ISFI online

Beranda » Kajian » Sejarah Sistematisasi Hukum Islam

Sejarah Sistematisasi Hukum Islam

images

Oleh: A. Wafi Muhaimin

Pemikir besar hari ini adalah mereka yang menghargai warisan masa lampau. Karena jika mereka tidak merawat “al-Muhafadzah ‘ala al-Qadim al-Shaleh”, maka mereka akan mengalami pemiskinan intelektual.

Dalam sejarahnya, perumusan hukum Islam telah mengalami proses panjang dan evolusi dari masa ke masa. Semarak keilmuan masa lalu telah menjadi warisan termahal untuk generasi selanjutnya. Khazanah turats menjadi rujukan paling absah untuk mengajarkan umat Islam menelusuri mozaik intelektualitas pendahulunya. Maka, disinilah warisan sejarah itu harus di baca ulang, di kaji, dan di racik kembali untuk memenuhi tuntutan zaman.

Masa Nubuwah adalah cermin terbaik untuk melihat seutuhnya wajah asli umat Islam. Lalu pada masa sahabat, tabi’in dan tabi’in al-tabi’in cermin itu mulai terkotori oleh nuktah-nuktah hitam sehingga orisinalitasnya mulai buram. Beruntunglah generasi didikan nabi tak sedikit yang mempunyai kelihaian dalam mem-permak dan memoles cermin itu agar terlihat cantik seperti semula. Lahirnya sang mujaddid, mujtahid, mufti, dan lain sebagainya adalah sebagai penjaga cermin agar tak retak. Namun sayang, generasi berikutnya tak sabar merawatnya dan mengalami kelesuan hingga akhirnya cermin itu menjadi harta karun yang diperebutkan. Ia menjadi tak utuh lagi karena tersentuh oleh banyak kepentingan dan tangan-tangan kotor. Mereka melupakan keindahan cermin itu karena mereka sibuk mempercantik diri.

Sekarang kita akan menatap keindahan cermin itu kembali dengan seutuhnya. Dari kebeningannya, ukirannya, irama keindahannya, dan proses awal pembuatannya hingga mengalami keretakan. Itulah Era Rasulullah, Era Sahabat, Era Aimmah al-Mujtahid, dan Era Muqallid.

Era Rasulullah (Dauru/ ’Ahdu al-al-Rasul)

Era ini juga di sebut dengan Dauru al-Tasyri’, yaitu periode peletakan dasar-dasar hukum fiqh sewaktu nabi masih ada. Bermula sejak terutusnya nabi tahun 610 M., hingga wafatnya tahun 732 M. (sekitar 22 tahun dan beberapa bulan).

Pada era ini ada dua periode:

  • Periode pertama: pada masa ketika nabi berada di makah sekitar 12 tahun dan beberapa bulan sebelum melakukan hijrah.
  • Peride kedua: semenjak nabi berada di Madinah, yaitu sekitar 10 tahun dengan perkiraan dimulai sejak hijrahnya nabi hingga wafatnya.

        Warisan Era Rasulullah

Warisan termahal umat Islam dari generasi ke generasi dan sekaligus sebagai sumber hukum pada era nabi adalah wahyu tuhan dan ijtihad nabi. Pada era ini, Peletakan dasar-dasar hukum fiqh untuk kaum muslimin dimulai, yaitu pondasi syariat dan rujukan setiap mujtahid dari masa ke masa. Namun begitu, sumber hukum yang berupa teks pada era ini tidaklah banyak yaitu:

  • Ayat yang berhubungan dengan ibadah dan yang berkaitan seperti jihad sekitar 140 ayat.
  • Yang berhubungan dengan ahwal syakhshiyah seperti pernikahan, talak, warisan, wasiat, hijr, dan lain sebagainya sebanyak 70.
  • Yang berhubungan dengan jual beli, ijarah, rahn, syirkah, tijarah, dan lain sebagainya sekitar 70.
  • Yang berhubungan dengan Jinayat (crime) sekitar 30
  • Yang berhubungan Peradilan, persaksian, dan yang berkaitan dengannya sekitar 20 ayat.
  • Sedangkan hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum hanya ada sekitar 4500.

Nabi menyadari betul bahwa ijtihad adalah sebuah keniscayaan. Maka sejak awal nabi sudah mengkader beberapa sahabatnya yang mempunyai kapasitas untuk berijtihad. Misalnya ketika nabi mengirim Ali dan juga mu’adz bin jabal ke yaman untuk memutuskan perkara, mengirim Hudzaifah al-Yamani dan ‘Amr bin Ash. Maka tak heran jika Amr setengah protes kepada nabi “Ajtahidu wa anta Hadhir?”, Nabipun menjawab: “Iya, jika kamu benar kamu akan mendapatkan dua pahala, dan jika kamu salah kamu akan mendapatkan satu pahala.

Era Sahabat (Dauru/ ’Ahdu al- Sahabah)

Era ini di sebut dengan periode penafsiran dan penyempurnaan. Dimulai sejak wafatnya nabi tahun 11 hijriyah hingga akhir abad pertama hijriyah. Sekitar 90 tahun.

Pada era ini, sumber hukum yang dijadikan pedoman adalah: al-Qur’an, al-Sunnah, dan Ijtihad Sahabat.

Adapun mufti-mufti termasyhur pada era ini adalah: 1. Di Madinah: Khulafa’ al-Arba’ah al-Rasyidun, Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab, Abdullah bin Umar, dan Siti ‘Aisyah. 2. Di Makah: Abdullah bin Abbas. 3. Di Kufah: Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. 4. Di Bashrah: Anas bin Malik, Abu Musa al-Asy’ari. 5. Di Syam: Mu’ad bin Jabal, ‘Ubadah bin al-Shamit. 6. Di Mesir: Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Dan banyak lagi yang hitungannya mencapai lebih dari 130 dari  sahabat lelaki maupun perempuan.

     Warisan Era Sahabat

  • Penjabaran hukum atau undang-undang yang di ambil dari nash-nash hukum dalam al-Qur’an dan Hadits.
  • Mengkalkulasi fatwa-fatwa sahabat yang muncul dalam konteks yang tidak ada legitimasi hukumnya (Fi Waqa’i la Nassha ‘ala Hukmiha).
  • Munculnya kelompok-kelompok politik yang berimplikasi pada ideologi, yaitu Khawarij, Syi’ah, dan Ahlusunah wal-Jama’ah.

Era Kodifikasi dan Imam Mujtahid (Dauru/ ’Ahdu al-Tadwiin Wa al-Aimmah al-Mujtahidiin)

Era ini di kenal dengan periode pengembangan dan kematangan syariat. Dimulai sejak tahun 100 H. hingga tahun 320 H. atau sejak awal abad ke dua hijriyah sampai pertengahan abad ke empat hijriyah. Era kodifikasi ini berjalan sekitar 250 tahun lamanya. Dinamakan era kodifikasi karena semaraknya penulisan, baik penulisan hadits, fatwa sahabat dan tabi’in, maupun mausu’at (ensiklopedi) tafsir dan fiqh, rasail dalam usul fiqh.

Adapun Sumber hukum pada era ini ada empat: al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Ijtihad dengan Qiyas atau metode- metode Istinbath yang lain.

        Faktor perbedaan pendapat para mujtahid dan munculnya madzab

Pada masa nabi tidak terjadi perbedaan hukum karena masih ada otoritas tunggal yaitu nabi sendiri. Baru setelah masa sahabat perbedaan itu mulai mengemuka. Bahkan dalam satu persoalan bisa bermunculan fatwa yang berbeda. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena pemahaman mereka terhadap teks tidak sama disebabkan perbedaan akal dan sudut pandang. Sunah yang mereka ketahui dan hafal tidak sama, kadang yang satunya hafal yang satunya tidak. Dan mashlahah yang dijadikan tolok ukur juga berbeda satu sama lain disebabkan lingkungan yang berbeda. Dan perbedaan ini semakin melebar dari generasi ke generasi.

Adapun perbedaan mereka terletak pada tiga Faktor:

  1. Dalam menyikapi atau menilai sebagian teks.
  • Dalam metode keabsahan sunnah dan mentarjih antara satu riwayat dengan riwayat yang lain. Karena hal ini erat kaitannya dengan perawi hadits.
  • Dalam fatwa-fatwa sahabat dan dalam menilainya.
  • Dalam Qiyas. Karena ada sebagian mujtahid dari golongan Syi’ah dan Dzahiriyah yang menolak kehujjahan Qiyas.
  1. Kecenderungan arah berpikir terhadap teks.

Hal ini tampak dengan munculnya kelompok-kelompok: 1. Kelompok hadits; yang kebanyakan dari mereka adalah mujtahid hijaz. 2. Kelompok Ahli al-Ra’yi; yang kebanyakan adalah mujtahid iraq.

Adapun faktor terpenting dalam terjadinya perbedaan kecenderungan antara madzhab hijaz dan madzhab Iraq adalah:

  • Hadits-hadits dan fatwa-fatwa sahabat banyak tersebar di Hijaz namun sebaliknya sedikit tersebar di Iraq.
  • Iraq sering tertimpa fitnah yang menyebabkan menjamurnya pemalsuan dan penyelewengan hadits. Karena Iraq merupakan sarang syiah dan markaz khawarij.
  • Perbedaan kondisi dan lingkungan antara Iraq dan Hijaz, dan juga berbedanya persoalan dan fenomena sehingga membutuhkan penyelesaian yang berbeda pula.

      Dalam sebagian prinsip-prinsip kebahasaan (al-Mabadi’ al-Lughawiyah) yang diaplikasikan dalam memahami teks.

Perbedaan ini muncul karena perbedaan sudut pandang di dalam meneliti gaya atau corak (uslub) bahasa arab. Antara mantuq dan mafhum, ‘amm dan khash, mutlaq dan muqayyad, dan lain sebagainya.

Pada masa Dauru al-Tadwin ini, Ahlu madzhab bermunculan. Tercatat hingga 500 madzhab. Akan tetapi setelah mengalami perkembangan, evaluasi, dan seleksi maka madzhab ini semakin mengecil menjadi puluhan bahkan setelah mengalami seleksi yang berlangsung dua abad lamanya hanya lima madzhab saja yang menunjukkan eksistensinya, yaitu: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Daud al-Zahiri.

  • Imam Daud Zhahiri mengutamakan wahyu secara tekstual tanpa campur tangan rasio. Kaidah yang digunakan “La Ra’ya Fi al-Diin”.
  • Imam Ahmad ibn Hanbal mengutamakan Hadits dha’if daripada rasio.
  • Imam Malik menggunakan kaidah al-Maslahah al-Mursalah.
  • Imam Syafi’i menggunakan dasar-dasar wahyu, dan rasio sebagai penunjang. Dan dalam proses pengambilan hukum, madzab ini lebih banyak menggunakan analogi atau Qiyas.
  • Imam Abu Hanifah: Lebih banyak menggunakan rasio dari pada hadits.

Namun, pada abad ke dua tidak ada lagi wujud nyata antara ahlu al-ra’yi dengan ahlu al-hadits. Semuanya sudah berbaur ke dalam metode yang dikembangkan oleh mazhab syafi’iyah.

    Warisan Era Imam Mujtahid

  • Mentashih sunnah yang terkodifikasi
  • Kodifikasi fiqh dan hukum-hukumnya, mengumpulkan persoalan yang serupa pada satu topik, mencari ilat hukum, dan lain sebagainya.
  • Kodifikasi ilmu usul fiqh.

 

Era Taqlid (Dauru/ ’Ahdu al- Taqlid)

Yaitu era kejumudan dan stagnasi berpikir. Dimulai sejak pertengahan abad ke 4 hijriyah, dan tidak diketahui kapan berkhirnya. Hanya Allah-lah yang mengetahuinya.

     Faktor Berhentinya Roda Ijtihad

  • Terpecahnya Daulah Islamiyah menjadi dinasti-dinasti yang saling bertikai satu sama lainnya.
  • Ketika imam-imam mujtahid terpecah menjadi kelompok-kelompok, dan setiap kelompok memiliki madrasah-madrasah hukum sendiri, maka murid-muridnya membela kelompoknya masing-masing dan menyokong usul dan furu’nya dengan segala cara.
  • Umat Islam mengabaikan aturan kewenangan (otoritas) dan tidak meletakkan system yang aman bagi yang hendak berijtihad agar tidak serampangan dalam berijtihad. Maka muncullah orang-orang yang sembrono dan tidak ada kompetensi dalam berijtihad. Orang-orang bodoh berani mengeluarkan fatwa sehingga fatwa pun berseleweran yang menyebabkan banyaknya terjadi perbedaan pendapat dalam satu persoalan dan tempat yang sama. Maka pada akhir abad ke empat ditutuplah pintu ijtihad. Dan disinilah ijtihad mengalami stagnasi.
  • Tersebarnya dekadensi moral para ulama dengan saling menghasut satu sama lain dan memetingkan diri sendiri (egois). Jika ada yang punya kompetensi berijtihad, maka ulama yang lain membuka pintu ijtihad sendiri walaupun tidak kapabel.

Dalam kondisi yang seperti ini, masih ada sebagian ulama yang mempunyai kemampuan untuk berijtihad (walaupun tidak sampai pada taraf mujtahid mutlak). Mereka adalah  Ahlu al-ijtihad fi al-madhzab, ahlu al-ijtihad dalam persoalan yang tidak ada riwayatnya, ahlu al-takhrij, dan ahlu al-tarjih, yang hal ini dapat dijumpai dalam setiap madzhab.

Secercah Harapan: Era Perundang-undangan (Dauru/ ’Ahdu al- Taqnin)

Era ini merupakan masa formulasi fiqh dengan cara mengolah dan menuangkan materi-materi fiqh ke dalam bahasa hukum dan menyusunnya ke dalam sistematika hukum perundang-undangan.

Sebagaimana diketahui, berbagai negara Islam mulai bangkit setelah terbebas dari belenggu penjajahan. Masa-masa awal kemerdekaan memberi tuntutan baru akan pentingnya memiliki hukum nasional masing-masing. Karena hukum yang berlaku selama masa penjajahan adalah produk hukum penjajah yang bersifat paksaan, yang tak mampu dipaksakan adalah hukum keluarga dan hukum ibadah. Itulah yang tersisa dari umat Islam sehabis masa penjajahan.  Maka negara-negara seperti Tunisia, Syiria, Mesir, Yordania, Maroko, dan negara Islam lainnya menjadikan fiqh sebagai undang-undang hukum. Demikian juga Indonesia dengan Kompilasi Hukum Islamnya walaupun garapannya hanya dalam wilayah hukum perdata. Bahkan negara seperti Pakistan sudah lebih jauh dengan menata dan mengembangkan hukum pidananya.

Kesimpulan

Membaca sejarah perjalanan hukum Islam (Tarikh Tasyri’ al-Islami) dari masa-kemasa, sistematisasi hukum Islam merupakan sebuah keniscayaan untuk memberikan panduan dan rambu-rambu agar generasi mendatang mempunyai pedoman sehingga selalu berapada pada jalan yang lurus (on the right track). Sistematisasi hukum Islam yang telah diwariskan oleh pendahulu kita adalah warisan mahal yang perlu dijaga, dirawat sekaligus dipertajam agar tetap berpungsi menyelesaikan persoalan kekinian. Warisan itu bukan hanya sebagai kisah nostalgia masa lampau, bukan pula untuk dimesiumkan dan dibiarkan tumpul begitu saja hanya karena terpesona oleh keindahan ukirannya. Ia harus tetap di asah dan di asah, agar warisan itu tidak tetap menyejarah dan menjadi lelampah generasi berikutnya. Wallahu a’lam…


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: