ISFI online

Beranda » Opini » RUU Santet Tidak Perlu Diperdebatkan

RUU Santet Tidak Perlu Diperdebatkan

Oleh: Imanuddin Abil Fida

Jam 3 sore itu, Suhadi, 46 tahun, melintas di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa Konang, Pamekasan Madura ketika secara tiba-tiba ia diserang oleh Saf, 41 tahun, dengan celurit yang sudah disiapkan. Nyawa Suhadi tak tertolong lagi, dan ia tewas di RSU Pamekasan akibat kehabisan darah. Kejadian pada hari Rabu, 18 Januari setahun lalu itu disinyalir bermula dari kecurigaan Saf bahwa Suhadi telah menyantet adik perempuannya yang mengalami sakit mencurigakan sebelum meninggal, perutnya kembung walau ia sedang tidak hamil.

Tuduhan santet atau mempunyai santet juga tidak lagi mengindahkan hubungan kekeluargaan. Ahmad Saeri, 45 tahun, contoh konkritnya. Warga Situbondo itu dihajar oleh tiga orang yang salah satu pelakunya adalah adik korban sendiri, Nurhatim, 42 tahun. Penganiayaan tersebut dilakukan Nurhatim dkk. karena ia sakit hati pada Kakaknya. Ia menuding, anak perempuannya, Anis, 23 tahun, yang telah meninggal setelah sakit berbulan-bulan karena disantet kakaknya tersebut.

Fakta berita diatas dan masih banyak lagi fakta-fakta yang lain turut menambah dampak buruk perdukunan santet di tengah-tengah masyarakat kita. Belum lagi fakta yang terjadi namun tidak terekam oleh media massa yang biasanya terjadi di desa-desa kecil ataupun daerah-daerah yang jauh dari jangkauan para pencari berita. Hal itulah nampaknya yang melatar belakangi keinginan pemerintah untuk mengajukan RUU KUHP yang didalamnya memuat tentang persantetan. Adalah pasal 293 RUU KUHP yang menyebutkan bahwa seseorang akan dipidana dengan pidana penjara maksimum 5 tahun atau denda paling banyak 300 juta apabila ia menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan dan memberitahukan bantuan jasa kepada orang lain yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik orang lain. Apabila ilmu gaib itu dikomersilkan, ancaman pidana akan ditambah sepertiga dari 5 tahun.

Keinginan pemerintah memasukkan delik santet dalam UU tersebut tentu bukan tanpa alasan. Diantara alasan utama adalah untuk melindungi masyarakat dari penipuan dan janji dari seseorang yang dapat menggunakan ilmu gaib guna mencelakakan orang.Selain itu, pemerintah berkeinginan untuk mengurangi aksi main hakim sendiri yang sering muncul di tengah-tengah masyarakat dikarenakan isu santet.

Sebagai warga Negara, kita menyambut baik keinginan pemerintah berdasarkan alasan diatas.Namun begitu, perlulah kita memberikan masukan kritis dan saran yang konstruktif agar pemerintah dan pihak DPR benar-benar dapat memutuskan hal tersebut dengan bijak dan jauh dari motif politis yang mengada-ada.

Nampak jelas sebenarnya, bahwa pemerintah menghindari polemik terkait dengan pasal tersebut. Ia hanya akan menghukum orang yang mengakui mempunyai kekuatan gaib atau menawarkan kekuatan tersebut kepada orang lain dan dengan kekuatan itu dapat mencelakakan individu lain. Adapun dampak dari perbuatan itu, seperti misalnya hukuman bagi orang yang dituduh mempunyai ilmu santet atau aduan seseorang bahwa dia disantet oleh seseorang tidak diatur dalam pasal tersebut. Pendeknya, pasal tersebut sangat sederhana karena ia tidak akan mengindahkan tuduhan seseorang tentang adanya kekuatan gaib pada orang lain. Selama orang itu tidak mengakui, maka ia tidak bisa dimeja hijaukan.

Pertanyaan yang muncul kemudian, efektifkah pasal tersebut? Apakah akan ada orang yang mengakui secara terang-terangan kepada khalayak ramai bahwa ia mempunyai kekuatan gaib yang bisa mencelakakan orang? Jika demikian, apakah pasal tersebut akan mampu menangkal dampak negatif dari praktik perdukunan tersebut seperti penipuan dan main hakim sendiri?

Pandangan Agama

Santet atau bisa diartikan guna-guna, tenung dan teluhdan secara umum disebut sihir merupakan usaha seseorang untuk mencelakai orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut dengan menggunakan ilmu hitam.Praktek semacam itu sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu dan dikenal di semua agama di dunia tak terkecuali Islam.Setidaknya al-Qur’an mengungkapkan beberapa ayat yang berisi cerita mengenai sihir yang bertujuan mencelakakan orang tersebut. Dalam surat Thaha, Allah dengan secara jelas merekam cerita petualangan Nabi Musa dan Nabi Harun as. Ketika berhadapan dengan beberapa tukang sihir yang didatangkan oleh Fir’aun.Demikian juga firman Allah dalam surat al-Baqarah yang menyebutkan adanya sihir dan bahaya yang ditimbulkannya pada masa Nabi Sulaiman. Sihir yang menyebar luas kala itu mampu menciptakan ketidak harmonisan antara suami dan istri.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad SAW pun pernah terkena sihir.Beliau dikhayalkan melakukan sesuatu, padahal pada kenyataannya beliau tidak melakukan hal tersebut.Beliau SAW pun bersabda kepada Aisyah ra.“Telah datang kepadaku dua malaikat, salah satunya duduk di kepalaku dan yang lainnya di dekat kakiku. Salah satu malaikat tersebut berkata kepada yang lainnya: “Apa penyakit laki-laki ini (Rasulullah)?” yang satunya menjawab terkena sihir.” “Siapa yang menyihirnya?” “Satunya menjawab: Labid bin al-A’sham.” (HR. Bukhari). Namun demikian, sihir yang menimpa Rasulullah tidaklah mengurangi sifat kenabian beliau.Sebab, disamping beliau dianugerahi Allah sifat kenabian, masih melekat pada diri beliau sifat manusia biasa layaknya kita seperti rasa sakit, lapar dan lelah.

Jika saja Rasulullah bisa terkena sihir, berarti ummat beliau pun tidak akan lepas dari bahaya sihir tersebut. Bahkan, bahaya sihir itu tidak hanya menimpa individu yang di sihir saja, namun lebih luas dari itu, keluarga dan sanak saudara serta masyarakat juga bisa terimbas bahaya sihir.Berita yang mengungkapkan hebohnya warga satu desa dengan tuduhan adanya praktek perdukunan yang telah mencelakai warga adalah sebagian bahaya sihir yang meluas itu.Di sinilah niat baik pemerintah seharusnya diapresiasi.Dicantumkannya pasal santet dalam RUU adalah salah satu usaha untuk meminimalisir dampak santet yang cukup meluas tersebut. Terlepas dari begitu sulitnya untuk membuktikan adanya santet pada seseorang, ataupun kesulitan yang lain yang mungkin timbul berkaitan dengan delik santet tersebut.

Tentunya kita tidak boleh banyak berharap efektivitas dari RUU Santet tersebut jika sudah menjadi Undang-Undang.Bahwa legislasi itu nantinya akan mampu menghindari pribadi dan masyarakat dari penipuan dan tindakan main hakim sendiri bahkan akan sangat efektik untuk memberantas praktek perdukunan yang masih marak saat ini. Perlulah kiranya tindakan preventif dari dalam diri kita masing-masing.Pencegahan yang paling fundamental tentunya melalui pengobatan Ilahiyyah.Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam Zād al-Ma’ād menegaskan bahwa praktek perdukunan berasal dari pengaruh jiwa yang buruk dan rendah.Untuk menangkalnya, tentu diperlukan jiwa yang bersih sebagai lawan dari jiwa yang buruk.Hal itu dapat diperoleh dengan berdzikir, membaca al-Qur’ān dan berdoa kepada Allah.Semakin kuat dan banyak usaha Ilahiyyah tersebut, semakin kuatlah benteng pertahanan diri dari bahaya sihir.Pertahanan diri berupa dzikir, doa dan ta’awudz yang selalu memenuhi hati itulah merupakan sebab yang paling ampuh untuk menghindar dari musibah sihir. Karena sesungguhnya, orang yang mudah terkena sihir adalah mereka yang hati dan jiwanya lemah dan terlalu condong kepada keduniaan lalu lupa untuk selalu berdzikir.

Doa dan dzikir tersebut pastinya akan mampu menangkal syaitan yang mensponsori perbuatan sihir tersebut jika dilandasi oleh keimanan yang kuat kepada Allah. Hal itulah yang dialami oleh para sahabat Rasulullah ketika sihir dan jimat tidak juga mampu menolong pasukan Persia dalam peperangan.Padahal, para penyihir Persia yang meletakkan sihir dan jimat dalam bendera mereka sangat yakin bahwa mereka tidak akan bisa ditaklukkan. Ibn Khaldun dalam magnum opusnya ‘al-Muqaddimah’ menyimpulkan bahwa terjaganya para sahabat dari sihir kaum Persia itu adalah bukti kekuatan iman kepada Allah dan keteguhan mereka berpegang pada kalimat tauhidNYA.

Jika saja setiap muslim di negeri ini berusaha keras untuk memperkuat iman dan takwa seperti anjuran Ibn Qayyim al-Jauziyah di atas, nampaknya tidak lagi diperlukan pasal Santet dalam Undang-Undang Negara. Tidak diperlukan lagi perdebatan yang panjang mengenai perlu tidaknya santet dimasukkan dalam UU. Dan, yang paling fundamental, tidak akan ada lagi praktek perdukunan baik secara terang-terangan maupun samar-samar menawarkan jasanya. Karena, perdukunan sudah tidak akan laris manis menjadi pelarian dari penyelesaian masalah kehidupan. Para dukun sudah tidak akan menemukan pelangggan dan objek lagi karena setiap Muslim selalu menggantungkan nasibnya hanya kepada Allah.[]

*Penulis adalah mahasiswa di Program Master Kuliah Islamic Revealed Knowledge di International Islamic University Malaysia

524854_4655874717951_66172246_n (1)


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: