manusia (1)

Sejak kapan pemikiran keberagamaan muncul di muka bumi? Apakah pemikiran keagamaan lebih dahulu ada atas peradaban materi, atau ia muncul setelahnya, atau bersamaan?

Ada berbagai teori yang mengemuka terkait ini. Beberapa penulis pada abad 18, yang menjadi pembentang jalan atas revolusi Francis, berpendapat bahwa agama-agama dan undang-undang adalah fenomena atau gejala baru yang muncul dalam sejarah kemanusiaan.

Voltaire mengatakan, manusia telah berabad-abad lamanya dalam dunia materi semata,  dengan soko gurunya: pertanian, memahat, bangunan, mengelola besi-baja, dan perkayuan, sebelum kemudian berpikir tentang masalah-masalah agama dan spiritualitas.

Bahkan ia menyatakan bahwa ide tentang ketuhanan adalah hasil rekaan para penipu cerdas, yaitu para rahib (pemuka Yahudi) dan pastur (tokoh gereja) yang kemudian mendapati orang-orang bodoh sebagai pengikut ide-ide mereka.

Karl Marx salahsatu yang mengamini pendapat ini. Dia mengatakan bahwa agama adalah bius yang membuat orang hilang rasionalitasnya.

Pandangan Jean Jacques Rousseau tentang ide undang-undang mirip dengan apa yang disampaikan Voltaire. Baginya undang-undang, agama adalah ciptaan manusia belaka dan bersifat arbiter. Pemicunya adalah konflik-konflik sosial. Dalam menafsirkan pendapatnya, Rousseau mengatakan, adalah para tuan tanah karena ketamakan dan dorongan kuat untuk mempertahankan kepemilikan mereka atas tanah-tanah, kemudian berkumpul menetapkan dan membentuk seperangkat peraturan dan undang-undang, tujuannya adalah untuk memperdaya publik dan mengeksploitasi orang-orang miskin.

Dalam pengamatan Dr. Darraz, pendapat yang mengolok-olok agama dan undang-undang seperti ini bukanlah baru. Ia hanya pengulangan-pengulangan. Dulu, ini menjadi bahan tertawaan kaum Sofis Yunani. Ide seperti ini adalah sebagian dari dari kekeliruan-kekeliruan dan keraguan yang mereka jajakkan.

Kaum Sofis menduga bahwa pada awal-awal perkembangannya, manusia hidup tanpa ikatan undang-undang dan etika. Masyarakat primitif pada saat itu hanya tunduk kepada kekuatan-kekuatan penindas dan kekacauan berlaku dimana-mana. Kemudian ditetapkanlah undang-undang dan membawa dampak positif dengan redamnya berbagai kekacauan secara terang-terangan. Akan tetapi, secara sembunyi-sembunyi kejahatan tetap terjadi secara luas.

Dari sini, beberapa cendikia mengambil jalan lain yaitu dengan meyakinkan publik bahwa ada sebuah kekuatan abadi di langit yang menyaksikan semua hal, mendengar segala sesuatu dan menguasai segala sesuatu dengah kebijaksanaanya..”

Dr. Darraz menyimpulkan bahwa memang dalam pandangan mereka agama tidak ubahnya seperti peraturan atau undang-undang, yang merupakan rekayasa sebagian orang cerdik dengan tujuan menanggulangi penyakit sosial atau justifikasi para pemilik tanah untuk mengekalkan kekuasaannya.

Teori tentang kemunculan agama yang seperti ini sangat wajar dimiliki orang-orang Barat. Kesimpulan mereka adalah berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka. Sayangnya mereka menyamakan semua agama.

Ada dua sebab menurut Dr. Darraz yang menjadi pendorong berkembangnya pemikiran ini pada masyarakat Eropa modern.

  1. Penyimpangan-penyimpangan moral yang terjadi di kalangan pemuka gereja
  2. Kezaliman yang berlaku luas oleh penguasa yang ditopang oleh undang-undang yang berpihak sebelah. Dan semakin meluasnya gap antara orang kaya dan miskin karena pembagian kekayaan yang tidak merata.

Dari dua faktor di atas, maka tidaklah heran jika orang-orang Barat berasumsi bahwa agama atau undang-undang adalah sama saja di semua tempat dan zaman.

Dalam komentarnya, Ust Anis menjelaskan bahwa memang kekuasaan yang tanpa batas, sebagaimana dimiliki oleh otoritas Gereja, cendurung membawa kepada penyimpangan-penyimpangan moral. Terkait aturan, pembentukannya untuk tujuan mempertahankan kuasa dinilai cukup jitu. Jika melihat sejarah, bahkan cara ini dipakai oleh negara-negara penjajah. Untuk menjaga dari tindakan atau gerakan yang against mereka, maka dibentuklah aturan yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan tertentu adalah terlarang dan menyalahi hukum.

Pada bagian dua akan dipaparkan tentang keruntuhan teori ini.

 

Ringkasan Kajian Kitab Ad-Din bersama Dr. Anis Malik Thoha, Selasa 2 Oktober 2012 [RI]

 


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: