ISFI online

Seminar: Politik Dalam Islam

Perspektif Sejarah dan FilosofisMei 1st, 2013

Semua Tulisan

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Blog Stats

  • 77,824 hits

free counters

ISFI in Glance

By : Putri Silaturahmi, Master Student of Human Sciences in Sociology and Antropology, IIUM

Based on the Development of Islamic Thought, Malaysia can still be considered as a good destination for those who wants to learn Contemporary Islamic Thought. Here in Malaysia, there’s two wings of Islamic thought which are lead by Al-Attas and Al-Faruqi. Both of them includes Islamisation of knowledge in their work. However, the way they elaborate the method of Islamisation need to be modify due to layman who are still not familiar with what it is meant by Islamisation.

According to the explanation above, many Indonesian scholars who’s studying in International Islamic University Malaysia have decided to elaborate more of their thoughts. They love to discuss with Al-Attas in his home. After the continuity of the discussion, the Scholars decided to establish Islamic Studies Forum For Indonesia (ISFI).

Moreover, the development of Islamic thought in Indonesia is dominant around South East Asia. For instance, Indonesian have M. Natsir, one of the Muslim leaders that initiated Islamisation in all aspects for seven years before the discourses of Islamisation if knowledge in Mecca in 1977 (The First World Conference on Muslim Education). We also have Nurcholish Madjid, the Youth Muslim leader  to advocate “renewal” and “rethinking” of Islamic thought. Though nowadays many people judge him as the father of Muslim liberalist but his contributions​ to develop Islamic thought in Indonesia is quite significant.

The background shown that Indonesian Muslim Intellectual is very dynamic in the development of Islamic thought. Many Indonesian students from Kuliyyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences believe that our discipline plays significant role for developing Quranic society in Indonesia.
Alhamdulillah, in March 13, 2017 ISFI was  reborn and now open for recruitment for those who are interested to join us! Hold our hand, let’s contribute for better Islamic civilisation!

ISFI, menyemai pemikir dan pemimpin bangsa.. Hari ini kita adalah keluarga esok kita torehkan sejarah!

 

ISFI 2017/2018 Main Board Open Recruitment

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Clik the following link for registration : https://goo.gl/forms/dBplIBajYNWowxgy2

ISFI main board recruitment poster

Berdemo Dengan Menyemen Kaki

Reportase Diskusi ISFI, 14 April 2017
By: Fadli and Aziz

Judul : “Demonstration in Light of Islamic Jurisprudence: A Response to Current Indonesian Political Culture”
Speaker : Ustadz Mudzakkir Muhsin Thaha

Seorang audien yang juga terkenal sebagai umrah provider, bertanya. “Ustadz, di kampung saya, ada seseorang yang ikut demo sambil menyemen kakinya sendiri hingga akhirnya mati?” Dengan singkat dan jelas, sang Ustadz membalas, “Janganlah kita menceburkan diri kita sendiri dalam kebinasaan (wala tulqu biaidikum ila al-tahlukah).”
***

Tepat selepas shalat Jumat, aku langsung melarikan diri ke ADM TR 7. Aku ingin segera mendengar apa sesungguhnya yang baru dalam diskusi ISFI perdana kali ini. Agak di luar dugaan memang, aku hanya menemukan seorang pelajar perempuan. Selebihnya, hanya bangku-bangku kayu-besi berserakan. Dua meja di depan yang diperuntukkan untuk presenter dan moderator sebenarnya jauh untuk disebut layak. Kusut. Kumal. AC pun ikut-ikutan. Terpaksa kubuka beberapa jendela untuk meruntuhkan bulir-bulir keringat. Lama. Dan benar, “pekerjaan yang sering kali membosankan adalah menunggu.”

“Jangan sedih kawan-kawan. Meski kita hanya berdelapan, dengan keadaan yang sederhana ini, tapi ingatlah; sejarah membuktikan bahwa setiap perjuangan pasti ada jurang dan bukitnya, pasti ada susah dan senangnya,” cetus sang moderator membuka Kajian Perdana ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia), Jumat (14/4) kemarin. Maka, lanjutnya memotivasi, “anggaplah diskusi yang pertama ini sebagai jurang yang tentu saja di lain hari anda akan sampai juga kepada bukitnya.”

“Hahaahah….…” gemuruh para audien sambil bertepuk tangan.

Diskusi kali ini mengambil tema yang sedang hangat-hangatnya di pentas perpolitikan Indonesia. Tentu kita semua sebagai orang Indonesia tidak asing dengan demonstrasi. Ia sudah menjadi salah satu ciri utama budaya perpolitikan Indonesia. Tanpa demonstrasi, berpolitik seakan tidak sah.

Tapi, karena kita orang Islam, wajar dong kalau kita ingin tahu; bagaimana sih sesungguhnya sikap Islam terhadap budaya demonstrasi tersebut? “Boleh ke tak?” kata orang Melayu. Ataukah ada syarat-syarat tertentu sehingga ia boleh dikatakan valid?

Menjadi aneh manakala kita menyebut diri seorang Muslim tapi malah memarginalkan Islam, menganggapnya pakain kebesaran yang simpan di almari pribadi sambil sesekali memakainya di saat acara-acara besar.

“Alhamdulillah wa al-shalat wa al-salam ala rasulillah…”. Sang pembicara Ustadz Muzakkir Muhsin Thaha memulai pendedahannya dalam bahasa Arab yang cukup panjang. Beberapa audien memang sudah familiar dengan bahasa yang digunakan. Tapi ada sebagian lain yang terlihat ‘roaming’ demi mencerna kata demi kita yang disampaikan.

Jadi; demonstrasi sendiri dalam bahasa Arab disebut sebagai mudzaharah, mu’awanah yang berarti membantu (to aid, to support). Hal ini ditunjukkan, sebagai contoh, dalam demonstrasi (dukungan) thala’a al-badru penduduk Madinah ketika menyambut Rasulullah Saw yang hijrah dari Makkah ke Madinah.

Meski demikian, seiring dengan perkembangan zaman, khususnya dalam konteks Indonesia, makna demonstrasi sendiri mengalami simplifikasi sehingga ia sering kali dikonotasikan dengan ‘menekan pemerintah untuk mengoalkan sebuah aspirasi’.

Terkait dengan menekan pemerintah, sebenarnya Islam sangat mewanti-wantinya. Disebutkan bahwa: man atha’a amiri faqad atha’ani wa man asha amiri faqad ashani. Pendeknya, barang siapa yang taat kepada pemimpinku maka ia telah taat kepada pemimpinku, dan barang siapa yang merongrong pemimpinku, maka ia sama saja mendurhakaiku.

Larangan ini jelas berbeda dengan budaya Negara-negara modern, baik yang liberalis maupun komunis-sosialis, di mana demonstrasi hampir ‘diwajibkan’ dalam rangka memperjuangkan pendapat, bahkan kalau perlu dengan mengorbankan nyawa sekalipun.
Merespon fenomena itu, maka para ulama membagi hukum demonstrasi ke dalam tiga bagian:

Tidak boleh: di antara penyokong pendapat ini adalah Syeikh Abudullah bin Baz dan mereka yang rata-rata berdomisili di Negara-negara yang berbentuk monarki. Dasar mereka adalah di antaranya:

Budaya demonstrasi lebih berasal dari Barat dan memang tidak ditemukan presedennya dalam sejarah Islam; karena itu bisa dikategorikan sebagai bid’ah.

Demonstrasi yang terjadi selama ini ternyata lebih banyak menimbulkan kemadharatan dari pada kemaslahatan yang dicita-citakannya. Contoh dari kemadharatan tersebut adalah orang saling menghujat, memfitnah, ikhtilath antara lelaki dan perempuan, menimbulkan kekacauan, dan lain sebagainya.

“Ustadz terus gimana dong demonstrasi 212 kemarin itu? Masak nggak boleh?” tanya seorang audien dalam hati.
Naahh..kalau itu dalam kategori kedua. Ada kelompok lain yang berpendapat membolehkan, di antaranya Syeikh Yusuf Qaradlawi. Betapa pun membolehkan, namun, beliau tetap menetapkan syarat-syarat, sebagai contoh: tidak ada ikhtilath, tidak ada yel-yel yang bertentangan dengan syariat, tidak ada cacian, tidak ada penumpahan darah.

Pemimpin Non Muslim Dalam Pandangan Ulama

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif

Akhir-akhir ini sering muncul pertanyaan di masyarakat mengenai boleh tidaknya umat Islam mendukung calon bupati, walikota, atau gubernur non-Muslim. Silang pendapat antara kelompok yang berbeda kepentingan pun terjadi. Yang melarang berpegang pada ayat al-Qur’an surat al-Māʾidah ayat 51 (“Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali-mu”) dan surat an-Nisāʾ ayat 144 (“Janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai wali-wali, seraya meninggalkan orang-orang beriman”). Sementara yang membolehkan tak mau kalah. Tafsir aṭ-Ṭabarī dan Ibn Katsīr dirujuk lantas menyimpulkan kata “awliyāʾ” dalam ayat di atas artinya bukan pemimpin, tetapi sekutu atau aliansi, sehingga yang dilarang itu bersekutu dan beraliansi dengan orang kafir, bukan mengangkat mereka sebagai pemimpin. Namun, benarkah begitu? (lebih…)

Tanpa Islam Semuanya Hampa

Oleh: Dr. Muntaha

Suatu hari Aisyah RA gundah saat memikirkan salah satu kerabatnya, salah satu tokoh Quraisy keturunan bani Tamim bin Murrah, ‘Aisyah RA selalu mengenang betapa mulianya beliau ini, betapa tidak, tatapan mukanya yang begitu meneduhkan, uluran tangan belas kasihnya telah membuat hati siapapun akan tertaut mencintainya, orang-orang yang tak berpunya senantiasa berduyun-duyun datang demi mendapatkan orang yang akan kegelisahan dan keperitan hidupnya, yang kelaparan akan datang berbondong untuk menghilangkan haus dan dahaganya menemui tokoh besar ini, dialah Abdullah bin Jud’an, seorang tokoh Quraisy yang sangat dermawan dan berbudi yang sangat luhur, menjadi kebanggaan bani Tamim tak terkecuali Aisyah RA pun kagum dengan budi baiknya.

Al-Imam an-Nawawi di dalam bukunya al-Minhaj, (lebih…)

Ilmuwan: Penyebaran dan Gerakan Syiah Berbahaya Bagi Indonesia

wafi hidaHidayatullah.com—Aliran Syiah masuk ke berbagai belahan dunia dengan menggunakan beberapa strategi.  Strategi itu terfokus pada penguasaan tiga asas utama yang ada pada setiap negara, yaitu militer, ilmu pengetahuan (ulama dan intelektual), serta ekonomi (pemilik modal).

Demikian disampaikan Assoc. Prof. Dr. Kamaluddin Marjuni dalam dialog ilmiah tentang Syiah di kampus International Islamic University Malaysia (IIUM) hari Sabtu, 14 Maret 2015.

Acara yang digagas Islamic Studies Forum for Indonesia (ISFI) dengan mengangkat tema “Syiah: Apa, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana?” itu juga menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Syamsuddin Arif. (lebih…)

Nasionalisme Bagian Integral dari Islam

307174_273135359368376_6772012_nKeluarga Mahasiswa Nahdatul Ulama (KMNU) Malaysia bekerjasama dengan Islamic Studies Forum for Indonesia (ISFI) di Malaysia menggelar diskusi bertema “The Role of Islam in Shaping the Idea of Indonesia.” Kajian dwimingguan tersebut dihelat di International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur, Ahad (20/12) malam. (lebih…)

Top Posts

Juli 2017
S S R K J S M
« Apr    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31