ISFI online

Beranda » Uncategorized » Berdemo Dengan Menyemen Kaki

Berdemo Dengan Menyemen Kaki

Reportase Diskusi ISFI, 14 April 2017
By: Fadli and Aziz

Judul : “Demonstration in Light of Islamic Jurisprudence: A Response to Current Indonesian Political Culture”
Speaker : Ustadz Mudzakkir Muhsin Thaha

Seorang audien yang juga terkenal sebagai umrah provider, bertanya. “Ustadz, di kampung saya, ada seseorang yang ikut demo sambil menyemen kakinya sendiri hingga akhirnya mati?” Dengan singkat dan jelas, sang Ustadz membalas, “Janganlah kita menceburkan diri kita sendiri dalam kebinasaan (wala tulqu biaidikum ila al-tahlukah).”
***

Tepat selepas shalat Jumat, aku langsung melarikan diri ke ADM TR 7. Aku ingin segera mendengar apa sesungguhnya yang baru dalam diskusi ISFI perdana kali ini. Agak di luar dugaan memang, aku hanya menemukan seorang pelajar perempuan. Selebihnya, hanya bangku-bangku kayu-besi berserakan. Dua meja di depan yang diperuntukkan untuk presenter dan moderator sebenarnya jauh untuk disebut layak. Kusut. Kumal. AC pun ikut-ikutan. Terpaksa kubuka beberapa jendela untuk meruntuhkan bulir-bulir keringat. Lama. Dan benar, “pekerjaan yang sering kali membosankan adalah menunggu.”

“Jangan sedih kawan-kawan. Meski kita hanya berdelapan, dengan keadaan yang sederhana ini, tapi ingatlah; sejarah membuktikan bahwa setiap perjuangan pasti ada jurang dan bukitnya, pasti ada susah dan senangnya,” cetus sang moderator membuka Kajian Perdana ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia), Jumat (14/4) kemarin. Maka, lanjutnya memotivasi, “anggaplah diskusi yang pertama ini sebagai jurang yang tentu saja di lain hari anda akan sampai juga kepada bukitnya.”

“Hahaahah….…” gemuruh para audien sambil bertepuk tangan.

Diskusi kali ini mengambil tema yang sedang hangat-hangatnya di pentas perpolitikan Indonesia. Tentu kita semua sebagai orang Indonesia tidak asing dengan demonstrasi. Ia sudah menjadi salah satu ciri utama budaya perpolitikan Indonesia. Tanpa demonstrasi, berpolitik seakan tidak sah.

Tapi, karena kita orang Islam, wajar dong kalau kita ingin tahu; bagaimana sih sesungguhnya sikap Islam terhadap budaya demonstrasi tersebut? “Boleh ke tak?” kata orang Melayu. Ataukah ada syarat-syarat tertentu sehingga ia boleh dikatakan valid?

Menjadi aneh manakala kita menyebut diri seorang Muslim tapi malah memarginalkan Islam, menganggapnya pakain kebesaran yang simpan di almari pribadi sambil sesekali memakainya di saat acara-acara besar.

“Alhamdulillah wa al-shalat wa al-salam ala rasulillah…”. Sang pembicara Ustadz Muzakkir Muhsin Thaha memulai pendedahannya dalam bahasa Arab yang cukup panjang. Beberapa audien memang sudah familiar dengan bahasa yang digunakan. Tapi ada sebagian lain yang terlihat ‘roaming’ demi mencerna kata demi kita yang disampaikan.

Jadi; demonstrasi sendiri dalam bahasa Arab disebut sebagai mudzaharah, mu’awanah yang berarti membantu (to aid, to support). Hal ini ditunjukkan, sebagai contoh, dalam demonstrasi (dukungan) thala’a al-badru penduduk Madinah ketika menyambut Rasulullah Saw yang hijrah dari Makkah ke Madinah.

Meski demikian, seiring dengan perkembangan zaman, khususnya dalam konteks Indonesia, makna demonstrasi sendiri mengalami simplifikasi sehingga ia sering kali dikonotasikan dengan ‘menekan pemerintah untuk mengoalkan sebuah aspirasi’.

Terkait dengan menekan pemerintah, sebenarnya Islam sangat mewanti-wantinya. Disebutkan bahwa: man atha’a amiri faqad atha’ani wa man asha amiri faqad ashani. Pendeknya, barang siapa yang taat kepada pemimpinku maka ia telah taat kepada pemimpinku, dan barang siapa yang merongrong pemimpinku, maka ia sama saja mendurhakaiku.

Larangan ini jelas berbeda dengan budaya Negara-negara modern, baik yang liberalis maupun komunis-sosialis, di mana demonstrasi hampir ‘diwajibkan’ dalam rangka memperjuangkan pendapat, bahkan kalau perlu dengan mengorbankan nyawa sekalipun.
Merespon fenomena itu, maka para ulama membagi hukum demonstrasi ke dalam tiga bagian:

Tidak boleh: di antara penyokong pendapat ini adalah Syeikh Abudullah bin Baz dan mereka yang rata-rata berdomisili di Negara-negara yang berbentuk monarki. Dasar mereka adalah di antaranya:

Budaya demonstrasi lebih berasal dari Barat dan memang tidak ditemukan presedennya dalam sejarah Islam; karena itu bisa dikategorikan sebagai bid’ah.

Demonstrasi yang terjadi selama ini ternyata lebih banyak menimbulkan kemadharatan dari pada kemaslahatan yang dicita-citakannya. Contoh dari kemadharatan tersebut adalah orang saling menghujat, memfitnah, ikhtilath antara lelaki dan perempuan, menimbulkan kekacauan, dan lain sebagainya.

“Ustadz terus gimana dong demonstrasi 212 kemarin itu? Masak nggak boleh?” tanya seorang audien dalam hati.
Naahh..kalau itu dalam kategori kedua. Ada kelompok lain yang berpendapat membolehkan, di antaranya Syeikh Yusuf Qaradlawi. Betapa pun membolehkan, namun, beliau tetap menetapkan syarat-syarat, sebagai contoh: tidak ada ikhtilath, tidak ada yel-yel yang bertentangan dengan syariat, tidak ada cacian, tidak ada penumpahan darah.

Iklan

Berikan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Terpopuler

%d blogger menyukai ini: