ISFI online

Beranda » Kajian » Tanpa Islam Semuanya Hampa

Tanpa Islam Semuanya Hampa

Oleh: Dr. Muntaha

Suatu hari Aisyah RA gundah saat memikirkan salah satu kerabatnya, salah satu tokoh Quraisy keturunan bani Tamim bin Murrah, ‘Aisyah RA selalu mengenang betapa mulianya beliau ini, betapa tidak, tatapan mukanya yang begitu meneduhkan, uluran tangan belas kasihnya telah membuat hati siapapun akan tertaut mencintainya, orang-orang yang tak berpunya senantiasa berduyun-duyun datang demi mendapatkan orang yang akan kegelisahan dan keperitan hidupnya, yang kelaparan akan datang berbondong untuk menghilangkan haus dan dahaganya menemui tokoh besar ini, dialah Abdullah bin Jud’an, seorang tokoh Quraisy yang sangat dermawan dan berbudi yang sangat luhur, menjadi kebanggaan bani Tamim tak terkecuali Aisyah RA pun kagum dengan budi baiknya.

Al-Imam an-Nawawi di dalam bukunya al-Minhaj, syarah Shahih Muslim menerangkan, Abdullah ibnu Jud’an memiliki bejana tempat makanan yang sangat besar, bahkan untuk melihat isi di dalamnya diperlukan tangga untuk memanjatnya, semua itu menjadi bukti kedermawanan Ibnu Jud’an.

Aisyah RA merenung gundah, kegelisahan beliau tak terbendung, maka saat bercengkrama dengan baginda Nabi saw, sang suami yang juga seorang rasul penerima wahyu, yang sabdanya bukan setara dengan manusia biasa, sabdanya dalam bimbingan wahyu, yang tentu diyakini akan menjadi pelipur lara dan mengusir kebingungannya, dan lebih dari itu Rasulullah saw mengetahui perihal seseorang yang akan ditanyakannya. Maka Aisyah memberanikan diri bertanya:

“يَا رَسُولَ الله، بنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَلِكَ نَافِعُهُ؟
“Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyah selalu menyambung hubungan keluarga dan selalu memberi makan kepada orang miskin, apakah itu semua akan bermanfaat untuknya?”.

Pertanyaan yang sungguh wajar, dan kegundahan yang memang semestinya, sebab Aisyah RA memahami bahwa Abdullah bin Jud’an bukanlah seorang muslim.

Namun ternyata, bukan hanya Ummul mu’minin ‘Aisyah RA yang gelisah memikirkan “masa depan” kerabatnya. Adalah juga seorang sahabat yang bernama ‘Adiy (عدي), nama penuhnya ‘Adi bin Hatim at-Tho’iy, ‘Adiy juga dirundung kegelisahan memikirkan nasib ayahnya, Hatim, tokoh besar dari lereng gunung Syammar yang namanya melegenda hingga kini.

Hatim, siapakah orang Arab yang tak mengenalnya, bahkan betapa banyaknya orang tua yang mengabadikan nama ini untuk simbol kebanggaan bagi nama anak-anaknya. Hatim, sang dermawan dan penyair Arab yang nama agungnya tertulis lekat dengan tinta emas sejarah, beliau keturunan orang besar, salah satu cicit Imri’ al-Qais, sang pujangga dan penya’ir Arab jahiliyah yang tiada duanya. Hatim juga penya’ir ulung, namun kepiawainnya bersya’ir tertutup oleh kedermawanannya, kedermawanannya melegenda, bahkan sisa-sisa kedermawanannya masih melekat dengan masyarakat di tempat lahirnya. Setidaknya penulis baris-baris huruf ini pernah berkunjung ke tempat kelahiran Hatim pada tahun 1999, di Hail, sebuah kota di belahan Utara Sauudi Arabia, setelah menempuh jarak sekitar 450 km dari kota Madinah, dan sampai di Hail, penulis hanya bisa tertegun dan terpana, sambutan dari guru penulis yang juga tuan rumah dan sahabat-sahabatnya tak akan terlupakan, kedermawanana yang sangat “berlebihan”, dan sampai kapanpun akan selalu terkenang. Dan kedermawanan menjadi ciri khas kota ini. Hatim at-Tho’iy telah menginspirasi seluruh penduduk tempat kelahirannya untuk berlomba berbagi dan menderma.

Melihat betapa luhurnya budi ayahnya, maka wajarlah ‘Adiy RA menanyakan tentang ayahnya, adakah keluhuran budi dan kedermawanan tersebut ada manfaatnya di hari akhir?

Mohon maaf, sambil menunggu jawaban baginda Nabi saw, bila melihat jarum jam sejarah dan diputar ke belakang, tentu akan ditemukan banyak Hatim dan akan ditemukan berbilang Ibnu Jud’an, dan sepertinya di hati pembaca saat ini juga terselip sekian banyak nama, nama-nama besar yang punya jasa besar untuk kehidupan manusia, dari belahan Barat hingga ujung Timur planet ini. Persoalan yang sangat mendasar adalah, mereka bukan muslim. Dan boleh jadi di sekitar kita juga ditemui sederet nama yang bisa disejajarkan dengan Hatim dan Ibnu Jud’an. Adakah budi baik dengan sesama bisa menjadi parameter final untuk kebaikan hakiki?

Ada beberapa hadits yang mungkin bisa menambah kegundahan, di antaranya riwayat yang sangat masyhur dan sudah tersebar di masyarakat muslim, riwayat yang berbunyi:
“خير الناس أنفعهم للناس”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk sesame manusia”.

Riwayat yang senada sangat banyak, penilitian validitas hadits ini dari sudut sanad hadits dipersilisihkan keshahihannya, ada yang menyebutnya “dha’if”, ada yang “dha’if jiddan”, namun dengan makna yang sama dengan lafadz yang berbeda ada juga yang menyebutnya “hasan”. Tulisan ini tidak ingin terjebak dalam polemik hukum hadits ini, dan lagi pula persoalan ini tidak termasuk dalam bab hukum, namun masuk dalam bab “fadha’il”, yang jumhur ulama’ tidak begitu tegas dalam memperdebatkan validitas sebuah hadits dalam bab fadha’il, bahkan jika dha’if sekalipun tidak begitu dipermasalahkan. Sebab berbuat baik kepada sesama manusia hukum asalnya memang dianjurkan baik dari nash Qur’an maupun nash hadits-hadits yang shahih.

Jika melihat kehidupan Ibnu Jud’an dan Hatim, dan melihat betapa banyaknya kontribusi yang telah diberikan untuk umat saat mereka hidup, maka yang muncul dalam benak adalah, adakah setelah dia meninggal dia akan mendapatkan “pahala”nya? Itulah yang menggelitik dalam benak ‘Aisyah RA dan ‘Adiy RA.

Rasulullah saw dalam hal ini tidak melihat Ibnu Jud’an sebagai kerabat ‘Aisyah istrinya yang sangat dicintainya atau Hatim sebagai ayah ‘Adiy sebagai sahabat dekatnya, sebab terkadang seseorang ada yang berbasa-basi demi menyenangkan orang-orang dekatnya, namun jawaban Nabi saw yang berdasarkan wahyu sangat tegas dan lugas.

Untuk perrtanyaan ‘Aisyah yang menanyakan adakah Ibnu Jud’an akan mendapatkan pahala dan kenikmatan akhirat?
قَالَ: “لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ”. (رواه مسلم).
Rasulullah menjawab: “Tidak akan bermanfaat untuknya, sesungguhnya dia sekalipun dalam hidupnya tak perrnah mengucapkan: “Tuhan, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan”. (HR. Muslim).

Dan untuk menjawab kegelisahan ‘Adiy bin Hatim, beliau menyatakan,
“إِنَّ أَبَاكَ أَرَادَ أَمْرًا فَأَدْرَكَهُ”.
“Sesungguhnya ayahmu menginginkan sesuatu, dan ia telah mendapatkannya”, maksud “sesuatu” dalam hadits tersbut adalah “sebutan orang”. (HR. Ahmad dalam musnadnya). Syaikh Syu’aib al-Arna’uth menyatakan riwayat ini shahih.

Di dalam Musnadnya Imam Ahmad juga menyebut jalur riwayat lain:
عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبِي كَانَ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيَفْعَلُ وَيَفْعَلُ، فَهَلْ لَهُ فِي ذَلِكَ يَعْنِي مِنْ أَجْرٍ؟ قَالَ: ” إِنَّ أَبَاكَ طَلَبَ أَمْرًا، فَأَصَابَهُ ”
Dari ‘Adiy bin Hatim berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku menyambung hubungan keluarga, banyak perbuatan baiknya, adakah beliau mendapatkan pahala dari perbuatannya itu?, Rasulullah saw menjawab: “Sesungghnya ayahmu ingin memperoleh sesuatu, dan ia telah mendapatkannya”. (HR Ahmad), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth menyatakan, hadits ini hasan.

Baik Hatim maupun Ibnu Jud’an, semua semua sepakat bahwa perilakuknya sangat humanis, semua sepakat bahwa perbuatan mereka sungguh mulia, namun urusan akhirat bukan urusan manusia, urusan pahala bukan urusan manusia, maka Nabi saw menyatakan bahwa perbuatan baik yang dilakukan orang kafir, saat di akhirat semuanya hampa.

Bukan hanya orang kafir, orang Islam yang telah bersyahadatain jika amalnya dihinggapi riya’, maka amalnya yang bercampur riya’ tersebut menjadi hampa.

Semuanya karena tujuan amal bukan untuk Allah, sedangkan pahala hanya dari Allah. Jika muslim yang bersyahadat ketika amalnya yang bercampur riya’ menjadi musnah pahala amal tersebut, lantas bagaimana dengan orang yang tidak percaya kepada Allah?, kemana niatnya ditujukan? bagaimana pula dengan orang yang menyekutukan Allah dengan total, bagaimana pula dengan orang atheis, mengharap surga dari siapa?

Berbuat baik dengan sesama dan menjauhi kedzaliman itu memang anjuran Islam, namun itu bukanlah inti pokok ajaran Islam, sebab seluruh agama mengajarkan hal itu, terutama ajaran agama samawi. Para rasul bukanlah diutus hanya untuk urusan akhlak, namun yang lebih utama dari itu adalah untuk mengembalikan posisi hamba sebagai hamba sejati, jangan sampai hamba menuhankan selainNya, dan jangan pula hamba menuhankan dirinya. Sebab terkadang seseorang terbebas dari menyembah ilah-ilah lain, namun dia ternyata sedang khusyu’ menyembah keinginan hawa nafsunya sendiri.

))أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا(( (الفرقان: 43)
“Tidakkah kamu tahu orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, apakah kamu akan menjadi penolongnya” (QS. Al-Furqan: 43). Menurut Ibnu Abbas, dahulu orang jahiliyah menyembah berhala berwarna putih, jika dia sudah tidak suka akan diganti dengan berhala lain yang lebih baik, demikian Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Saat orang jahiliyah menentukan sesembahan, yang menjadi referensi utamanya adalah nafsunya. Maka Allah sebut sebagai tuhan mereka. Jika pembaca ada waktu, lanjutkanlah membaca petikan ayat al-Furqan ini ke ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, maka semuanya akan jelas dan terang benderang bahwa Islam bukan hanya menumpukan pada akhlak dan budi pekerti semata. Nyata, bahwa amal tanpa bingkai keislaman di akhirat semuanya hanya bagai debu-debu yang beterbangan.

Segala puji bagi Allah, dan kasih tak terhingga kepada para rasul dan nabi yang telah menjalankan amanah dan tugasnya meskipun nyawa mereka menjadi taruhannya, untuk mengembalikan status manusia seluruh alam ini sebagai hamba sejati, mengigatkan mereka serta mengajak untuk menyembah Allah pencipta mereka. Semoga bahtera kesejahteraan melimpah ke atas mereka semua.

Dakwah untuk mengajak manusia kepada agama Islam adalah puncak kasih sayang, maka Rasulullah saw di daulat sebagai rasul yang mebawa rahmat untuk seluruh alam semesta. Agar jelas perbedaan status antara “Tuhan” dan “Hamba”, sebab pelanggaran status yang sakral ini dalam agama Islam tergolong sebagai kedzaliman yang extraordinary. Wallahu a’lam.

Kuala Lumpur, 19 Maret 2016.


Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: